
Untuk sementara, River tidur di kamar yang disewa Ava. Mental breakdown beserta kelelahan menumpuk
yang dialami pria itu sampai membuat ia lemas hingga akhirnya tertidur, Ava memandangi wajah kuyu dan kusam pria itu, matanya masih bengkak dan kantung matanya hitam, tidak mungkin dia tidak tidur karena memikirkan Ava kan?
Ketika ia turun dari tangga menuju lantai satu yang merangkap restoran penginapan, tidak sedikit pasang mata yang mengawasi gerak-geriknya dengan penasaran. Yah, apa yang terjadi memang sangat menarik perhatian.
“[Inventory].”
Jurnal Eve dikeluarkan. Sekali lagi Ava membaca resep-resep yang ada di sana, terutama pada ramuan yang cukup mudah dibuat oleh pemula. Ava sebenarnya tidak sepenuhnya gelap dengan obat-obatan tradisional, dia sendiri mempunyai beberapa pengetahuan modern mengenai tanaman-tanaman yang bisa dipakai untuk menyembuhkan penyakit yang tidak disebutkan dalam jurnal tersebut. Namun seperti yang diduga dari dunia fantasi, bahan-bahan dalam resep yang ada di tangannya ini melibatkan berbagai jenis tanaman ataupun bagian monster yang masih belum ia pahami benar-benar.
Kring!
Lonceng nyaring berdenging ketika Ava membuka pintu toko. Indranya segera diserbu dengan bau tanah dan rumput serta wewangian rempah yang eksotis. Dari rak-rak yang ditampilkan banyak sekali tanaman kering yang dijajar berdasarkan nama alpabetis.
“Kak!” Bocah yang dari kemarin terlibat dengan Ava menyapa dengan riang di balik meja. Omong-omong, dia belum tahu namanya. “Hai, apakah ibumu yang menjalankan toko ini?”
“Ibu ada di rumah, Ayah yang bekerja!”
“Ricky!” Suara dari pintu yang berlabelkan ‘Dilarang masuk’ mengalihkan perhatian mereka, kemudian
__ADS_1
seorang pria dengan kumis dan memiliki sepasang tangan berkuku hitam muncul dengan dobrakan. Dari ekspresi panik yang kemudian berubah menjadi bingung, Ava bisa menebak apa yang dipikirkan pria itu. “Apakah di sini menjual lavender hitam dan bunga puff?”
“O-oh, ya. K-kami punya. Ehem. Berapa ikat?”
“Masing-masing tiga. Jadi namamu Ricky?”
“Eh, kurasa aku belum bilang, jadi kakak belum tahu.” Ava sebenarnya bisa saja menggunakan skil observasinya, tapi langsung mengetahui nama orang hanya akan membuat yang lain curiga.
Pria tadi, yang Ava asumsikan sebagai ayah Ricky, melihat mereka berdua dengan tercengang. Setelah beberapa kali mencuri-curi pandang, akhirnya pria tersebut berkata, “Ricky, bagaimana kau kenal dengan kakak ini?”
“Oh, ini kakak yang kuceritakan kemarin! Permainan pianonya bagus, kalo berkelahi juga keren!” Ava menggeram dalam hati, sepertinya dia secara tidak sengaja mengekspsos Ricky terhadap adegan kekerasan. Dengan gelapnya keadaan saat itu, Ava kira bocah tersebut tidak akan bisa melihatnya.
“Ya ampun!” Belum sempat berkedip, kedua telapak tangan Ava digenggam erat. “Terima kasih! Terima kasih! Jika bukan karena Nona, anak kami bisa dalam bahaya! Sampai hari ini pun saya khawatir ada ancaman lagi dari preman kota, mendengar suara Ricky yang biasanya pendiam saja sudah membuat saya panik tadi.” Senyum bisnis Ava muncul, rasa bersyukur ini mungkin saja berbuah manis. “Tidak apa-apa, tidak perlu dipikirkan,” meskipun begitu, Ava mengantisipasi dengan harap-harap. “Aku sebenarnya juga membutuhkan beberapa bahan lagi.”
Mata hitam Ava berkilat puas.
***
Karena keberuntungan Ava yang menghemat pengeluaran, gadis itu mampir ke toko senjata, barangkali ada yang bisa dibelinya dari uang yang tersisa. Pistol yang ia bawa jelas tidak dapat ia pakai secara biasanya karena persediaan peluru yang terbatas. Belatinya pun terasa tumpul ketika ingin menggores monster berlevel sedang di gerbang kemarin, mungkin karena kulit mereka yang lebih keras dari monster berlevel rendah seperti horned rabbit dan tailed cannary. Jadi Ava membutuhkan senjata baru ketika akan berhadapan dengan monster yang lebih kuat.
__ADS_1
Kali ini yang menyambutnya ialah seorang wanita kekar berkulit gelap dengan rambut coklat yang ujung-ujungnya terbakar, mungkin dia lupa untuk memotongnya. “Selamat datang!”
Ava mengangguk, matanya segera melirik pada barisan pisau mengkilap yang dipajang, harga yang dipasang
pun sangat tinggi. Mungkin karena materi yang digunakan berasal dari produk olahan monster. “Belati-belati ini berasal dari tulang iron wolf yang dicampur dengan baja yang tidak bisa berkarat! Kedua bilahnya juga tajam! Tahan lama! Dekorasi indah! Sangat cocok untuk perempuan cantik seperti Nona.” Wow, Ava terkagum dengan kemampuan wanita itu dalam menjajakan produknya, pantas bekerja sebagai pramuniaga. Namun uangnya masih belum cukup.
Kini Ava berfokus pada item termurah di sana, yang kebetulan sekali masih bisa ia jangkau. Seperangkat busur dan panah. “Oh, kalau yang ini bisa dipakai untuk pemula! Imbang dan ringan! Terbuat dari jati, sehingga kokoh dan lentur!” Meskipun Ava sudah lama tidak memegang busur panah, tidak ada salahnya berlatih lagi agar ia juga bisa
bertarung lewat jarak jauh, membuka pilihannya.
“Saya ambil yang ini.” Wanita di hadapannya bersorak gembira.
***
“Sudah baikan?” River menanggapi pertanyaan Ava hanya dengan anggukan ringan, memunggungi. Pria itu menolak beratatapan dengannya, kemungkinan besar masih merasa malu dengan ledakan emosinya tadi pagi.
“Kalau lelah, kau masih bisa tidur,” ujar Ava sembari memasukkan serbuk nightingale dan lavender hitam ke dalam belasan bunga puff yang sudah disiapkan. Serbuk bius ini akan sangat efektif jika digunakan dalam berburu, situasi terdesak atau ketika ia ingin kabur, dapat menjatuhkan musuh yang berada dalam satu area kontaminasi. Untuk menghindari senjata makan tuan, Ava juga menyiapkan daun breeze lily yang ia jadikan sebagai DIY masker gas, meskipun desainnya masih kasar, benda tersebut bekerja dengan baik.
Pisaunya masih bisa ia gunakan dalam pertarungan jarak dekat, namun untuk melawan makhluk berlevel sedang sampai tinggi ia masih harus berahti-hati, dia perlu membeli belati baru. Pertarungan jarak jauh juga masih dalam tahap penajaman, busur panah yang ia coba tadi masih sejangka jauhnya dari target, Ava masih membiasakan diri. Untungnya ketika tersudut, ia masih memiliki serbuk bius dan masker gas. Yang menjadi masalah lagi adalah cara ia bertahan. Dengan adanya skill yang berbagai macam, bermodalkan mana yang memiliki variasi atribut, Ava sebenarnya membutuhkan pelindung tubuh yang dijual mahal, atau setidaknya uang untuk membeli bahan-bahan guna membuat minuman resistensi api, es, ataupun antidot umum racun, karena patokannya mencekik leher.
__ADS_1
Intinya, Ava membutuhkan uang.
Sepertinya gadis itu masih harus tinggal di ibu kota lebih lama lagi, setidaknya sampai pesta dansa di halaman istana. Ava dengar pesta yang dihadiri bangsawan terdapat di tempat lain, yakni aula utama yang menjelma sebagai ruang dansa ketika acara diadakan, artinya di dalam istana. Kalaupun nanti ia tidak dapat menemukan jalan masuk ke dalam istana, perhiasan yang dipakai oleh orang biasa pun akan ia curi. Apapun itu akan menguntungkan.