
Mata Ava memang masih tertutup, tapi tangannya di bawah selimut sibuk membuka inventori yang tidak bisa dilihat orang lain, mengeluarkan tiga bilah pisau.
Ia merasakan kehadiran orang lain di kamarnya.
Pencuri? Pembunuh?
Karena itulah, saat sosok gelap muncul dari bayangan, Ava langsung melempar ketiga pisau di tangannya. Lalu menyambar pistol yang ia sembunyikan di bawah bantal.
"Tenang saja, Nona. Ini saya," figur misterius tersebut menyela sebelum Ava sempat menembak. Suara yang familiar membuat Ava menurunkan bidikannya. "Menyusup tengah malam seperti ini ke kamar seorang gadis bukanlah tindakan yang sopan, Tuan."
Kali ini Al benar-benar menampakkan dirinya dengan jelas di bawah cahaya bulan. Tudung hitam yang membantunya menyembunyikan diri di antara kegelapan diturunkan, menampakkan rambut beruban serta potongan tajam dengan mata dingin abu-abu yang seolah ingin menusuk Ava saat itu juga.
Yah, bisa dimengerti. Ava secara praktis melontarinya dengan pisau.
"Aku yakin kau kesini bukan untuk berpamitan," meskipun Ava tidak bertanya, Al mengerti itulah tujuan gadis itu.
"Kami hanya ingin berbicara secara privat, tidak disertai anak anjing yang terus mengikutimu sepanjang hari." Alis kiri Ava berkedut, terganggu. Menyebut River sebagai anjing rasanya terlalu kasar dan tidak sopan. Ia bahkan hampir saja mengatai pria di depannya dengan sebutan yang sama, mengingat pelayan tua tersebut juga lekat di samping si pangeran.
"Yang bisa kau lakukan hanyalah meminta baik-baik, River adalah orang yang ramah dan sopan, dia akan membiarkan kita sendiri jika memang niat kalian tidak buruk." Sudut bibir Al hampir terangkat, sedikit tertarik dengan sindiran yang diam-diam ia terima.
Ava sudah sadar dari tadi kalau Al berbicara dengan subjek jamak, karena itulah ia juga menyahut dengan hal yang sama. Akan tetapi gadis itu tidak menangkap kehadiran orang lain selain mereka berdua. "Lalu, siapa maksudmu dengan "kami"?"
Dengan kaki panjangnya, Al melangkah ke pintu kamar Ava, akan tetapi setelah dibuka pun hanya lorong gelap dan kosong yang bisa dilihat. Namun tidak lama Ava kemudian mendengar suara dua pasang langkah kaki yang semakin mendekat. Mendadak, Ezra dan Roy berdiri di ujung ranjangnya.
__ADS_1
Selembar kain abu-abu yang dilipat Roy dengan hati-hati segera menarik perhatiannya, Ava langsung menyimpulkan, artifak. Di dunia fantasi seperti ini tidak heran akan ada beberapa item sihir yang memiliki berbagai fungsi berguna, contohnya untuk sembunyi-sembunyi. Artifak yang sempat mengelabui indranya yang dipertajam.
"Aku tidak pernah mengijinkan kalian masuk," ucap Ava sambil lalu, "Jadi, ada apa ini?" Langsung terjun ke masalah inti.
"Aku ingin merekrutmu sebagai salah satu pengawalku."
Ava nyaris menghela napas. Pangeran yang satu ini sangatlah keras kepala dengan apa yang ia inginkan, apakah ini karena statusnya yang tinggi? Jadi dia tidak terbiasa ditolak, begitu?
"Kupikir poinku sudah jelas tadi sore." Tentu, Ava juga dengan kukuh menolak.
Roy dengan sigap mengangkat sebuah kursi ketika tangan Ezra melambai, si pangeran menyamankan diri di atas kursi yang dibawakan pelayannya, duduk dengan elegan.
Oh, mereka terang-terangan menunjukkan hubungan mereka sebagai majikan-pelayan sekarang?
"Sebenarnya ... aku adalah pangeran ketiga dari kerajaan ini. Nama asliku adalah Ezra D'albermer."
Memikirkannya saja membuat ekspresi Ava menggelap. Akan tetapi Ezra gagal melihatnya, jadi dia tetap melanjutkan, "Beberapa minggu yang lalu adalah ulang tahunku yang ke-18, sekaligus pelaksanaan upacara pembukaan maturite, proses yang harus dilakukan oleh setiap pangeran dan putri kerajaan untuk secara resmi memperebutkan takhta. Dalam perjalanan beberapa tahun ke depan, pangeran ataupun putri yang memiliki skor kredit tertinggi akan dipilih menjadi raja ataupun ratu untuk periode selanjutnya."
Sunyi. Bahkan setelah berpanjang lebar pun, hanya suara angin yang mengiri penjelasan Ezra. Karena itulah ia mendongak, mendapati Ava yang memandanginya dengan ... acuh tidak acuh.
"Kelihatannya kau tidak terkejut." Ezra mengira akan melihat gadis di depannya bersujud ketakutan, atau langsung bersikap hormat dengan senyum palsu, menimbang-nimbang untung ataupun ruginya berhubungan dengan pangeran ketiga kerajaan seperti layaknya seorang saudagar.
Namun Ava adalah gadis dari dunia modern dengan sistem pemerintahan demokratis, bukan monarki, jadi dia hanya bisa membayangkan jika seorang anak presidenlah yang memberikannya tugas, tapi tetap saja ia tidak akan bergerak jika tugas tersebut tidak sejalan dengan tujuan pribadinya. Tindakannya tidak melanggar hukum mengingat statusnya yang hanya sebagai penduduk biasa, bukan pegawai sipil, terlebih lagi wewenang anak presiden pada dasarnya tidak ada mengingat posisinya yang tidak resmi dalam pemerintahan.
__ADS_1
Namun Ava paham betul sejarah. Tidak akan ada yang berakhir bagus jika ia melewati batas dengan gamblang.
"Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, keterlibatan saya malah akan memunculkan masalah bagi Yang Mulia. Jadi saya akan tetap menolak," setidaknya Ava harus lebih sopan dan formal mulai saat ini.
"Tapi kau satu-satunya orang yang memiliki potensi yang tidak bisa dihitung."
Potensi. Kata kunci dari skill Ezra yang membuatnya tertarik mati-matian dengan Ava. Inilah kesempatannya. "Potensi yang dimiliki seseorang memang sejatinya tidak bisa dihitung, Yang Mulia."
"Tidak, maksudku dari yang kulihat kau--"
"Tuan muda," Al langsung memotong. Seseorang akan lebih mudah menyanggah pernyataan daripada menjelaskan, tapi sayangnya trik Ava diinterupsi oleh pelayan tua tersebut.
Sadar dengan emosi yang hampir mendahuluinya, Ezra menenangkan diri sejenak.
Di sisi lain, Ava mulai lelah dengan perdebatan ini yang terasa memanjang dari yang seharusnya. Pangeran keras kepala ini harus berhenti berusaha menggaetnya untuk menjadi pionnya. Jadi Ava akan menunjukkan umpan yang ia siapkan. "Mungkin kehadiran saya bisa tergantikan dengan ini," Ava berujar manis seraya mengeluarkan ramuan double EXP dari inventorinya. "Ini adalah minuman yang dapat menggandakan poin pengalaman yang didapatkan saat membunuh monster, membuat seseorang dengan mudah menaikkan level mereka."
"Oh!" Roy berseru, "Tapi bukankah ramuan seperti itu biasanya hanya tipuan?"
"Kalian akan saya berikan 3 botol secara gratis, jika ingin lagi, pesan saja di toko [System], stok saya simpan di sana." Ava tidak menghiraukan tatapan ragu dari tiga pasang mata yang menatapnya, percaya ataupun tidak, ramuan tersebut pastinya akan mengalihkan perhatian mereka setidaknya sampai Ava menaiki kapal besok.
"Baiklah kalau begitu, jika kau masih saja ingin menolak dengan alasan seperti itu, untuk saat ini aku tidak bisa membujukmu lagi."
Kalimat itu mengganggu Ava, artinya si pangeran belum sepenuhnya menyerah.
__ADS_1
Tanpa menunggu balasan, ketiganya dalam sekejap hilang dari kamar Ava.
Setidaknya, sekarang ia bisa tidur.