
Dengan keributan yang sudah dibuat oleh Chris pada hari pertama di kota ini, Ezra dan yang lainnya tidak mungkin menghindari perhatian berlebih dari masyarakat sekitar, terutama walikotanya.
"Suatu kehormatan pangeran pertama dan ketiga dari kerajaan Igoceolon mau menerima ajakan makan malam dari saya." Jaffaz, pria berkulit coklat dengan jenggot dagu yang dikepang rapi, walikota Conwa, menyambut keduanya pada kediaman sederhananya. Ezra yang didampingi oleh Al menyalami tangan Jaffaz yang terulur padanya, dia sengaja meninggalkan Roy dan Selena untuk membiarkan mereka berjalan-jalan. Sedangkan Chris yang membawa hingga 5 prajurit terbaiknya, entah hanya untuk pamer atau dia memang mencurigai si walikota, benar-benar menghiraukan jabatan pria di hadapannya, lebih sibuk memperhatikan interior rumah tersebut. Perilaku Chris jelas dianggap tidak sopan. Ezra pun menawarkan permintaan maaf melalui senyum pahitnya, yang langsung dipahami oleh Jaffaz.
Dengan ini poin Ezra bisa bertambah. Penghitungan skor Maturite ditimbang berdasarkan faktor-faktor seperti seberapa besar masalah yang diselesaikan, kontribusi dari kandidat, serta saksi mata dari pihak yang berkaitan. Dan jika ia terlihat lebih baik dalam bersikap di hadapan walikota ini, kesaksian Jaffaz berkemungkinan besar berpihak padanya.
Mereka kemudian digiring menuju meja makan berbentuk lingkaran, artinya tidak ada pengaturan posisi duduk menyesuaikan status, kursi-kursi yang ada bebas dipilih. Dan Chris nampak tidak suka dengan hal tersebut, dia menarik tempat duduknya dengan kasar dan duduk duluan sebelum dipersilahkan oleh tuan rumah.
Alis Jaffaz kali ini menukik, mulai kesal, setelah itu mengisyaratkan Ezra untuk duduk. Al dan para prajurit yang dibawa Chris berdiri masing-masing di belakang kursi tuan yang mereka layani.
Makanan pembuka dihidangkan, "Mari kita panjatkan syukur kepada--" Akan tetapi Chris sudah melahap roti isi dagingnya meskipun Jaffaz baru ingin memulai doa, kini pemilik rumah dengan sengaja menggeleng-gelengkan kepala.
Ezra hanya bersorak dalam hati.
***
Makan malam yang sarat akan kecanggungan, yang semuanya disebabkan oleh Chris seorang, akhirnya selesai. Saatnya membicarakan bisnis.
"Seperti yang kalian tahu, sebagian besar kota di Berloi mengalami kekeringan saat ini, hujan sudah hampir tidak terlihat dalam dua bulan terakhir," Jaffaz membuka.
"Kami perwakilan dari Igoceolon mengungkapkan perasaan prihatin terhadap bencana ini," Ezra mengeluarkan bela sungkawa, kali ini bukan ucapan palsu. Dia mengakui kalau tujuan utamanya ke sini untuk mendapatkan skor dalam permainan tahta, akan tetapi setelah melihat keadaan penduduk dari jalan yang ia lewati, rasa empatinya sebagai manusia terusik dengan anak kecil yang kurus kering berlarian, ibu hamil tergeletak lemas, dan bapak-bapak yang bersimbah keringat meskipun bibir mereka pucat dan pecah.
__ADS_1
"Tenang saja! Masalah kekeringan ini akan segera teratasi!" Chris mendadak berkicau semangat. "Aku sudah membawa enam belas mage air untuk menciptakan sumber mata air!" Seperti yang Ezra duga, membawa mage air memang cara yang efektif untuk segera menangani masalah ini, namun di sisi lain ... kekurangan efisiensi. Dengan kekuatan belasan mage air memang bisa segera membuat danau artifisial yang dipenuhi apa yang mereka sebut sumber kehidupan tersebut. Namun harga sewa mereka tinggi, jadi membutuhkan dana yang besar untuk merekrut mereka. Selain itu, cara ini hanyalah solusi sementara, karena setelah air yang dibuat dengan mana dan skill habis, kekeringan akan terjadi lagi, jadi kota Conwa harus membuat kontrak dengan Chris atau langsung ke Guild Nielsen agar volume air yang ada dapat dipertahankan. Artinya, pengeluaran secara terus-menerus. Boros.
Sepertinya hanya Chris yang tidak menyadari sisi buruk dari rencananya, karena Jaffaz juga terlihat ragu untuk mengangguki hal tersebut.
"Kalau saya memiliki rencana yang lain, Tuan Jaffaz."
Si walikota langsung berfokus pada Ezra, dalam matanya terpancar harapan kalau pangeran ketiga, pangeran yang sejauh ini bersikap pantas daripada pangeran pertama, memiliki ide yang lebih baik.
"Saya menawarkan artifak ini." Sebuah ... ranting pohon?
Jaffaz hampir saja kecewa, kalau saja bukan karena seruan takjub dari salah satu prajurit yang menjaga si pangeran pertama. "Tongkat Temboloe?!"
Temboloe. Nama yang familiar, sangat-sangat familiar.
Temboloe memiliki sejarah yang sudah dibukukan, artifak yang sangat terkenal karena kelas legendarisnya.
Dalam legenda, dinyatakan apabila tongkat tersebut ditancapkan dalam tanah, sumber air akan muncul dari lubang tersebut secara terus-menerus. Seorang iblis pernah menggunakannya sebagai mainan untuk membanjiri kota-kota guna menciptakan kekacauan.
Jadi berbeda dengan danau artifisial dari mage air, Temboloe akan menciptakan danau secara alami hanya dengan satu kali tancap.
"Anda sepertinya lupa, tapi ratu kedua adalah keturunan dari keluarga ranker yang ikut berjuang pada masa pemberontakan jaman Tenebris, ketika tujuh iblis dosa besar menyerang lebih dari 600 tahun yang lalu."
__ADS_1
666 tahun yang lalu lebih tepatnya.
"Banyak artifak peninggalan yang dijadikan sebagai warisan turun-temurun, dan ini adalah salah satunya."
"Hei, peraturannya berkata kalau kita tidak boleh mendapatkan bantuan dari pihak keluarga kerajaan!" Chris menyela, tidak terima.
Benar-benar contoh sempurna dari idiom "maling teriak maling". Orang yang mengkritik tidak sadar kalau mereka berdua sama buruknya.
Namun Ezra sudah menyiapkan dalih, "Saya mendapatkan ini sebagai hadiah ulang tahun, sehari sebelum upacara Maturite dimulai. Dengan kata lain, saya hanya menggunakan properti pribadi."
Ezra sudah menyiapkan perjalanannya dari jauh-jauh hari. Menabung koin, mengumpulkan artifak, menaikkan level skill-nya untuk mencari orang bertalenta, berlatih untuk bertarung, berburu, hingga membaca hampir semua buku di perpustakaan royal untuk mendapatkan informasi penting. Tapi Chris tidak pernah tahu, karena dirinya sudah dibutakan oleh arogansi.
Si pangeran pertama tidak bisa membantah argumen masuk akal tersebut, tapi marahnya tidak begitu saja menghilang. Sorotannya sudah seperti laser, panas di kulit Ezra.
Jaffaz merasa tidak boleh ikut campur dalam pertarungan tahta dari Igoceolon yang sering ia dengar, tapi solusi yang ditawarkan pangeran kedua secara gamblang lebih baik bagi kesejahteraan penduduk, keseimbangan ekonomi, serta kemerdekaan kotanya.
Jika berhasil, satu kali pembayaran besar yang disertai dengan rasa syukur berkepanjangan lebih baik daripada pembayaran kecil berulangkali dan kepatuhan.
Jaffaz sendiri dapat membayangkan jika ia membuat kontrak dengan pangeran pertama yang tidak tahu sopan santun itu. Hubungan mereka tidak akan seimbang, kota Conwa akan mengalami ketergantungan, dalam posisi yang membutuhkan ia juga tidak bisa menolak apapun yang Chris minta jika sewaktu-waktu pangeran pertama memutuskan untuk menaikkan harga atau mengambil sesuatu dari pihaknya. Lama-kelamaan mereka hanya akan menjadi budak. Dan Conwa yang menjadi penguji pertama dari solusi para pangeran Igoceolon ini, kota-kota lain akan mengikuti jejaknya, jadi Jaffaz harus bijak memilih, karena keputusannya bahkan dapat menentukan nasib Berloi ke depannya.
Pilihannya bulat.
__ADS_1
Lebih baik menggunakan tongkat Temboloe.