
Dia assassin, hah?
Ava sudah lama tahu kalau pelayan tua itu bukanlah pelayan biasa, hanya saja kini ia dapat memastikan kelasnya. Skill observasinya naik lagi.
Nama : Alladore Collado
Ras : Manusia
Level : 55
Koin : 9234562
Kekuatan : 16
Kecepatan : 16
Kelentukan : 21
Skill : Sneak attack (V) (17 menit 45 detik)
Setiap serangan yang berhasil dilakukan saat skill ini aktif akan otomatis mengarah pada titik vital.
Pembunuhan secara diam-diam. Benar-benar memenuhi syarat untuk menjadi assassin. Cooldown yang baru saja berjalan menandakan pemakaian yang belum lama ini. Keparat itu berniat menyerangnya, bukan?
Tapi dari obrolan mereka, Ava menangkap kalau Al tidak setuju dengan tindakan Ezra yang masih kekeuh mengejarnya. Jadi, poin plus.
Imbang.
Al langsung pergi setelah menyampaikan kecurigaannya, meninggalkan Ava di tepi tebing bersama dengan kerlap-kerlip bintang dan bulan yang di kelilingi cincin hijau.
Omong-omong soal itu, cincin bulan di atas adalah pertanda sirkulasi mana. Ketika berwarna ungu, dikatakan mana pada malam itu memiliki intensitas tertinggi, matang, dan murni. Akan tetapi semakin lama mana yang ada di udara sedikit demi sedikit mati ataupun menghilang karena melebihi batasan "umur" mereka, saat itulah bulan baru dengan cincin merah muncul, titik terendah dimana mana-mana yang tua terhapus eksistensinya.
__ADS_1
Ava sendiri tidak memiliki mana, jadi dia tidak terpengaruh dengan sirkulasi tersebut. Akan tetapi fakta seperti inilah yang mengingatkannya kalau dunia ini bergenre fantasi baginya. Selain itu, hal ini bisa dijadikan strategi ketika melawan seseorang yang mengandalkan skill bermana.
Ava mengeluarkan smartphone dari ransel yang dibawa oleh kudanya, ia masih belum tahu alasan semua barang yang ia bawa dari dimensi lain tidak bisa dimasukkan ke inventori. Baterainya tinggal belasan persen, tiga hari tanpa dinyalakan pun telepon pintarnya akan mati. Walaupun ia membawa charger, konsep tenaga listrik masih asing di sini. Namun sepertinya ada item yang bisa menggantikannya, batu mana yang berisi sihir petir. Ava pernah melihat artifak yang menggunakan item tersebut sebagai sumber tenaganya. Bukankah kalau begitu batu mana petir itu sama saja dengan baterai? Tentu Ava memerlukan beberapa modifikasi, tapi jika rencananya berhasil, ia akan mendapatkan power bank untuk handphone-nya.
Pertama-tama, ia harus membeli batu mana listrik. Meskipun dua kali lebih mahal meskipun ukurannya lebih kecil daripada batu mana yang biasa ia jual, item itu sudah tersedia di toko [System].
Selanjutnya, pandai besi untuk membuat desainnya.
Sisanya, Ava yang akan menjadi montir listrik bagi dirinya sendiri.
***
Keesokan harinya bala bantuan dari kerajaan datang. Seperti yang diduga, Ezra dan para pelayannya menghilang.
Meskipun monster hiu kemarin berhasil dipukul mundur, masalah outbreak yang ada masih belum selesai. Prajurit kerajaan mencari-cari sisa monster yang kabur, membantu pembangunan kembali kota yang rusak, serta memastikan kalau sumber petaka dari semua ini, gate di bawah lautan, diberantas. Outbreak tidak menyebabkan gate tersebut menghilang, sistem menganggap gate tersebut terlalu sulit diatasi oleh level ketentuannya, karena itulah batas level untuk masuk akan dinaikkan. Jadi tetap harus ada pemberantasan agar tidak terjadi gelombang outbreak yang lebih kuat dari sebelumnya.
Kapal militer berangkat dari pelabuhan siang harinya, menginvestigasi gate di bawah air tersebut. Ava hanya melihat secara pasif dari jendela kamar penginapannya.
Saat itulah River mengetuk pintu kamarnya, seperti biasa mengajaknya makan siang bersama. Ava keluar, turun dari tangga, River langsung mengambil arah ke meja yang ditempati Selena sendirian.
"Ah, iya! Priest dengan skill menyembuhkan sepertimu pasti akan dibutuhkan dimana-mana," River juga menambahkan.
Untuk sesaat gerakan wanita itu terjeda, matanya sibuk melihat kemanapun selain dua pasang yang mengamatinya. "Anu, meskipun tidak ada batasan level minimal, levelku terlalu rendah. Jadi untuk alasan keselamatan, aku menolak."
Ava yakin ada alasan lain yang mendasari penolakan tersebut, tapi Ava masih belum bisa menebak dengan pasti.
Skill yang dimiliki oleh Selena sangatlah berharga, jadi hampir semua individu yang mendapatkannya telah diklaim oleh gereja atau dikontrak oleh guild besar. Jadi sangatlah aneh jika ia menemukan seorang priest dengan talenta penyembuhan dari kekuatan suci tidak memiliki afiliasi dan berjalan mandiri seperti Selena.
Kecuali ....
Jika ia kabur dari sesuatu.
__ADS_1
Gerak-gerik Selena saat berada di luar ruangan seratus persen seperti orang yang bersembunyi, wanita itu selalu sibuk membetulkan tudung yang menutupi rambut peraknya, seolah ia takut akan ada orang yang mengenalinya.
Hmm.
Dengan begini, kumpulan mereka penuh rahasia bukannya?
Ava yang menyembunyikan identitasnya sebagai makhluk dari dimensi lain. Ezra, pangeran yang menyamar dalam perjalanan Maturite-nya. Al dan Roy, keluarga assassin berkedok pelayanan. Lalu, Selena seorang priest yang kabur dari asalnya.
Oh, hanya River yang tidak benar-benar menutupi jati dirinya sebagai penjinak monster meskipun pria itu khawatir tiap kali memanggil Lig ataupun Ako, takut dicela oleh orang yang melihatnya.
Makanan mereka datang. Ava menghabiskan jus apelnya berbarengan dengan Roy yang mendadak masuk, kemudian duduk di sampingnya dengan bersungut-sungut. Mungkin pria itu ditinggal oleh si pelayan tua dan pangerannya?
Ezra sudah terlalu banyak melancarkan usaha interogasi terselubung untuknya, karena itulah saat ini adalah pembalasan.
"Ada apa?" Ava bertanya, terdengar simpatis.
Roy melihat tiga orang di depannya dengan mata menyipit, badannya maju, yang lain pun serentak mengikuti gerak-geriknya. "Aku dibuang."
"Dibuang? Kenapa?" Ava butuh lebih banyak informasi dari itu.
"Kalian tau para prajurit kerajaan merekrut orang yang ingin mengikuti penaklukan gate, bukan? Hanya aku yang tidak boleh ikut."
"Bukankah kau sebenarnya tidak mau ikut?" Ava membalas. Roy yang mendengarnya kelagapan, tidak menyangka niatannya terungkap begitu saja. "Be-benar. Lebih baik mengirimkan orang berlevel yang lebih tinggi dariku untuk menghadapi monster-monster mengerikan itu. Tapi! Mereka tidak perlu mengusirku karena levelku yang rendah!"
Masalah Roy tidak hanya ada di level, sifatnya yang penakut juga berkontribusi. Ava paham perspektif Ezra jika ingin meninggalkan pelayannya yang satu ini.
"Memangnya apa yang mereka katakan tepatnya?" Selena ikut menimbrung.
""Kau masih lemah, mati saja sana! Pergi!" begitu kata mereka!"
Ava tidak dapat membayangkan Ezra, yang setiap perilaku dan perkataannya terkalkulasi dan memancarkan kebangsawanan, mengeluarkan kalimat seperti itu. Ia juga tidak percaya Al, yang kebanyakan hanya diam dan mengeluarkan dua atau tiga kata saja jika memang diperlukan, menaikkan suaranya seperti yang diperagakan Roy. Kemungkinan besar laki-laki itu sedang kesal, dan emosinya menutupi akal sehatnya. Kalau tidak, bagaimana bisa ia membeberkan keretakan hubungan mereka di depan Ava, target tangkapan pangeran yang dilayaninya?
__ADS_1
"Kasar sekali," Ava pun menyetujui, membiarkan Roy membenarkan tindakannya saat ini, membuatnya lengah. "Sisi baiknya, kau tidak perlu bertarung."
Dengan mendukung Roy saat ini, Ava menanamkan bibit manipulasinya.