Hellbent

Hellbent
Bab 142: Attention


__ADS_3

Mungkin Ellijah sudah sadar sebelumnya, hanya saja ia menolak ide tersebut.


Eve memang masih saja beropini tangguh, selalu menganggap kalau apa yang ia bicarakan selalu benar, karena itulah memunculkan sifat keras kepala. Gadis itu juga tidak merepotkan diri dengan omong kosong dari orang lain. Meskipun banyak bangsawan yang secara tidak langsung mendesak sang putri untuk aktif memperebutkan takhta, Eve masih lebih memilih fokus terhadap artifak apa yang ingin ia buat, meninggalkan Pangeran Marvin bertarung sendirian dengan ego kolosal milik Raja Dion yang tidak sudi menunjuk pewaris, terlalu takut semisal kekuatan pangeran mahkota yang ia tunjuk akan melampaui kekuasaannya.


Kalau dirangkai dengan kalimat positif, Eve hanya hidup untuk dirinya sendiri. Namun apabila dinilai secara objektif, dia apatis dan individualistik.


Akan tetapi, semenjak insiden kaburnya sang putri--benar, Ellijah masih tidak percaya kalau Eve memang diutus untuk menjelajah--Eve kembali ke istana dengan perubahan yang tidak kentara.


Eve terkadang-kadang bertingkah protektif.


Saat mereka terlibat dalam aksi pengeboman di ibukota, punggung Ellijah terbakar. Akan tetapi karena atribut es yang ia warisi membuat suhu badannya secara alami dingin, ditambah dengan ketahanan tubuhnya yang semakin meningkat seiring dengan tinggi level, luka bakar yang mengenainya tidak sakit sedikitpun. Meskipun begitu, dia tidak akan lupa sikap lembut yang Eve tunjukkan setelah melihat punggungnya yang matang dan merah.


Kemudian ketika rapat darurat, Ellijah sedikit terheran sewaktu sang putri membantu adiknya berargumen dalam mengatasi para bangsawan yang cerewet tanpa alasan. Apalagi saat raja memerintahkannya untuk membuat sebuah artifak. Biasanya Eve hanya akan mengiyakan tanpa betul-betul berniat, tahu benar kalau sang raja hanya membuat performa otoritas untuk dilihat orang lain. Tapi kali ini Eve benar-benar mengikuti perintah dengan tekun. Apakah Eve memang berniat menciptakan item untuk menyelesaikan insiden tersebut?


Yang membuat Ellijah paling kaget tentu saja kejadian minggu lalu, yang melibatkan beastman kecil. Bukan pemandangan yang aneh ketika diskriminasi terhadap ras minoritas terjadi secara terang-terangan, akan tetapi itulah kali pertamanya Ellijah mendengar Eve menaikkan oktaf suaranya karena marah. Sebab pendidikan tata krama kalangan atas, apalagi royal, berisikan cara berperilaku serta berbicara dengan elegan, tidak menggunakan emosi. Jadi meskipun dia dan sang putri sering berargumen dengan kata-kata tajam, kosa kata serta ucapan mereka masih terbilang anggun akibat pembelajaran etika yang tertanam sejak kecil. Dan putri kerajaan itu melepaskan kemarahannya secara terbuka hanya karena anak kecil yang didorong?


Terakhir, berkaitan dengan si naga cilik. Kalau memang dia bukanlah anak simpanan seperti yang Eve klaim, artinya bocah tersebut berstatus sebagai orang asing di mata mereka. Namun Eve bahkan tidak menyembunyikan rasa khawatirnya saat serangan monster tadi malam, segera menuju tempat si naga bertarung dengan tergesa-gesa. Jadi, Siwon benar anak dari Eve dan seorang naga dewasa? Membayangkannya saja membuat Ellijah ingin menenggelamkan pulau itu.


Di antara peristiwa tersebut, dia menarik satu poin. Eve bersimpati kepada pihak yang lemah. Orang lemah, yakni yang terluka, tertindas, masuk dalam minoritas, ataupun anak kecil.


Dengan kata lain, Eve sekarang memiliki kelemahan, kelemahan yang bisa dia manfaatkan.


Untuk menguji asumsinya, Ellijah mengeluarkan pedangnya. Syut! Sayatan lebar dari siku hingga pergelangan tangannya mengucurkan darah dengan deras. Pedangnya kembali ke inventori.


Secara langsung, Ellijah dapat melihat Eve seketika menghentikan langkahnya. Gadis itu nampak mengendus udara, saat berbalik kedua matanya melebar, Ellijah segera dihampiri. "Ap-- Bukankah kau dari tadi di belakangku? Darimana luka ini berasal?" Rose dengan sigap memberikan ramuan penyembuh beserta sapu tangan ketika sang putri menadahkan tangannya. Sekejap, kulit Ellijah tertutup tanpa bekas karena obat yang mujarab. Namun Eve masih belum selesai dengan kebingungannya, "Apakah ada monster yang senjata utamanya kecepatan? Atau yang tidak terlihat?"


"Aku hanya tergores ranting pohon."

__ADS_1


Eve jelas-jelas meragukannya. Wajar saja, sebab luka yang tadi ia miliki terlalu dalam untuk dikategorikan sebagai goresan. Pada akhirnya, sang putri tidak bertanya lebih jauh, tapi ia diberi peringatan, "Kalau begitu hati-hati, tidak akan ada gunanya memiliki penjaga apabila dia terluka."


Eve kemudian memerintahkan mereka untuk melanjutkan perjalanan, membalikkan badan Siwon yang masih saja melirik Ellijah penasaran. Lagu yang dari tadi mereka nyanyikan berlanjut.


Ah, benar. Eve memiliki ketertarikan dengan musik sekarang. Dipikir-pikir lagi, ia menemukan tunangannya yang kabur itu karena gambar bergerak yang ditangkap oleh seorang count di kapal yang kebetulan mereka tumpangi bersama. Eve juga bisa memasak, kemampuan yang tidak akan ia duga dari seorang putri yang selalu dikelilingi oleh pelayan.


Apakah selama 4 bulan gadis itu menghilang, Eve bisa berubah sedrastis itu?


...


Omong-omong, percobaannya berhasil, tapi Ellijah masih belum yakin. Jadi, ia harus mencobanya lagi nanti.


Sedikit terluka sebagai balasan perhatian dari Eve, ternyata boleh juga.


Gadis itu tidak tahu kalau atensi cerobohnya memunculkan hobi yang berbahaya bagi Ellijah.


Ellijah tiba-tiba saja terluka, tapi pria tersebut tidak berniat mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi. Malu? Egonya terluka? Apapun itu, Ava memasang sikap was-was sepanjang sisa perjalanan, menaikkan status poin indranya ke 80% agar berhasil mendeteksi bahaya lebih awal. Untung saja, setelah Siwon terlepas dari kebosanan dan monster kupu-kupu tidak lagi bisa mendistraksinya, mereka pada akhirnya sampai di sebuah danau.


... Di sini?


... Apakah Ava lagi-lagi salah paham? Ia menahan diri untuk tidak memijat jembatan hidungnya.


Tidak, tidak mungkin. Siwon dengan jelas berkata "kantor mama", dan dari budaya atau etnis manapun Ava tidak melihat sebuah danau didefinisikan sebagai kantor. "Di sini?" Ava bertanya untuk memastikan.


"Benar!" Naga cilik itu kemudian turun, meneliti tanah dengan seksama. Setelah beberapa saat, suara Siwon dapat terdengar riang, "Ah, kethemu!"


Klik! Metal dengan metal bertemu, mirip seperti bunyi kunci pada pintu.

__ADS_1


Guoong! Mendadak daratan yang mereka pijaki gemetar, gempa kecil membuat riak pada permukaan danau, air meluap hingga membasahi jemari kaki mereka. Bersamaan dengan itu, tabung kaca besar muncul dari dalam danau, makin lama semakin dekat dengan tempat mereka berdiri. Pintu bening tabung tersebut terbuka seiring bunyi "ces!" serta uap hangat.


... Bukankah mekanisme seperti ini terlihat lebih modern? Ini dunia fantasi, bukan sci-fi, kan?


Omong-omong, jika pintu masuknya saja semegah itu, bukankah lab ini menjadi masalah yang lebih besar dari yang Ava kira? Meskipun sejak awal Ava tahu kalau Eve menamai lokasi ini sebagai "lab rahasia", dia pikir bentuknya seperti bunker dalam tanah, tua tapi kokoh, dengan pintu besi tebal sebagai penghalangnya, mengingat dia tidak diberi kunci oleh Eve.


Jadi keputusannya untuk menjadikan Siwon sebagai penunjuk jalan benar? Karena kalau tidak, Ava tidak akan bisa menemukan cara untuk memunculkan tabung yang sepertinya berfungsi sebagai lift tersebut.


Omong-omong, kalau Eve melabelinya dengan "rahasia", pintu masuk yang ada seharusnya lebih sunyi, bukan? Tidak disertai dengan gempa yang bisa didengar dari kejauhan seperti tadi.


...


Hm, bukan urusannya.


Ava tanpa ragu masuk ke dalam tabung terbuka di hadapannya, Rose dan Ellijah mengikuti.


"Oh, kalhian sudhah shiap!" Siwon yang terakhir naik. Dan seperti bayangannya, tabung tersebut memang dijadikan sebagai lift.


Namun yang Ava gagal antisipasi adalah kecepatan benda itu.


Setelah Siwon menekan tombol-tombol yang muncul sebelah pintu, mereka melaju secepat angin. Ava bahkan terjengkang ke belakang, menimpa Ellijah yang membantali kejatuhannya. Tidak hanya itu, pemberhentian mereka juga tiba-tiba, posisi mereka langsung terbalik, kedua tangan Ellijah mengurung badan Ava saat keduanya jatuh ke depan. Diteruskan ketika tabung turun, gravitasi yang hilang dengan tiba-tiba membuat tubuh mereka melayang. Akhirnya saat sampai pada titik tujuan, tiga orang terbentur lantai dingin tabung kaca tersebut. Untungnya, Ellijah sempat memeluk Ava sebelum mereka digampar gravitasi, mencegah munculnya memar baru. Hanya Siwon yang sepertinya tidak sadar bahaya lift yang mereka naiki.


Jantung Ava masih berdetak keras, napasnya juga terburu-buru. Ia menjilat bibirnya yang kering.


Wah, brutal sekali tadi.


Eve seharusnya memasang sabuk pengaman atau semacamnya.

__ADS_1


__ADS_2