Hellbent

Hellbent
Bab 65: SemPurrrna


__ADS_3

Terkenal menjadi kota bebas, Oranera dihuni oleh berbagai spesies non-human yang berlalu lalang secara bebas di jalan. Ava melihat manusia kerdil berotot di tempat pandai besi yang sangat direkomendasikan orang-orang sekitar, bangsa Dwarf. Toko obat, bunga, dan produk dari alam lain juga diperjual-belikan oleh bangsa Elf bertelinga runcing. Para beastman juga dengan bangga menunjukkan sebagian karakteristik hewan mereka seperti ekor, telinga, tangan, bahkan sekujur tubuh yang berbulu dalam menjalani tugas mereka sebagai tentara bayaran.


Walaupun begitu, Ava tidak bisa mengatakan kalau hidup di sini akan dibilang harmonis. Karena setiap kelompok akan terus berkumpul dengan spesies mereka masing-masing membentuk kotak pergaulan, enggan berbaur dengan kelompok lain di luar kotak tersebut.


Dan sekarang, masalah yang awalnya tidak terlalu mencolok itu, kini semakin kentara dengan adanya pemilihan umum di Oranera. Karena kandidat tahun ini adalah seorang Dwarf, Elf rupawan, dan beastman harimau, tanpa adanya calon berspesies manusia. Jadi setiap ras akan memilih pemimpin yang sesuai dengan spesies mereka, dengan kata lain voting dipengaruhi oleh pilihan para penduduk manusia.


Karena itu juga, setiap manusia yang berbelanja di toko-toko, saat ini dihadiahi dengan banyak diskon.


"Nona boleh mengambil teh ini secara gratis," ucap elf cantik yang menjual tanaman herbal kepada Ava.


"Wah, nona bisa membawa satu pisau sebagai bonus." Lagi-lagi barang gratisan ketika Ava memperbarui senjatanya di pandai besi seorang Dwarf.


"Potongan harga 80% jika Nona menggunakan layanan kami!" Pria dengan ekor hitam panjang berbulu menawari penjagaan untuk berkeliling, tapi Ava tidak butuh jadi dia menolak.


Keadaan yang menguntungkan baginya, sehingga setiap kali ia ditanya, "Pilihan Nona apa untuk pemilihan minggu depan?" Ava tidak akan memberitahukan kalau dia tidak memiliki hak suara, ataupun tanpa saudara dan kenalan yang bisa dibujuk untuk memilih, gadis itu pun menjawab secara ambigu, "Saya masih belum tahu." River hanya harus tetap tutup mulut selama periode tersebut, untung saja pria itu mengerti, selain itu dia juga menyukai barang gratis.


Masalah mereka hanya tersisa satu, tempat menginap.


Cukup jauh masuk ke dalam kota, Ava memandang papan bertuliskan "Penginapan SemPurrrna" dengan skeptis sekaligus harap-harap cemas.


Dan ketika pintu terbuka, "Selamat datang di Penginapan SemPurrrna! Apa ada yang bisa saya bantu?" Perempuan seumuran Ava dengan kumis kucing dan tangan bercakar serta berbulu menyambut mereka. SemPurrrna, tentu saja itu adalah permainan kata. Belasan pasang mata beastman di sana melihat Ava dan River dengan tertarik.


"Apakah ada kamar yang kosong di sini?" Gadis di hadapannya langsung memasang ekspresi sungkan, matanya melirik ke kanan ataupun ke kiri, mengobservasi pengunjung yang lain.


Sepertinya Ava menginjakkan kakinya di penginapan eksklusif bagi para beastman.

__ADS_1


"Kalau tidak ada, kami akan pergi--"


"Oh, Kak Rina!" Cicitan familiar terdengar dari salah satu sisi lobi. Dengan langkah ringan, Lorah mengelilingi mereka dengan senang. River sendiri berjongkok lalu manadahkan tangan, Lorah menepuk telapak pria itu, lalu dalam sekejap salam rahasia yang entah dari kapan mereka ciptakan diakhiri dengan keduanya yang saling memeletkan lidah.


Wow, Ava takjub sendiri.


"Sudah sore begini kalian masih belum menemukan penginapan?" Dom, seperti biasa, bertanya dengan nada mengejek.


"Kalau sudah aku tidak akan bertanya, bukan?" Ava membalas sarkastik. Untuk sesaat, Ava dan Dom beradu pandang, tidak ingin kalah dengan memalingkan wajah terlebih dahulu.


"Eh, bukankah kamar di sebelah kita masih kosong? Kakak kan bisa menginap di situ!" Lorah dengan polosnya berseru.


Ini penginapan eksklusif, jadi meskipun ada kamar yang kosong Ava tidak akan diijinkan menginap di sana. Namun saat ia menoleh ke perempuan kucing tadi, menghiraukan Dom yang menyoraki kemenangan kekanak-kanakannya, raut cerah dengan mata berbinar yang Ava tangkap. "Kalian saling mengenal?"


Sudah berjam-jam dirinya dan River sibuk mencari penginapan, jadi ketika Ava melihat celah yang bisa ia manfaatkan, dia langsung menggunakannya, "Kami teman sekamar di kapal yang tadi pagi berlabuh."


"Kalau begitu, Tuan dan Nona dapat menyewa kamar yang tersisa dalam penginapan ini. Mari ikuti saya!" Setelah mendapatkan kunci, Ava dan River dituntun menuju lantai tiga di kamar paling pojok. "Bulan ini memang banyak sekali turis, jadi banyak penginapan yang penuh. Sehingga meskipun penginapan ini merupakan penginapan khusus untuk ras beastman, asalkan kalian mendapatkan jaminan identitas dari salah satu ras kami, pintu masih akan terbuka bagi kalian. Baiklah, selamat menikmati masa tinggal di Penginapan SemPurrrna!"


Dom ada gunanya juga.


***


Berbeda ketika mereka berada di kapal, Dom dan Lorah masuk secara sempurna dalam pergaulan di sana. Kemarin, pasangan kakak-beradik itu terlihat sekali menjauh dari orang-orang di sekitar mereka, hanya mau berbicara dengan Ava, River, ataupun Ib. Sama sekali tidak berniat membangun pertemanan dengan para penumpang yang lain. Namun kini, Dom sudah terbahak-bahak lima menit penuh dengan kelompok barunya, tentara bayaran yang semua anggotanya merupakan beastman. Selain itu, Lorah juga tidak lagi menempel pada River untuk mengajak pria itu bermain, gadis cilik tersebut pun sudah memiliki teman sebayanya, bermain boneka dan memasak di halaman belakang penginapan.


Tidak hanya itu saja, mungkin terseret arus perasaan di kota bebas tersebut, River untuk pertama kalinya melatih monster panggilannya di ruang terbuka.

__ADS_1


"Ya ampun, lucu sekali!" Si perempuan kucing, anak pemilik penginapan, Wendy, bersikap antusias ketika melihat Ako melompat-lompati ranting yang dipakai sebagai rintangan oleh River.


Tidak ada pandangan mengadili, jijik, ataupun takut.


Kota ini nampak sekali memiliki pikiran yang lebih terbuka daripada negara asalnya.


Motto dari Oranera adalah bebas dan teratur. Artinya, siapapun bebas melakukan hal yang ingin dia lakukan asalkan tidak menganggu orang lain ataupun melanggar hukum yang berlaku.


Artinya di sini, mengkritik individu yang menjalani hidupnya yang merdeka hanya akan mengundang pandangan sinis untuk dirinya sendiri.


Hal ini tentu saja tidak masalah bagi orang seperti Ava dan River, namun individu yang berpikiran sempit dan suka ikut campur urusan orang lain akan sulit beradaptasi di kota Oranera.


"Siapa juga yang mau tinggal di penginapan berbau kandang ini!"


Berhari-hari diam tanpa membuat masalah setelah insiden "pemfitnahan" yang membuat dia menjadi bahan olokan setiap meja di restoran kapal, si kakek merak ternyata belum berubah juga.


Dengan tongkat baru, yang terbuat dari kayu biasa, Woodrow berteriak kesal tepat di depan wajah Wendy. Ava baru sadar kalau kakek itu selalu berjarak terlalu dekat ketika marah, mungkin karena mata rabun akibat usia tua, yang juga memperpendek sumbu kesabarannya.


Mendapati masalah seperti Ava, Woodrow tidak dapat menyewa penginapan karena penuh, meskipun ia menawarkan dua kali harga normal untuk menendang salah satu penghuni kamar yang lebih dulu menyewa, tidak sadar kalau sikap tidak sopannya lah yang membawa petaka.


"Kamar kami sudah penuh," akhirnya Bob, ayah Wendy, pemilik restoran membalas dingin dan gagah, langsung membuat si kakek merak buru-buru melarikan diri. Meskipun Ava sudah tahu kalau Bob berasal dari suku kucing, badannya yang besar membuat pria itu lebih mirip seperti macan.


Namun tentu saja, hal terakhir yang Woodrow lantangkan tidak akan diterima baik bagi para penghuni di penginapan ini. "Hewan seperti kalian harusnya berada di kandang!"


Usia tua tidak datang bersamaan dengan kreativitas, hinaannya masih sama dengan hari-hari yang lalu.

__ADS_1


"Sebenarnya apa masalah orang itu!" Reaksi Dom tentu menjadi yang paling kasar dari meja mereka, namun kini banyak geraman lain yang mendukung kekesalannya.


__ADS_2