
Apabila Hensel dan Gretel meninggalkan jejak dengan remahan kue, Lorah dan Ako tanpa sengaja menunjukkan lokasi mereka melalui bercak darah yang menodai lantai. Dalam sudut hatinya yang bergetar, Ava berusaha menenangkan diri, mencari penjelasan rasional yang mendukung keselamatan keduanya.
Darah ini berasal dari luka Ako sebelumnya yang masih belum diobati.
Setidaknya, mereka hanya terluka, dilihat dari darah yang jumlahnya tidak begitu banyak.
Benar, mereka pasti masih hidup.
Ava menyusuri koridor secepat angin, mengikuti noda merah yang membawanya ke lantai atas. Mereka kabur sampai sejauh ini? Kenapa? Mengingat Dom, River, Ava, dan Ib menunjukkan belasan tempat persembunyian lain yang tidak jauh dari posisi awal mereka.
... Mereka dikejar.
Kini Ava berharap bahwa kesimpulannya hanyalah hasil dari paranoia, kecemasan dan adrenalin yang memacu otak, bukan hipotesis berlogika, sehingga ia mengambil kemungkinan terburuk dari situasi yang tidak baik ini.
... Namun level dari monster-monster yang ia lihat setidaknya lima kali lipat dari level Lorah.
Tidak, jika ada penyerangan pasti ada bekas yang tertinggal, karena setiap kali banderhobbs menyerang lantai kapal setidaknya retak karena kayunya yang sudah tua, ditambah lagi berat katak penuh dengan lemak serta lendir itu tidaklah enteng.
... Tapi bagaimana jika yang mengejar mereka bukanlah banderhobbs, melainkan monster lain?
Bukan, jika ada monster jenis lain mereka pasti sudah melihatnya dari tadi.
... Apakah jejak yang Ava ikuti ini bahkan berasal dari Ako ataupun Lorah? Astaga! Jangan-jangan mereka--
Berhenti! Ava harus berhenti berpikir yang tidak-tidak.
Lorah dan Ako butuh bantuannya, dia tidak boleh terlambat.
Ava pun menambahkan poin ke status kecepatan, melonjakkannya hingga berjumlah 21. Akibatnya, setiap kali berbelok Ava nyaris tergelincir karena belum terbiasa dengan lajunya yang tidak familiar, lantai yang basah juga tidak membantu. Salah satu kerugian perubahan yang tidak wajar, dia tidak memiliki waktu untuk beradaptasi.
Brak! Brak! Brak!
Ava secara insting berhenti, jatuh menyedihkan dalam usahanya mengerem. Untungnya suara gedoran yang menggelora menutupi pekikan gadis itu.
Brak! Brak!
Semakin keras, siapapun yang memukul pintu tersebut pasti menghantamkan serta seluruh tubuh mereka.
Kabar buruk, noda darah yang Ava ikuti mengarah pada keributan itu. Ketika ia mengintip dari balik tembok, mengandalkan mata yang lebih jernih dari biasanya, Ava melihat jejak yang berhenti tepat di depan pintu yang digedor dahsyat itu. Dan ... seekor banderhobbs raksasalah yang selama ini dengan heboh mengetuk pintu, tidak cocok dengan lorong yang terlihat sempit menampung tubuh besarnya.
Brak!
Wrebek!
Ras : Banderhobbs
Level : 84
__ADS_1
HP : 6534/6700
Abnormalitas : Berdarah (HP berkurang 1 poin tiap detiknya)
Sialan, level 80?! HP yang ada juga masih hampir penuh.
Artinya Ava sebaiknya menyerang di daerah-daerah yang vital, dari jarak jauh, dan diam-diam demi keselamatan dirinya sendiri.
Ia mengeluarkan pistol dari selipan celananya. Ava tidak akan mengambil resiko bertarung dengan monster itu, lebih baik kehilangan beberapa peluru daripada ditelan katak, setidaknya lawan Ava kali ini cuma satu, jika beruntung ia hanya akan menghabiskan satu peluru.
Awan yang menghalangi cahaya bulan tiba-tiba menyingkir, menyediakan gadis tersebut dengan pemandangan jelas kepala targetnya, seolah alam melihat dan membantu perjuangannya dalam bertahan hidup.
Ava nyaris tersenyum sinis dengan pemikirannya sendiri.
Syut!
Proyektil timah tertanam dalam kepala lembek raksasa itu ..., tapi si monster katak belum juga tumbang.
Ava mengutuk kesialannya. Kepala daging yang dipenuhi lemak katak gendut itu ternyata berguna untuk membantali tembakan peluru.
Tapi banderhobbs besar tersebut menjerit keras, kesakitan. Apa yang ia lakukan pastilah masih mengikis banyak HP yang dimiliki si amfibi.
HP : 3134/6700
3000 poin lebih, jika saja monster itu lebih kurus atau dia membawa senjata lain seperti sniper rifle ke dunia fantasi ini, peluru pasti sudah menembus otak kosong katak sialan tersebut.
Perlahan badan raksasanya berbalik diikuti dengan dentuman yang hampir seperti gempa, perut hijau yang bergelambir bergetar tiap langkahnya. Bentuk monster itu membuat Ava jijik hanya dengan melihatnya.
Dia ingin makhluk memuakkan tersebut agar cepat mati.
Jadi sebelum tubuh besar yang memenuhi lorong itu tenggelam dalam bayangan, Ava menembakkan lagi dua pelurunya.
Dor! Dor!
Darah menyembur dari pipi berlendir katak itu.
Sayangnya satu peluru hanya bisa mengenai dinding. Ava tidak tau cara kerja skill ajaib di dimensi ini, tapi ia mengakui betapa mengesankannya banderhobbs yang setidaknya lebih tinggi dari 5 meter sepenuhnya melebur antara kegelapan, dengan sempurna bersembunyi.
HP : 135/6700
Nyaris.
Namun dengan badan yang berdarah-darah, cepat atau lambat monster amfibi itu akan mati meskipun dibiarkan. Masalahnya, kini Ava yang rawan terhadap bahaya, satu serangan sembunyi-sembunyi saja bisa mengancam nyawa.
Dimana katak menjijikkan itu?
Lumut.
__ADS_1
Lapuk kayu.
Air busuk dan anyir darah. Di san--
Wus!
Lidah panjang terjulur menyerang, berusaha menangkap pinggang Ava, namun gadis itu berhasil berguling menghindar.
Lantai atas kapal sunyi tanpa suara, hanya Ava yang mendengar debaran jantung yang seolah di tenggorokannya. Si banderhobbs berpindah.
Dimana lagi dia?
Ia mencium angin laut dan lendir amis.
Di belakang!
"Akh!"
Sayangnya kali ini, tangan besar berselaput lebih dulu menyambar tubuhnya.
Dada Ava sesak, terjepit di antara telapak kasar yang berniat mematahkan tulangnya. Ia berontak, membuat monster itu mengeratkan genggaman. Untuk ukuran makhluk yang telah menumpahkan terlampau banyak darah, kekuatannya masih saja besar mengingat level yang tinggi. Dalam sekejap, nyeri hebat melandanya, tulang rusuk Ava patah. Pasti.
Mata Ava berputar, pusing. Setiap bagian tubuhnya berdenyut-denyut, seolah berteriak kalau ia tidak segera lepas, keadaan akan berubah kritis.
Ava menggigit keras kulit berlendir yang melingkupinya, sepenuhnya mengabaikan bau amis nan anyir yang menusuk hidung, beserta rasa asam dan pahit yang memenuhi mulutnya. Gadis itu tetap berusaha mengoyak daging monster yang lancang mengancam nyawanya.
HP : 43/6700
Mereka berbalap waktu. Apakah tubuh Ava akan hancur terlebih dahulu sebelum katak bajingan ini kehilangan semua HP-nya?
Tiba-tiba, ia mendengar sebuah lolongan yang diikuti oleh dengkuran keras.
Satu oktaf lebih tinggi, banderhobbs lawannya menjerit kesakitan. Bulu abu-abu mengintip dari balik tubuh raksasa yang mulai terungkap. Lig! Kucing besar kuning bertotol juga mencakar punggung katak tersebut. Dom?
Barisan gigi tajam kedua hewan itu dengan ganas mengiris kulit monster yang berusaha menyingkirkan mereka dari tubuhnya yang bergelambir. Namun sayang, badan besar juga berarti area yang lebih luas untuk menyerang. Setiap kali Lig ataupun cheetah itu terjatuh, mereka melompat lagi untuk mengganggu banderhobbs itu.
Hingga akhirnya, si amfibi raksasa tersebut jatuh terkulai bersama debuman keras. Darah bercampur lendir licin membentuk kolam busuk dari tubuh besar yang kulitnya dipenuhi luka.
Ava terlepas, namun ia masih belum bisa bergerak.
"Rina!"
"Kakak!"
"Oy!"
Kesadaran gadis itu terlepas, menyambut kegelapan.
__ADS_1