
Roy berlari sekuat tenaga, mengabaikan udara panas yang membakar paru-paru. Lajunya berat karena hambatan jalanan berpasir. "Tuan!"
Ezra dan Roy menoleh otomatis, mengalihkan perhatian mereka dari rombongan penduduk kota yang tidak henti-hentinya berterima kasih kepada mereka. Setelah satu bulan, danau buatan akibat kekuatan artifak yang dibawa oleh pangeran ketiga Igoceolon itu berhasil dibuat di beberapa kota kekeringan di kerajaan Berloi. Selain itu rancangan saluran air pun telah dikonfirmasi oleh walikota masing-masing, sehingga tugas Ezra serta rombongannya selesai dengan cepat.
Tentu saja si pangeran puas dengan hasil usahanya, pengumpulan kredit skor berjalan lancar, hutang budi ia terima, reputasinya juga dengan cepat menyebar.
Ditambah, ia mengalahkan Chris, pangeran pertama yang suka menindas dirinya ketika kecil, meningkatkan kepuasan batin atas pembalasan kecil tersebut. Cara yang dimiliki Chris memang efektif dengan banyaknya mage air yang ia sewa, tapi ia melewatkan fakta bahwa kota target kali ini memiliki dana yang minimal, selain itu kontrak yang ditawarkan pangeran pertama bisa dipandang sebagai pengekang bukannya solusi.
"Kenapa lagi dia?" Selena bertanya dari balik cadar yang ia pakai. Kulit gadis itu sensitif terhadap sinar matahari, maka dari itu ia menutupi hampir seluruh tubuhnya dengan kain meskipun hal tersebut membuatnya gerah dan berkeringat.
Roy sampai dengan terengah-engah, ia kemudian membentang koran yang ia bawa. Judul yang tercetak besar di sana terlihat mencolok. Serangan ******* di Kerajaan Edodale ketika Festival Perayaan.
__ADS_1
Namun yang menarik perhatian mereka bukan hanya itu saja, terdapat foto yang tertera di sana bertajuk Putri Eve dan Duke Frost ikut menjadi korban. Terlihat dua orang dikelilingi oleh belasan prajurit penjaga, gadis berambut pendek dalam foto terlihat familiar. Rina.
"Ternyata Rina adalah Putri Eve yang hilang!" Roy berseru, setitik rasa panik ada dalam suaranya. Karena ia tidak tahu status sebenarnya orang yang ia hadapi, Roy bersikap kasual terhadap Rina. Apa dia pernah bersikap tidak sopan? Dia tidak mengatakan hal yang aneh-aneh bukan kepada sang Putri?
Akan tetapi, hanya Selena yang terkejut. Gadis itu menyambar koran tersebut, meneliti wajah yang tercetak di sana dengan lebih jeli. "Wah, benar, dia Rina! Tapi pria ini bukan River?"
Roy yang merasakan kejanggalan dari reaksi majikan dan pamannya pun berkedip bingung, "Kalian tidak kaget?"
"Wah, jadi Om sudah curiga, tapi tidak memberitahuku?"
Kali ini Ezra yang menyahut, "Kau pikir orang biasa bisa menolak permintaan dari seorang pangeran dengan semudah itu?" Pria itu masih merasa pahit dengan penolakan konstan yang ia terima.
__ADS_1
"... Apa- apa--"
Pertanyaan gagapnya belum selesai, akan tetapi Ezra sudah merespon, "Sama seperti ketika aku tidak bisa menghukum orang biasa yang lancang saat aku menyembunyikan identitasku, Putri Eve juga sama. Ketidaktahuanmu adalah berkah." Baru setelah itu Roy bernapas lega.
Ezra mencermati setiap kata yang tertulis dalam kolom koran. Setelah selesai membaca, ide baru muncul.
Tujuan mereka selanjutnya sebenarnya bukanlah Edodale, melainkan pusat penyebaran wabah yang membuat orang bertingkah agresif, akan tetapi meskipun begitu Ezra sejujurnya belum menemukan solusi untuk memecahkan masalah tersebut. Maka dari itu, lebih baik mereka berubah haluan terlebih dahulu.
Selain membantu Edodale dalam ancaman *******, ia juga bisa memanfaatkan koneksinya terhadap sang putri yang dikenal sebagai ahli alkemis. Mungkin dirinya bisa juga mendapatkan obat terhadap wabah yang ada.
"Mari kita pergi ke Edodale."
__ADS_1