Hellbent

Hellbent
Bab 64: Pemakaman Suci


__ADS_3

Ava mengingat buku yang ia baca ketika masih sibuk-sibuknya mencari informasi mengenai dimensi fantasi ini.


Setelah pemberontakan pada jaman Tenebris terjadi, bumi yang awalnya hanya memiliki satu daratan besar bernama Insulae terpecah-pecah menjadi 5 pulau yang masing-masing dinamakan Meridianam, Edodale, Afrein, Uflaria, dan Feretrum Sanctus, dataran-dataran tersebut menjadi pusat dari perkembangan ilmu sihir, pengetahuan, ekonomi, militer, serta politik.


Pada sesi yang membahas spesifik benua yang ia pijaki, terdapat beberapa paragraf yang membekas.


Lebih dari setengah penduduk bumi gugur dalam pertarungan menuju kebebasan. Akan tetapi dampak terbesar dari perjuangan tersebut dirasakan benar oleh bagian tengah Insulae, atau yang kini lebih dikenal dengan Feretrum Sanctus. Feretrum Sanctus adalah benua yang terpecah menjadi ratusan pulau besar maupun kecil, saksi bisu akan peperangan antara seluruh dunia dengan para iblis pada jaman Tenebris, karena itulah kumpulan pulau ini dinamakan Feretrum Sanctus, yang artinya pemakaman suci, sebagai rasa hormat kepada pahlawan-pahlawan masa lalu yang tidak memiliki kesempatan untuk melihat masa depan cerah yang telah mereka buat dari keringat dan darah.


"Masa depan cerah" apanya, saat ini pun pikiran sinis Ava juga menyela.


"Daratan! Para penumpang dipersilahkan bersiap untuk turun! Daratan! Para penumpang dipersilahkan bersiap untuk turun!"


Akhirnya mereka sampai, Ava sudah mulai muak melihat warna biru setiap kali ia memandang ke kejauhan.


"Kita sudah sampai!" Lorah melompat-lompat ceria, langkahnya yang lincah dan cepat membuat gadis cilik itu lebih mirip dengan bola pantul berbulu.


"Oranera," gumaman lirih terselip keluar dari bibir Dom. Di desa cheetah, dirinya adalah yang paling kuat dibandingkan orang-orang seusianya. Namun setelah dia dan adiknya kabur, Dom pun sadar kalau kekuatannya tidak sebanding dengan kejamnya dunia luar. Ketika ia melirik ke samping, dirinya juga merasa inferior dengan kemampuan Rina, perempuan yang meskipun badannya dua kali lebih mungil dari otot kekarnya, sudah bisa mengalahkan monster raksasa sendirian.


"Apa?" Rina menanyakan pandangannya dengan sebelah alis terangkat.


Dom harus menjadi lebih kuat, lebih kuat dari siapapun agar mereka tidak lagi tertindas.


Dan Oranera, jalan masuk ke benua yang dipenuhi kota bebas sudah ada di depan matanya.


Sedangkan untuk Ava, jaraknya dengan jalan pulang ke dimensi asal semakin dekat. Setelah sampai di Oranera, gadis itu masih harus menaiki kapal kecil untuk sampai di Crimsonwood, tujuan sebenarnya.


Namun semakin dekat dengan artifak tersebut, Ava juga kian cemas. Ia merasa ditipu. Eve masih belum menyatakan maksud penculikan Ava ke dunia ini, tidak mungkin dopplegangger-nya tersebut hanya iseng melakukan prank kepada sosoknya yang ada di dimensi lain, kan?

__ADS_1


Tapi apapun itu, Ava berharap ia bisa menemukan petunjuk pada lokasi lab yang dicatat dalam jurnal Eve itu. Item yang akan ia ambil pun sebaiknya berfungsi.


***


Hao bersembunyi di balik dinding kayu kapal, dengan satu mata ia mengintip gadis pujaannya yang berdiri tegas di tengah-tengah dek kapal. Rambut pendek Rina yang hitam berkilau tertiup angin, seolah menari-nari atau bahkan melambai kepadanya.


Dia pun mengeluarkan orb perekam yang kemarin baru ia beli. Namun belum sempat mengaktifkan, suara dari orang yang menjengkelkan menginterupsi kegiatannya.


"Seorang wanita tidak menginginkan penguntit sebagai kekasihnya," Rai mencibir ringan.


"Saranmu yang dulu-dulu tidak mempan," Hao membangkal.


" Aku juga tahu kau memilih kamar di sebelah Rina hanya untuk menguping pembicaraan mereka. Kali ini apa yang kau lakukan akan dianggap sebagai tindakan kriminal, bukan rayuan yang gagal."


"Benar, jangan menganggu privasi seseorang," kali ini Yong menghampiri. Hao pun menggeram kesal.


Namun Hao merespon dengan dengusan kesal, "Tidak ada tempat yang cukup bagus untuk dijadikan lokasi kencan di atas kapal tua ini!"


"Makan malam ataupun makan siang kan masih bisa," Rai menimpali, senyum lebar yang ia sembunyikan di balik kipas sakura tidak luput hadir. Sepertinya dia menikmati momen-momen ketika Hao lebih sibuk menganggu orang lain daripada Yong, ketua Canthan yang seharusnya sibuk mengurusi guild, bukan rengekan adiknya.


"Sudah! Tapi tiga temannya selalu ikut!"


"Apa kau secara detail menyebutkan kalau itu adalah ajakan kencan?" Yong memastikan.


"... T-tidak! Tentu saja, tidak! Rina dengan spesifik mengajakku untuk berteman terlebih dahulu!"


Meskipun begitu Rai dan Yong sudah mengerti, Rina adalah gadis yang cerdik dan cepat tanggap, tidak mungkin dia tidak mengerti maksud asli dibalik ajakan Hao. Itu artinya, gadis itu tidak memberikan celah. Rina sudah memberi batasan yang jelas.

__ADS_1


Mungkin dalam bawah sadar Hao juga sudah tahu, karena itulah dia beralih ke cara yang berambang kejahatan, ketidaksabarannya menuntut Hao untuk melewati garis.


"Kalau begitu, dekati saja langsung, ajak bicara seperti orang normal." Rai bahkan ikut merasa frustasi dengan kepayahan Hao untuk berlogika.


Hao tidak suka ketika dirinya setuju dengan Rai, tapi yang pria berambut oranye itu sarankan lumayan juga, selain itu Hao sangat tidak keberatan untuk mengobrol ringan dengan gadis pujaannya.


"Baiklah kalau begitu," Hao sudah bersemangat untuk melangkah mendekat, namun langkahnya tertahan oleh dua tangan yang menahan masing-masing sisi bahunya.


"Tapi tidak untuk saat ini."


"Benar, semuanya bersiap untuk turun. Jadi sekarang waktunya untukmu untuk mengemasi barang-barangmu."


Hao cuma bisa cemberut saat dua orang itu menyeretnya kembali ke kamar.


***


"Terima kasih telah menaiki kapal ini, selamat jalan!" Sepasang staf kapal memberi salam ketika Ava dan River lewat dengan tas besar mereka yang dipenuhi oleh buku.


Pemberhentian selanjutnya langsung ke Crimsonwood. Jadi setelah memesan penginapan, Ava akan langsung membeli tiket kapal lagi. Kemudian, setelah bosan mendekam di kamar dan mual menghirup aroma air laut, Ava akhirnya bisa berburu! Lari mengelilingi kapal tidak sebanding ketika dia berlari di tanah datar, menanjak, menurun, ataupun dipenuhi rintangan yang sudah ia anggap sebagai permainan hiburan.


Dengan hati ringan yang melompat senang, Ava berseru, "Ayo!"


Akan tetapi tidak lama kemudian, keceriaannya menyurut. Setiap penginapan yang ia masuki sudah penuh.


Ava melihat garang jalan ramai yang dipenuhi orang-orang. Feretrum Sanctus dikenal sebagai benua yang merdeka, tidak seperti benua-benua lain yang dikuasai oleh kerajaan monarki, Feretrum Sanctus terdiri dari kota-kota bebas yang pemimpinnya dipilih atas hasil voting masyarakat yang ada di sana.


Dan sialnya, kebetulan, bulan ini adalah periode penggantian pemimpin di Oranera. Jadi banyak yang pulang ke kampung halaman setelah merantau, turis yang tertarik dengan sistem pemerintahan ini, atau saudagar yang mencium bau-bau uang dan kesempatan. Kota yang sejak awal ramai karena menjadi pusat perkumpulan para petarung, dua kali lebih sesak.

__ADS_1


Akibatnya, Ava terancam tidur di luar malam ini.


__ADS_2