
"Kau lebih ceroboh dari yang kuduga." Mendengar suara itu, Ava seolah mendengar kata hatinya, tapi manifestasi seperti itu tidaklah berlogika, kecuali ....
Jadi ketika mendongak, senyum sarkastiknya terpasang manis. "Halo lagi, Nona penculik," seperti sebelumnya, mulut Ava tidak bisa bergerak tapi pikirannya dapat bersuara. Walaupun ia menyapa dengan irama lembut, terdapat silet tajam pada ujung-ujung kalimat Ava.
Eve, gadis yang secara praktis merupakan dopplegangger Ava mengenakan gaun hitam mewah layaknya pakaian tuan putri pada cerita dongeng anak kecil.
"Tidak kusangka kau akan mengorbankan diri demi orang lain." Walaupun tetap saja bermuka datar, intonasi menghina yang keluar dari bibir merah Eve memperdalam tatapan Ava.
"Yang kulakukan bukanlah termasuk altruistik, melainkan tindakan perhitungan yang sayangnya berakhir dengan kesialan." Ava ingin melangkah mendekat, setidaknya untuk mencoba mengintimidasi lawannya dengan gerakan besar saat berargumen. Sayangnya, ia masih tidak bisa menggerakkan tubuh.
"Jadi kau hanya bodoh."
Sorotan Ava makin tajam, dalam kepalanya membayangkan kalau ia menjambak rambut hitam pendek dopplegangger-nya itu, "Awalnya kukira kau memiliki akal sehat sepertiku, ternyata tidak," balas Ava sama pedasnya.
Namun berbicara dengan Eve sama saja berbicara dengan seorang penipu, dialog mereka hanya akan berbelit-belit. "Omong-omong sudah satu bulan berlalu, progres perjalananmu lambat, ya," mengabaikan sindiran Ava, Eve meneruskan maksud sebenarnya pertemuan ini.
Tentu petualangannya.
Walaupun secara tidak langsung cara yang diberitahukan Eve akan membawanya pulang ke dunia asal, tapi bantuan dengan pamrihnya akan membawa Ava pada objektif asli Eve membawanya ke dimensi fantasi ini.
Ava hanya belum bisa mengira apa itu.
"Kenapa kau yang terburu-buru?" tantang Ava. Jika Eve menjawab, dia akan mendapatkan informasi tambahan sebagai sumbernya.
Karena ia benci menjadi alat dalam permainan seseorang.
Semua orang dapat menjadi pion, namun asalkan seseorang paham dengan peraturan yang ada, semua orang juga bisa menjadi pemainnya.
"Kukira kau akan merindukan "kakak"-mu, Lexa."
... Apa?
"Bagaimana kau tahu tentang dia?" Ava sama sekali tidak menyangka nama tersebut akan keluar dari mulut Eve.
"Menurutmu, aku, orang yang bisa membuat domain khusus untuk mempertemukan eksistensi kita berdua, tidak tahu-menahu mengenai sejarah hidupmu?" Kepongahan yang Eve tunjukkan, benar-benar menguji emosinya yang telah berada di ambang-ambang.
"Kau ... bisa membaca pikiran?" Mati-matian Ava menahan diri untuk tidak jatuh ke dalam pusaran emosi yang bergejolak tidak karuan.
"Yah, aku hanya punya akses terhadap memorimu saat kau ada di sini."
Dan akhirnya tali kesabaran Ava putus. "Berani-beraninya kau!" ia berteriak dengan segenap tenaga.
Keduanya meringis, bak terasa ada seseorang yang menggetok belakang kepala mereka dengan palu. "Argh! Sudah kubilang, berusaha melepas paksa pengaruh domain ini hanya akan menyakiti kita berdua!"
__ADS_1
"Aku hampir mati diremas monster, kau keparat! Sedikit sakit kepala tidak akan menghentikanku!" Ava nekat melawan. Gadis itu memaksa badannya untuk bergerak, otaknya juga bekerja lebih keras untuk menutup diri, menolak sensasi aneh apapun yang ia rasakan.
"Astaga!" Tidak lama, darah menetes dari hidung Ava dan Eve.
"Berhenti!"
"Kita memerlukan kedudukan yang sama, Nona."
"Kubilang berhenti!"
Selanjutnya, tubuh Eve nampak mengalami tremor parah. Kelopak matanya berkedip-kedip, iris hitam juga terlihat berputar ke belakang. Penampilannya persis seperti orang yang kerasukan.
"Berhenti!"
"Tidak!"
Ava sendiri mendengar kaca pecah dari kejauhan, setiap detiknya semakin keras seiring dengan perlawanannya.
Bagi Ava, Eve adalah orang asing. Meskipun mereka identik, nyatanya Ava hanya bertemu dengan perempuan itu satu kali sebelum ini.
Dan sundal itu dengan lancang mengintip memori yang ada di kepalanya?!
Siapa yang memberi izin?!
Setelah menculiknya ke dunia lain dan menyuruhnya untuk melakukan ini itu?!
Kini dia dengan bangga memamerkan kalau dia menerobos hak privasinya?!
Lalu mencoba memojokkannya dengan menyebut Lexa?! Kakak yang meskipun bukan kandung, tetapi sudah menemaninya bertahun-tahun semenjak mereka kabur dari panti asuhan yang bobrok?!
"Astaga, berhenti!"
Ava secara praktis dapat merasakan otaknya yang mendidih, dia bahkan bisa mencium bau hangus. Namun gadis itu keras kepala. Ia benar-benar tidak peduli dengan darah yang mengucur bagaikan air terjun dari hidungnya, begitupula denyut nyeri belakang kepala yang sekarang semakin cepat merambat ke leher dan bahunya. Meskipun terpaku di tempat, keringat dingin satu persatu menetes ke lantai hitam yang kini terlihat retakan halusnya.
"Ok! Baiklah!"
""Ok" untuk apa?!"
"Argh, kita akan memiliki kedudukan yang sama dalam domain ini!"
"Cepat lakukan!"
"Hentikan dulu--"
__ADS_1
"Cepat!"
"Baik! Baik!"
Eve bertarung dengan rasa sakitnya, membawa jarinya yang gemetar untuk menyentuh udara di depan wajah.
Detik berikutnya Ava terjatuh lemas. Akhirnya ia bisa bergerak.
"Sudah! Hentikan!"
Akan tetapi Ava masih ingin memastikan, "Tidak ada lagi membaca pikiranku tanpa ijin?"
"Saya, Eve Weinhamer, berjanji atas nama seluruh mana yang ada di tubuh saya, tidak akan membaca pikiran Ava Hunter tanpa seijin pemiliknya selama ada di domain ini." Seutas cahaya ungu mengikat leher Eve, begitu juga pergelangan tangan Ava, kemudian sinar itu hilang, lebih tepatnya menyesap pada kulit putih gadis-gadis tersebut, sehingga kini terdapat satu garis ungu seperti tato pada masing-masing mereka.
Eve berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya, denyar serta rasa sakit yang menusuk setiap pori dalam tubuhnya akhirnya hilang. "Wanita gila, kau hampir membunuh kita berdua!" Kini giliran Eve yang menyumpah serapah kembarannya itu.
"Berhenti merengek, kau yang memulai duluan." Rasanya normal saat Ava berbicara dengan mulutnya sendiri, bukan menyuarakan pikiran seperti tadi.
"Aku melihat memorimu untuk membantu dalam perjalananmu nanti!" Ava memutar mata, ia tidak perlu mendengar justifikasi apapun.
"Kau tahu aku akan melakukan apapun untuk kembali ke dimensi asalku, jadi sebutkan saja niat aslimu, kita bisa saling menolong dengan begitu." Tentu saja pernyataan Ava tidak sepenuhnya benar. Apapun maksud Eve, Ava tetap menjadi korban dalam skema ini. Dan dia tidak akan benar-benar membantu orang yang mentransfernya ke dimensi lain dengan paksa itu, yang benar saja.
"Simpan omong kosongmu itu untuk dirimu sendiri."
Sayangnya, sebagai dopplegangger-nya, Eve mengenal betul sifat asli Ava.
Karena mereka sama-sama pembohong, penipu. Individu manipulatif yang dengan cerdik mempengaruhi orang-orang di sekitarnya untuk melakukan apapun yang mereka inginkan.
Karena eksistensi mereka sama. Eve adalah Ava, dan Ava adalah Eve. Hanya dari dimensi yang berbeda.
Eve mendecak, "Kini aku harus memperbaiki domain ini."
"Semoga beruntung," Ava mengejek ringan, merasa menang.
Tapi untuk beberapa alasan, Eve terkikik. Merasa curiga, Ava pun bertanya, "Apa yang lucu?"
"Kau yang lucu."
Bingung, tentu saja. "Apa maksudmu?" Ava membutuhkan penjelasan lebih lanjut.
Tapi pertanyaannya tidak terjawab. Karena mendadak pandangannya berubah dari kegelapan total, menjadi atap kayu yang pernah ia lihat.
"Rina!" River melompat dari kursi duduknya.
__ADS_1