Hellbent

Hellbent
Bab 26: Show-off


__ADS_3

Ava kali ini diantar menuju atap, selain si kapten dua prajurit lain juga mengikutinya. Ia melihat ke bawah, seekor monster dengan agresif menggaruk tembok dengan cakar panjang. Kepalanya besar berbentuk seperti hiu beserta barisan gigi runcing, tetapi badannya yang tegap, telanjang, dan berpijak pada dua kaki yang persis layaknya manusia. Melihatnya saja Ava merasa jijik. Dunia fantasi ini semakin gelap semakin lama ia berada di sini. Manusia hiu itu adalah manifestasi hasil eksperimen ilmuwan gila jika saja ini bergenre science fiction.


"Baiklah, percobaan pertama akan saya lakukan."


Tanpa menunggu lama, Ava melemparkan bola biusnya tepat di hidung monster yang bergerak-gerak liar. Belum setengah menit berlalu, manusia hiu tersebut gerakannya melambat, semakin tenang, hingga akhirnya ambruk pingsan. Meskipun badan monster itu melebihi tiga meter, levelnya masih 22, sedikit lebih kuat dari Roy si penakut, begitu juga level monster-monster lain yang sejauh ini ia lihat di sekitar pelabuhan.


"Kalian masih bisa menyerang mereka, tapi hanya dengan senjata jarak jauh saja, karena bau darah pada akhirnya akan mengundang monster lain ke lokasi kalian jika terjadi pertarungan jarak dekat, dalam sekejap malah kalian akan terkepung, pertarungan jarak dekat juga beresiko senjata makan tuan. Sharktooth juga harus kembali ke air setelah 20 menit, jadi kalaupun kalian tidak bisa membunuh mereka, ulur saja waktu hingga mereka mundur dengan sendirinya."


Si kapten pelan-pelan mengangguk setuju, masih takjub dengan dampak instan yang disebabkan oleh bola di genggaman Ava.


Melihat pemimpin yang sudah pasti tertarik, Ava pun tersenyum secara profesional, "250 koin per bola. Stok yang ada tinggal 50."


"200 koin per bola, lalu kami akan membeli 35 biji," tawar laki-laki berkumis tersebut.


"Senang berbisnis dengan Anda." Ava menjulurkan tangan, mereka pun berjabatan.


Dengan begitu, uangnya membengkak di inventori.


***


Dengan bantuan alatnya, pertarungan yang mengaret hingga satu jam akhirnya dimenangkan oleh pihak kota. Untung saja. Jika tidak maka perjalanannya ke Crimsonwood akan mundur entah beberapa bulan.


Si kapten sangat ahli dalam strategi dan mengatur prajuritnya. Pria itu menyuruh bawahannya untuk memancing setidaknya lima sampai enam monster sekaligus dengan daging mentah, kemudian melemparkan bola bius Ava, setelah semuanya pingsan serangan panah menghujani tubuh lemas manusia-manusia hiu tersebut, dengan strategi itu setengah dari jumlah monster terbunuh. Sehingga ketika gelombang kedua terjadi, para prajurit dalam posisi bertahan masih memiliki stok untuk melawan.


Kemenangan mereka terdengar dari sorakan yang bahkan bisa orang lain dengar di balai kota yang disulap menjadi pengungsian darurat bagi warga yang terlambat pergi atau terluka.

__ADS_1


Semuanya menarik napas lega, ada yang menangis bahagia dan bersujud, langsung bersyukur pada dewa.


Ava tidak menyangka akan mendapat bungkukan hormat dari si kapten beserta para prajuritnya, karena dalam perspektif mereka seharusnya Ava hanyalah seorang pedagang di tengah-tengah krisis, bukan penyelamat, meskipun faktanya benar jika bola bius Ava sangat membantu dalam pertarungan kali ini.


Kelompoknya juga mendapat perlakuan yang sama. Bahkan terdapat anak-anak beserta orang tua mereka berusaha mengelus bulu abu-abu Lig di samping River yang tersenyum lebar.


Akhir yang indah memang.


Meskipun begitu, keberangkatannya ditunda seminggu lagi karena ternyata terdapat kerusakan karena serangan manusia hiu pada kapal.


Ava hanya menyayangkan hal itu.


Selena di matanya masih dalam sisi netral, cenderung hijau malah.


Namun ia masih terjebak bersama si pangeran dan pelayannya. Sial.


***


Selena memandang lekat-lekat iris emas Ezra, dibingkai dengan alis serta bulu mata pirang yang tidak kalah indah, membuat wajah tampan yang menitiskan kebangsawanan tidak bisa ditutupi oleh pakaian jerami sekalipun.


Dia lalu memandangi dua orang yang mengapit Ezra, Roy dan Al. Roy dengan wajah awet mudanya memancarkan kesan imut meskipun laki-laki itu lebih tinggi dari mereka semua. Berbanding terbalik dengan Al yang hobinya diam, walau Selena yakin umur Al dua kali lipat darinya, keriput-keriput yang ada hanya menegaskan kedewasaannya yang dingin dan tidak tersentuh.


Namun favoritnya dari kelompok ini ada River, yang menarik perhatiannya saat pertama kali bertemu adalah tiga bekas luka cakar yang ada di pipi pria ramah itu. Badannya meskipun besar dan tinggi, tidak setinggi Roy tentu saja, River mempunyai suara yang halus, penuh dengan senyum, serta serasa menyebarkan kebahagiannya ke orang-orang sekitar jika ia tertawa. Terlebih jika River bersama Rina.


Awalnya, Selena kira mereka berdua adalah adik dan kakak meskipun wajah mereka tidak ada mirip-miripnya, namun ternyata setelah ditanya kebersamaan Rina dan River cuma tiga minggu lamanya.

__ADS_1


Rina ... gadis berambut hitam pendek dengan manik mata yang sama-sama gelapnya. Kebanyakan waktu, Rina memasang wajah manis yang diiringi dengan senyum kecil yang mengangkat pipi putihnya. Selain itu, dengar-dengar gadis itu berperan besar dalam penyelamatan kota sore kemarin. River bahkan tidak lelah memuji kecerdasan Rina setiap setengah jam sekali, terlihat lebih bangga daripada Rina sendiri.


"Apa eksperimenmu kemarin sudah berhasil?" River pasti menanyakan kejadian beberapa hari yang lalu, ketika ia langsung berlari ke atas setelah mendengar ledakan, hanya untuk menemukan Rina yang berdiri di tengah kamar berasap hitam dengan wajah yang nampak lebih kesal terhadap omelan River daripada suasana kelam ruangannya.


"Bisa dikatakan begitu, tapi aku masih belum memastikan efeknya." Ava menegak jus apelnya, menolak keras mendekati alkohol meskipun Roy terbata-bata ingin mentraktirnya.


"Oh!" River berseru semangat, Selena kira pria itu tipe yang kalem, ternyata tidak begitu juga. "Apakah akan sebagus bola bius yang kemarin?"


Pada titik ini semua menyimak khidmat pembicaraan mereka, termasuk pengunjung-pengunjung restauran yang sedang mereka singgahi. Tidak heran, mereka berenam dikenal sebagai figur yang membantu kelancaran pengungsian kemarin bahkan sebelum prajurit kota sempat bertindak.


Karena posisinya, Selena dapat mengintip seringai yang disembunyikan di balik gelas kayu yang diangkat Rina. "Jauh lebih baik. Kalau ramuan ini bekerja seperti yang dihipotesiskan, dunia akan tergoncang!"


Selena hanya bisa mendengarkan dengan tertegun. Apa sebaik itu? Atau Rina hanya melebih-lebihkan?


Apapun itu, keambisiusan yang ditunjukkan oleh Rina terasa asing bagi dirinya.


Selena yang awalnya lahir dari sepasang suami-istri petani biasa, tiba-tiba ditarik oleh pihak gereja karena status tambahannya yang berupa kekuatan suci. Belasan tahun terkurung di sana ia diajarkan untuk tidak serakah, tidak menuntut, dan tidak membantah, selalu bersikap rendah hati. Jalankan saja apapun perintah yang ada. Karena perintah mereka sama saja dengan perintah dewa, katanya.


Namun semakin dewasa Selena semakin tidak tahan dengan perilaku mereka. Apakah memang dewa memerintahkan untuk hanya menyembuhkan orang-orang berkoin? Mengabaikan hamba yang tidak memberikan donasi kepada gereja? Menyewakan nyawa seorang pelayan dewa karena beberapa keping emas, bukan karena dorongan hati yang mulia?


Bukannya Selena tidak mengerti konsep penting artinya uang, tapi ... ia hanya merasa muak terhadap diskriminasi yang secara lantang ia lihat sehari-hari.


Kabur adalah pilihan yang terbaik.


Lagipula, perjalanan ini memberikannya pemandangan yang tidak bisa ia tonton di gereja.

__ADS_1


Pemandangan orang-orang rupawan.


Ia bersyukur dipertemukan dengan Ava.


__ADS_2