Hellbent

Hellbent
Bab 78: Tes Kejujuran


__ADS_3

"Apa?!"


Kenapa orang-orang selalu bereaksi kuat saat Ava memberitahukan mereka kalau dia tidak memiliki mana?


Dia pikir wajar saja kan, 2 dari 10 status jendela yang ia observasi tidak mendapatkan tambahan poin untuk mana. Selain itu, dari yang ia baca, mana adalah hasil dari manifestasi bakat serta pendidikan dini. Jadi akan ada juga orang yang meskipun memiliki talenta, tidak mendapatkan keberuntungan untuk menikmati ajaran mengenai mana.


Dan kisah seperti itulah yang akan Ava jual jika Ellijah bertanya lebih lanjut.


"Sama sekali?" pria itu masih tidak percaya meskipun dari artifak yang ia bawa jawabannya sudah jelas.


"Kalaupun ada, saya tidak bisa mengeluarkannya walaupun tetap berusaha."


Tidak, dia pasti bohong.


Eve, meskipun masih mengaku bukan, pasti dengan sengaja mengunci arus mananya agar tidak terdeteksi bola kristal tersebut.


Tunangannya adalah seorang alkemis jenius, menyegel alur mana tidak akan susah jika dia memang berniat.


"Bukankah kehidupan sehari-hari akan menjadi lebih tidak praktis, mengingat hampir semua alat yang ada menggunakan mana sebagai bahan energi?"


Yah, Ellijah tidak salah.


Dalam awal petualangannya, saat ia baru saja dijatuhkan dari langit, Ava harus terus meminta bantuan dari River ketika ingin menyalakan kompor saat memasak, pasalnya kompor yang pria itu miliki menggunakan batu mana dengan atribut api, jadi pemantiknya sendiri adalah mana. Begitu juga barang-barang lain yang esensial dalam perjalanan mereka. Karena itulah Ava selektif dalam membeli item, alat yang ramah digunakan untuk orang tanpa mana masih sedikit. "Saya pintar memilih."


Ruangan yang mereka tempati tidak memiliki jendela, tapi Ava yakin matahari sudah jauh tenggelam saat ini, mengingat insiden tadi usai ketika senja. Dan ia masih belum makan semenjak sarapan pagi, perutnya terancam berbunyi jika ia menunggu lebih lama lagi, bertarung membuatnya lapar.


"Saya bersedia dites sekali lagi jika Anda masih belum yakin," Ava memandangi wajah muram Duke Frost tersebut, pria yang sarat dengan keyakinan yang salah, "Tapi kalau tidak, saya ingin segera pergi dari sini."


Raut yang sejatinya sudah suram, kian menggelap. "Jangan beranjak satu langkah pun sebelum aku selesai denganmu."


Ava menahan diri untuk tidak memutar mata. Dimana pria yang baru saja berlutut memohon padanya? Ava lebih menyukai laki-laki yang submisif daripada tukang perintah seperti dia.


Dan benar saja, perut Ava menggerung pelan, meskipun begitu suaranya tertangkap oleh pria yang sedari tadi mencermatinya.


"Tuug." Panggilan dari tuannya tidak luput dari pendengaran pelayan setianya, pintu ruangan tersebut terayun terbuka, menampakkan seorang pria tua yang seluruh rambutnya sudah berubah abu-abu. "Iya, Tuan?"

__ADS_1


"Sajikan teh dan makanan ringan untuk tamu kita."


"Baik, Tuan."


Tamu? Ava mencela pemilihan kata yang tidak sesuai dengan kondisinya, ia lebih mirip seperti tawanan.


Ellijah kemudian melangkah lebar ke salah satu meja di sudut kamar, membuka laci yang ada, mengeluarkan sebuah cincin yang pernah Ava lihat.


"Aku sebenarnya tidak mau dengan sengaja melukaimu, tapi ini adalah cara yang paling ampuh."


... Tunggu dulu?


Melukai?


Ava tahu kalau efek ketika berbohong saat menggunakan artifak itu adalah kejutan listrik, tapi ia menyangka tidak akan terlalu sakit mengingat konteks pemakaian pada beberapa malam yang lalu adalah sebuah permainan.


Namun jika Ellijah seserius itu, apakah Ava salah berasumsi?


... Diingat-ingat lagi, tidak ada orang yang terkena hukuman karena berbohong ketika Truth or Dare kemarin, jadi dia belum tahu seberapa parah efek yang ada.


Tidak, asalkan dia tidak berbohong, Ava akan aman-aman saja.


Dia juga pintar berkata-kata sehingga kalimatnya akan dinilai benar meskipun secara substansial salah.


Benar, dia akan baik-baik saja.


Ava menadahkan telapaknya, tapi Ellijah lebih memilih untuk memasangkan cincin tersebut secara langsung di jari manis tangan kirinya.


... Simbolik sekali.


Apapun itu, Ava langsung berkata, "Nama saya bukan Eve Weinhamer," karena dia sendiri tahu kalau apa yang ia katakan benar.


Tidak ada reaksi.


"Lihat, kan, Tuan. Saya bukan orang yang Anda cari."

__ADS_1


Beberapa detik tanpa respon, Ava mendapati Ellijah menyorotinya dengan tajam. Apa lagi?


"Aku tidak pernah memberitahumu nama lengkap Eve."


Oh, sial.


Ava keceplosan.


Belum, ia masih bisa menyelamatkan situasi ini.


"Sejujurnya, Anda bukan orang pertama yang menyangka kalau saya adalah wanita bernama Eve ini."


Ellijah diam, menutupi dagu dan bibirnya dengan tangan yang tertaut, pandangannya kian menusuk dengan kecurigaan yang semakin melimpah.


"Lalu ketika saya bertanya siapa Eve ini, orang tersebut menjelaskan."


Meskipun begitu tidak ada tanda-tanda bahwa efek kejut listrik telah terjadi, artinya gadis yang duduk di depannya masih berkata jujur.


"Jadi saya sudah tahu kalau nama lengkap tuan putri Edodale adalah Eve Weinhamer."


Pertemuan menyebalkan yang terjadi antara Ava dan Rai menjadi kisah penyelamatnya untuk segera lepas dari Duke Frost ini.


"Kau sudah tahu siapa sebenarnya aku berarti?"


Ava sadar kalau Ellijah belum mengenalkan dirinya secara resmi, tapi dia sudah tahu identitasnya dari skill observasi yang ia miliki. Dan untuk segera selesai diinterogasi tanpa terdeteksi kebohongannya, Ava harus sedikit mengarahkan implikasi yang akan diterima pria itu. "Saya tahu kalau Tuan adalah orang dengan status tinggi, penjaga elit Anda banyak." Secara teknis Ava lolos, tanpa setruman sekali lagi. "Apakah Tuan ialah tunangan Putri Eve yang ada dari rumor?" Ava berganti yang bertanya, bukan sesuatu yang bisa dinilai kejujurannya meskipun dia sudah tahu jawabannya, ini hanyalah distraksi atau setidaknya menambah modalnya dalam berbohong.


"Aku tidak pernah menghamili siapapun!" Ellijah jelas-jelas membantah dengan kuat. Ide untuk menyentuh tubuh wanita lain yang bukan Eve bahkan tidak pernah ada di pikirannya, jadi dia sempat takjub ada kabar bohong yang sebodoh itu. Hanya saja, kabar bohong bodoh itulah yang menuntun hubungannya dengan Eve hingga nyaris terputus seperti sekarang.


"Putri Marquess itulah yang menyebarkan rumor konyol tersebut hanya karena aku pernah mengantarnya ke balkon saat ia mabuk di pesta dansa," Ellijah lanjut membela diri. Rasanya perlu menjelaskan ketidakbersalahannya ketika ia dihadapkan dengan wajah wanita yang selalu membuatnya luluh, entah gadis itu memang Eve yang berpura-pura atau bukan.


"Jadi Tuan memenggal putri Marquess tersebut?"


"Benar, karena kejahatan wanita itu tidak hanya sampai di situ saja. Ia juga sempat menghina Eve, putri kebanggaan kerajaan Edodale di hadapan publik hanya untuk mencari simpati ketika kabar kehamilan bohongnya sedang populer. Keluarga kerajaan juga setuju, sehingga pihak Marquess pun dicap sebagai pemberontak, hanya saja putri tunggal mereka yang dipenggal."


Sebuah plot drama politik yang menarik.

__ADS_1


Namun itu artinya, berhubungan lebih jauh dengan Duke Frost atau siapapun dari royalti Edodale hanya akan membuat kompleks situasinya.


__ADS_2