Hellbent

Hellbent
Bab 73: Buas dan Liar


__ADS_3

Kalau hanya dilihat dari level, River pasti yang akan menang. Namun set skill kedua orang itu sangat berbeda, jadi determinannya juga berubah. River sebagai penjinak monster bergantung besar pada keahlian peliharaan-peliharaanya, di sisi lain Dom akan mengandalkan karakteristik hewannya untuk mengalahkan lawan, yang harus diwaspadai dari cheetah adalah kecepatan serta kelincahan mereka.


Nama : River Doyle


Ras : Manusia


Level : 46


Koin : 591653


Kekuatan : 10


Kecepatan : 10


Kelentukan : 9


Mana : 17


Skill : Taming (IV)


Nama : Domasa Acinonyx


Ras : Beastman Cheetah


Level : 40


Koin : 75837


Kekuatan : 7


Kecepatan : 13


Kelentukan : 11


Stamina : 9

__ADS_1


Skill : Dash (II)


Keduanya mengalami kenaikan level, mungkin karena insiden banderhobbs kemarin yang menyebabkan mereka bertarung hingga mengalahkan beberapa ekor katak berlevel 20-an.


"[Summon: Lig]." Lingkaran bercahaya muncul di tanah, River langsung mengeluarkan serigala abu-abu andalannya. Iron wolf yang kini berlevel 32 itu melolong panjang, ekor tebalnya berkibas-kibas semangat.


"[Transformation]!" Dom berjongkok rendah, tangan dan kakinya kemudian mencengkram tanah di bawahnya. Meskipun jauh dan teredam sorakan di sekelilingnya, Ava dapat mendengar suara tulang-tulang yang patah ... atau sengaja dibengkokkan, dalam lima detik pria itu kini menjelma menjadi hewan berkaki empat dengan kulit kuning bertotol hitam. Proses perubahannya terlihat menyakitkan.


River meneguhkan hati ketika kedua hewan di depannya saling menggeram, ia mundur beberapa langkah, membiarkan Lig perlahan membentuk lingkaran, mengawasi musuhnya terlebih dahulu. Begitu juga Dom, mata tajamnya meneliti gerak-gerik dua sosok yang harus ia lawan, tidak melupakan kalau River memiliki monster lain yang dapat dipanggil nanti. Jadi berkebalikan dengan ekspektasi Ava, Dom bersikap lebih hati-hati, dia kira Dom akan menyerang begitu saja menimbang-nimbang sikap kasarnya selama ini.


Lig yang membidas terlebih dahulu, cakar besi terayun ganas, mengancam Dom yang seketika melompat menghindar dan menggigit bahu serigala tersebut.


Setelah menancapkan taringnya dalam daging musuh, Dom mundur, kembali mengawasi. Strategi hit-and-run memang cocok sekali dengan spesifikasi keunggulan cheetah.


Lig sepertinya marah, dengan auman berang ia melompat, menerjang Dom hingga terdorong jatuh. Keduanya bergulat di tanah, saling menggores dan mencabik. Mereka bergelut lama, menghamburkan debu dari tanah yang terkikis akibat pertarungan mereka. Yang bisa para penonton perhatikan hanyalah erangan liar dua binatang. Ketika debu mulai menipis, akhirnya mereka melihat dua sosok yang terengah-engah. Darah terlihat dari luka-luka mereka yang terbuka.


Namun sepertinya Dom melupakan sesuatu.


Dia seharusnya menghemat stamina.


Nama  : Jila (milik River Doyle)


Ras      : Harpy


Level    : 53


Level monster yang dipanggil bisa melebihi pemiliknya?


"Lig, mundur!"


Jila memekik lantang, sayapnya terentang megah. Sedetik kemudian, sehelai bulu menusuk tanah, berhasil menggores kulit cheetah layaknya sebilah pisau dalam prosesnya.


Tidak berhenti sampai di sana, belasan bulu meluncur cepat mengincar target, untung saja Dom dapat menghindar meskipun sempat goyah karena kaget dengan perubahan yang terjadi.


Satu sisi yang tidak disukai ketika melawan musuh yang bisa terbang, tidak bisa membalas serangan. Walaupun dengan sekuat tenaga melompat, Jila bisa dengan mudah menaikkan diri dengan sayapnya.

__ADS_1


Menyadari hal tersebut, sasaran Dom pun berubah. Dia langsung menuju tempat River berdiri.


Untuk menghemat konsumsi mana, Lig sudah ditarik mundur, meninggalkan majikannya berkonsentrasi untuk menjaga kehadiran harpy tersebut, karena monster yang lebih tinggi levelnya dari River memerlukan kontrol penuh agar tidak lepas kendali.


Artinya, posisinya rawan.


Jadi ketika Dom dengan cepat menyongsong ke arahnya, River terlambat mempertahankan diri. Badannya tidak bisa digerakkan, ditindih oleh cheetah yang menekan pundaknya. River berusaha lepas, ia memberontak. Kini kedudukan mereka terbalik, Dom yang tertahan di bawah.


Yang tidak Ava sangka adalah ketika River mendekatkan wajah, lalu menempelkan keningnya dengan Dom yang menggeliat. Tulisan "Taming (IV)" berbinar terang dari layar observasinya. River menggunakan skill penjinakan kepada Dom? Jadi beastman termasuk dalam kategori monster? Atau kemampuan River lah yang tidak terbatas hanya untuk menjinakkan monster? Kalau manusia?


... Kalau benar, bukankah itu sama saja dengan serangan psikologi? Mengendalikan pikiran bahkan?


Perlahan Dom mulai tenang, kulitnya berubah kembali menjadi warna gelap kulit manusia dengan bercak-bercak merah, bukti ganasnya pertarungan tadi. "Argh, menyerah aku!" Jelas sekali pria itu tidak terima, tapi dirinya sudah lelah karena sedari tadi berlarian, berbeda dengan River yang meskipun terkuras mananya, masih bugar dengan status poin kekuatan yang lebih besar pula.


River menang.


Ava menagih bandar taruhan di barisan kursi belakangnya. Koinnya bertambah 300.


Dia dan Lorah kemudian berlari ke tengah arena, Dom masih terkapar sedangkan River duduk menemaninya, merasa tidak enak jika ia langsung bangkit meninggalkan pria yang tiga menit lalu menjadi lawannya tersebut.


"Kerja bagus, ini untuk kalian masing-masing." Salep penyembuh berpindah ke tangan orang yang telentang lemas. "Tapi aku tidak yakin kalian bisa berkelahi denganku besok ataupun lusa." Ava benar, River masih harus mengisi kembali mananya, lalu Dom masih membutuhkan waktu berhari-hari untuk menutup lukanya.


"Aku bertarung lebih serius dari yang kuduga," Dom mengaku muram, di sampingnya Lorah membantu kakaknya itu untuk mengoleskan obat yang baru saja diberikan oleh Ava.


"A-ah, maaf, aku juga terbawa suasana," melihat noda merah yang ditinggalkan peliharaan-peliharaanya, River merasa bersalah. Meskipun begitu, Ava kini menyadari sisi kompetitif tersembunyi yang dimiliki oleh River.


"Itukah alasannya kau memanggil burung keparat itu?!"


River tidak bisa beralasan, mengeluarkan Jila memang tindakan yang berlebihan untuk sebuah latih tanding.


"Kau sudah tahu kalau River adalah penjinak monster, siapa yang menyuruhmu menghabiskan stamina untuk melawan Lig? Lalu saat harpy tadi dipanggil, kau tidak begitu siap, benar kan? Cheetah harusnya bisa menghindari serangan bulu-bulu tadi dengan mudah." Lorah yang juga ikut kesal dengan kecerobohan Dom, mengangguki kuat setiap kalimat yang dilontarkan Ava.


"Lalu," Jarang ada kesempatan Ava bisa mengomeli River seperti sekarang, "Sebagai seorang penjinak, mengandalkan penuh monster panggilanmu itu salah besar. Tubuhmu sendiri harus dilatih, jangan hanya menumpuk status poin tanpa menggunakannya. Dengan begitu, kau bisa menghindari serangan terakhir dari Dom tadi. Masih untung musuh sudah kelelahan, jadi lebih gampang untuk membalikkan posisi, tapi kalau tidak?"


Ava tiba-tiba menjelma sebagai pelatih petarung profesional, sudah kebiasaan dari dirinya untuk menganalisis setiap perkelahian yang ia tonton secara langsung maupun dari video, karena dengan mengetahui kelebihan serta kekurangan dari apa yang ia lihat, Ava dapat mengaplikasikan sekaligus memperbaiki teknik bertarungnya. Karena itulah gayanya sangat bebas, hasil dari pembelajaran otodidaknya belasan tahun.

__ADS_1


Kedua orang pria yang dinasehati hanya bisa pasrah karena yang dikatakan tidak ada yang salah.


__ADS_2