
Ava sedang menyamar, rambut palsu pirangnya bergoyang-goyang setiap kali kepalanya mengangguk mengikuti irama musik bertempo cepat di dalam restauran yang ramai tersebut. Di penginapan inilah para prajurit kerajaan menyewa kamar, saat ini mereka merayakan penaklukan gate yang berhasil kemarin malam. Bau bir, keringat, dan parfum murahan bercampur membuatnya pusing.
Diramaikan dengan tawa yang sekali-kali muncul di tengah-tengah lagu, kursi dan meja yang seharusnya ditata simetris kini didorong mundur menyentuh dinding, menyisakan ruang besar di tengah restauran yang digunakan prajurit-prajurit tersebut untuk berdansa bersama perempuan lokal yang menarik perhatian mereka. Ava juga tidak asing dengan tatapan yang tertuju pada punggungnya, namun dia masih melekat pada kursinya di depan meja bar. Berusaha menemukan potongan-potongan informasi berguna yang tenggelam dalam keriuhan tersebut.
"Hadiah kontribusi kali ini lumayan juga, berhubung ketentuan levelnya ditingkatkan menjadi 40, kita minimal mendapatkan senjata berkelas unique."
"Eh, tapi misi yang diberikan cukup sulit, setelah memburu 100 monster hiu berlevel 20, kita juga harus membunuh bos monsternya yang berlevel 45!"
"Nah! Untung kapten pasukan kita yang tepat berlevel 40 punya skill andalannya! Kalau tidak, kita bisa saja masih terjebak hingga sekarang, hanya jadi pencegah outbreak sampai kita mati kelaparan!"
Salah satu aturan yang Ava ketahui melalui buku juga menyebutkan kalau selama masih terdapat individu yang mencoba untuk menaklukan gate, gate tersebut tidak akan te-reset atau progres outbreak-nya berlanjut, asalkan dia masih hidup. Artinya, pencegahan outbreak sebenarnya dapat dilakukan jika kerajaan ini menerapkan sistem tumbal seperti kerajaan di benua lain, akan tetapi tidak. Namun di sisi lain, apabila seorang anggota dari regu penaklukan gate yang sebelumnya masih belum keluar selama beberapa tahun pun, asalkan mereka masih hidup gate tersebut akan bertahan dan tidak bisa dimasuki karena portal yang tertutup.
"Benar! Sayang sekali kemarin inventori kita terkunci, jadi kita cuma mengandalkan buah dan tanaman dalam gate tersebut."
Semakin tinggi level gate-nya, semakin ketat pula batasan yang diberikan, meskipun tidak selalu konstan. Ava pernah membaca, gate legendaris yang batasnya hingga level 100 yang muncul beberapa ratus tahun yang lalu, menerapkan reset status, artinya status poin kekuatan, kecepatan, dan kelentukannya kembali merosot menjadi 1 masing-masing.
"Oh, kalian tidak memakan monster hiu?" salah satu wanita lokal bertanya antusias mendengar keluhan mereka.
"Uh, dari bentuknya yang setengah manusia ... membuatku mual kalau disuruh memakan dagingnya."
Hm. Ava rasa menjadikan monster yang bagian bawahnya menyerupai ras mereka sendiri sebagai hidangan akan dianggap sebagai setengah kanibal.
"Tapi lihat!" seorang prajurit mengangkat bangga artifak di tangannya, sebuah pisau dengan gagang ungu yang dari kelihatannya saja sudah berlabel mahal dan berharga.
"Wah!" wanita tadi berseru kagum, "Baru pertama kalinya aku melihat senjata unique.
__ADS_1
"Keren, kan? Inilah untungnya bergabung dengan pasukan yang kuat."
"Benar-benar keren!"
"Kalau begitu, bagaimana kalau ...."
Ava mengalihkan pandangannya saat mereka mulai berciuman di depan publik. Bulan sudah tinggi memancarkan cahaya kehijauannya di langit malam, jadi sepertinya hampir semua orang di sini sudah dimabukkan alkohol.
Ava meneguk habis jus apelnya, merapikan gaun sederhana yang masih ia simpan sejak festival di kota Tezia. Gadis itu melewati meja yang sedari tadi ia perhatikan, diam-diam menyambar pisau yang masih digeletakkan begitu saja, orang-orang di meja itu setengah tidak sadarkan diri, ataupun lebih sibuk menyombongkan pertarungan yang baru saja dihadapi pada wanita pasangan mereka, untuk diperistri, selingkuhan, atau hanya cinta satu malam.
Namun baru saja memasukkan senjata curiannya ke inventori, tangannya dicekal.
Apa dia ketahuan?
Mata sipit pria itu menajam, menatap intens kedua manik hitam Ava dalam-dalam. "Kita pernah bertemu sebelumnya?" Bau tajam bir menusuk hidung Ava saat pria itu membuka mulut.
Jadi ini cuma rayuan murahan ketika mabuk?
"Kurasa tidak," Ava otomatis memasang senyum manis. Telapaknya mendorong genggaman erat pria tersebut pada pergelangan tangannya secara diam-diam. Dia pun terlepas.
"Tidak! Kita pernah bertemu, aku yakin!" Pria berwajah Asia tersebut mendadak agresif. Beberapa pasang mata mulai memperhatikan mereka.
Pertama-tama, Ava harus mencari tempat yang sepi.
"Benarkah? Kalau begitu kita bicarakan saja di luar, di sini terlalu ramai." Kali ini Ava yang berinisiatif mengaitkan lengan mereka, menggiring pria mabuk itu menuju pintu keluar.
__ADS_1
Udara segar mengibaskan rambut palsunya saat mereka berdua berhasil kabur dari keramaian pesta, riuh rendah masih terdengar di balik pintu yang tertutup. Ava langsung melepaskan diri.
Ia harap angin malam menyadarkan sedikit pria yang dihadapinya ini. "Jadi, di mana?"
Laki-laki itu bersandarkan dinding, terjeda lama sebelum ia membalas, "Di mana apanya?"
Ava sebenarnya tidak mau melanjutkan percakapan ini, terlebih jika lawan bicaranya tidak bisa berkomunikasi secara sadar. Jadi ia mundur perlahan, seraya menimpali hanya sebagai penutupan, "Kalau kau juga tidak ingat, kurasa tidak terlalu penting."
Dengan satu pandangan terakhir, Ava memperhatikan lagi pria tersebut. Ah!
Memori Ava berputar ke beberapa hari yang lalu, hari penaklukan gate pertamanya. Dialah orang yang terakhir keluar dan terlihat marah, si pemburu maniak lainnya, genius sebenarnya. Gu Hao.
Kepalanya berkabut, Hao terlalu banyak meminum bir meskipun ini pertama kalinya ia diperbolehkan meminum alkohol. Dia pasti ingat, semuanya ada di ujung lidah, hanya saja dari tadi tidak ada suara yang memecah kediaman mereka. Rasa pusing juga mendistraksinya berpikir lebih jauh, jadi dia hanya menyerah. Hao menghirup napas panjang, setelah beberapa menit terpapar udara segar fokusnya perlahan kembali seperti semula.
Akan tetapi perempuan itu sudah tidak ada di hadapannya.
Gate!
Ia secara praktis berteriak dalam kepala. Namun sudah terlambat.
Hao mengenang wajah cantik seorang wanita ketika ia keluar dari gate beberapa hari yang lalu. Pemburu wanita masih minoritas, apalagi yang berparas menawan seperti itu. Bahkan amarahnya karena tidak mendapatkan posisi pertama dalam papan kontribusi seketika menyurut meski hanya sekelebat terlihat sebelum ia menghilang, sama persis seperti kali ini.
Wanita kuat nan cantik. Dia menginginkannya. Tapi mungkin inilah yang kakaknya biasanya peringatkan, alkohol berbicara. Perbuatan yang biasanya tidak akan ia lakukan, akan berani ia kerjakan saat ini juga.
Mungkin Hao akan menyesali malam ini juga. Entah karena kehilangan jejak wanita idamannya, atau karena berani-beraninya mengalihkan pandangannya dari tujuan seumur hidupnya, menjadi orang dengan level tertinggi di dunia.
__ADS_1