
Namun sebesar apapun rasa benci dan jijik yang langsung Ava rasakan terhadap wanita asing itu, ia tahu kalau menutupi perasaannya yang asli saat pertemuan pertama akan selalu membawa manfaat jangka panjang. Ava tidak tahu apa yang bisa seorang iblis lakukan tanpa bantuan [System], bagaimana hubungan wanita tersebut dengan Lucifer serta saudaranya yang lain, utamanya ia belum mendapatkan informasi yang cukup untuk menentukan apakah wanita di hadapannya akan menjadi lawan atau kawan dalam misi gate kali ini. Jadi, dia bersikap normal, normal dalam arti orang biasa ketika bertemu dengan seorang iblis langsung di depan mereka.
"Kau ... kau adalah iblis, bukan?" Ava mewarnai suaranya dengan ketakutan yang bergetar, akting tentu saja. Ellijah otomatis menjadikan tubuh tegapnya sebagai barrier, menutupi Ava dari pandangan wanita dengan mata bercahaya merah tersebut, menjadikan performa Ava lebih meyakinkan dan dipercaya.
"Kalian bertingkah manis sekali~ Dan jawaban untuk pertanyaanmu ialah benar, Sayang, aku adalah iblis~"
Kehilangan akses terhadap skill yang pada dasarnya menjabarkan biodata lengkap lawan bicaranya, bukan berarti Ava tidak bisa berhipotesis. Yah, mungkin Ava mendasarkan penilaiannya berat ke arah stereotip, tapi ia sudah hampir yakin kalau wanita itu adalah ... Asmodeus.
Iblis perwujudan dari hawa nafsu.
Ew.
"Jangan seenaknya memanggil dia "Sayang"!" Ellijah nyaris menyalak, membalikkan badan dan menutupi telinga Ava dengan kedua lengan, setengah memeluk gadis itu. Hanya orang buta yang tidak akan melihat sikap posesif pria tersebut.
"Aww, anak anjing tidak mau kehilangan mainannya~" Ava tidak menyukai bagaimana Asmo merujukanya dalam kalimat itu. Namun sebelum ia sempat melemparkan respon yang pasif-agresif, mereka diinterupsi dengan munculnya cahaya yang membutakan.
"Agh! Apa? Hah? Ini bukan halaman rumahku!"
"... Apa yang dikatakan gadis itu benar, ada misi lain yang menunggu kita."
"Tidak mungkin!" Diikuti belasan kutukan vulgar dan hentakan kaki marah.
"Ibu, di mana kita?"
"Um, kita akan ... bermain lagi. Jadi tetap dekat dengan ibu, ya?"
Seorang laki-laki tua yang panik dan marah, tiga remaja yang saling berbisik, dan sepasang anak-ibu.
__ADS_1
Sekarang, total mereka ada 9 orang.
Semua pemain telah berkumpul
Peran akan dibagikan
Kavui adalah kerajaan yang makmur berkat kerja sama antara raja dan para ajudannya. Akan tetapi, suatu hari raja yang bijaksana ditemukan meninggal di ranjang tidurnya. Temukan pengkhianat yang membunuh sang raja!
Capailah akhir cerita untuk menyelesaikan misi ini!
Semua memasang wajah serius, pandangan mereka berfokus pada hologram tidak kasat mata yang hanya bisa mereka lihat masing-masing.
Begitu juga Ava, yang manik kelamnya menyipit, mencermati teks penjelasan perannya.
***
Atensi seketika teralih ke asal suara. "Baiklah, semuanya~ Mari kita semua bekerja sama dalam mengungkap pengkhianat yang pantas dihukum! Nah, bagaimana dengan memberitahukan peran kalian semua?~"
... J@lang pintar. Dalam situasi yang masih ambigu seperti ini, penting sekali untuk mengambil inisiatif pertama sebagai langkah membangun imej positif, ditambah lagi guna menyetir arah pembicaraan sesuka hati.
Sayangnya, bukan hanya Asmodeus yang pandai bicara dalam ruangan itu.
"Aku tidak mau mengikuti perintah dari iblis," Ava meludahkan kata-katanya, pedas dan sengaja tajam.
"Iblis?!"
"Apa? Kukira dia cuma seekor beastman yang belum kulihat."
__ADS_1
"Hah! Berani-beraninya!"
"Ibu, bukankah--"
"Ssh, diam dulu ya, Nak."
Walaupun mulut wanita itu tetap tertarik membentuk senyum, sudut-sudutnya kaku dan bibirnya menipis. Ava menantang pandangan terhibur Asmo yang mulai berkedip redup. Persona palsunya mulai goyah.
"Iblis atau bukan, bukankah penting bagi kita semua untuk bekerja sama, hm?~ Atau Tuan Putri memiliki peran yang tidak ingin dibeberkan? Misalnya ... pengkhianat yang kita cari~"
"Jangan menuduh sembarangan kau!" Lagi-lagi Ellijah mengambil sikap defensif. Ava mengapresiasi usaha pria itu walaupun mereka belum membahas peran masing-masing.
Namun kedua serangan sudah terlanjur dilemparkan, 6 orang yang sedari tadi hanya mengamati dan melempar komentar sampingan mulai menatap sekelilingnya dengan ketidakpercayaan.
Saat itulah notifikasi lain muncul.
Ding!
Peran telah dibagikan. Jangan lupa untuk menyelesaikan misi pribadi dan menangkap pengkhianat yang ada!
Diikuti dengan sinar yang membakar retina, Ava tidak akan terbiasa dengan hal ini, gadis itu mendapati dirinya berpindah lokasi. Sebuah kamar besar yang rapi dengan tema utama kayu merah. Ia juga menyadari kalau pakaiannya pun berubah, bukan lagi gaun yang sengaja ia sobek roknya untuk memudahkannya berlari, melainkan dress coklat pucat sederhana yang disertai dengan jas maroon dengan aksen emas.
Mungkin inilah pakaian dari peran yang Ava mainkan.
Omong-omong tentang peran ....
"[Cek: Peran]"
__ADS_1
Ia berdecak, masih tidak menyukai peran yang ia dapat. Tanpa sadar, Ava mengigit bibirnya sampai berdarah.