
"Tuan Putri, Duke Frost ingin bertemu ... lagi."
"Bilang saja kalau aku sedang sakit."
"B-baik, Tuan Putri." Lily yang malang, pelayan tidak bersalah itu terjepit di antara dua pihak besar yang sama-sama menakutkannya. Karena ketika paus bertarung, udang lah yang menjadi korban. Rose dan Daisy juga menggeleng simpati, di sisi lain mereka bersyukur kalau hari ini bukanlah giliran mereka dalam menerima tamu.
__ADS_1
Sudah tiga hari Ava menghindari Ellijah, gadis itu tidak sudi bertemu dengan pria kurang ajar tersebut, melihat wajahnya saja membuat Ava naik pitam, fakta bahwa muka Duke Frost sangatlah mirip dengan Alex kali ini tidak mampu meredakan kemarahannya.
Mungkin itulah masalahnya, Ava terus-terusan melihat sosok Alex dalam diri Ellijah, karena itulah dia bisa langsung akrab dengan sangat natural setelah kontrak penyamarannya. Sebab bersikap dekat dalam kasus ini malah berbanding terbalik dengan karakteristik Eve yang ia dengar. Pertunangan mereka murni bersifat politik, hanya Ellijah saja yang dengan serius menjalankan perannya sebagai seorang tunangan, sedangkan Eve sama sekali tidak terpengaruh dengan rayuan Duke Frost selama bertahun-tahun. Akan lebih baik jika Ava menjaga jarak serta menarik garis yang sopan, bukannya bersikap intim seperti yang ia lakukan sebelumnya.
Ava mengunyah biskuit dalam diam, teh chammomile yang memiliki efek menenangkan ditegak pula. Jendela yang sengaja dibuka menyebabkan angin lembut masuk ke dalam kamar, gaun ridur Ava berkibar halus. Rose berteriak dalam hati, majikannya terlihat sangat cantik. Kulit yang putih bersih kontras dengan rambut sang putri yang kelam bagaikan malam di bulan baru, hidung mungil mancung yang dibarengi dengan bibir tipis merah muda serta manik hitam mata yang dapat membuat seseorang terhipnotis hanya dengan beradu pandang, membentuk kesan perempuan anggun yang juga keren di mata orang-orang yang memandang. Tentu saja jika mereka mengabaikan berbagai rumor mengerikan yang meliputi sang putri, Putri Eve adalah sosok yang patut diidolakan. Sudah rupawan, pintar, kaya, berstatus tinggi, memiliki pasangan yang setara pula. Sayangnya pasangan si putri tersebutlah yang merupakan sumber terbesar suasana hati majikannya yang buruk akhir-akhir ini.
__ADS_1
Jelas sekali mereka bertengkar.
Yah, apapun masalahnya, semoga saja cepat terselesaikan, dengan begitu para pelayan tidak terlibat dalam pertikaian orang-orang atas.
Ava menghela napas, pandangannya jauh melewati awan-awan putih dalam bingkai jendela. Mendapatkan ijin untuk keluar dari istana ternyata cukup mudah didapatkan dari Raja Dion. Dengan alasan "demi inovasi yang akan dibuat", sang raja dengan senang hati memberikan stempel persetujuan untuk proposalnya, dia bahkan membekalinya dengan belasan mage dan prajurit kerajaan jika Ava mau. "Kalau saja perlu untuk kelancaran eksperimenmu," katanya. Implikasi kalimat tersebut agak janggal dari yang Ava tangkap, jadi gadis itu secara impulsif menolak. Lagipula tujuan Ava sebenarnya adalah ke lab rahasia yang tertera di jurnal, mengikuti saran Eve ketika mereka berada di domain kemarin, jadi lebih sedikit orang yang ikut lebih baik, akan sangat maksimal jika Ava pergi sendirian malah.
__ADS_1
Sayangnya ada yang menjadi penghalang. Pertama Marvin, si pangeran terus saja menyuruhnya untuk diam saja tanpa melakukan apapun, berjanji bahwa kasus ledakan ini akan segera ia tangani sehingga Ava tidak perlu ikut campur. Yang kedua tentu saja Ellijah, meskipun keduanya tidak saling berbicara Ava sudah memastikan reaksi si Duke. Pria yandere itu akan gila jika dia pergi, sama seperti Eve yang hilang empat bulan lalu.