
Butuh usaha berkali-kali agar gadis asing itu berhenti berterima kasih kepada Ratu Isabel, tapi setelahnya dia kembali terisak karena mengingat kejadian buruk yang nyaris menimpanya. Setengah jam kemudian, akhirnya dia berhenti menangis walaupun suara yang keluar masih lemah.
Ava pun mendapatkan jawabannya, " Setelah keluar dari gate terkutuk yang menelanku kemarin, kukira aku sudah selamat. Tapi malah ... tapi malah .... Ada lagi! Huaah!" Ya ampun, belum satu menit, dia sudah histeris lagi.
Namun terserah, karena Ava sudah paham dari secuil info tersebut. Gate yang mereka masuki terhubung dengan fenomena pembukaan gate lain di suatu tempat.
Sekarang masalahnya, belum tentu gate yang terhubung cuma dua.
" ... Kau bisa keluar dari gate hanya dalam satu hari?" Meskipun masih canggung, River melontarkan detail janggal yang ia tangkap.
Apa yang salah? Bukankah hal itu bagus? Artinya tugas yang diberikan mudah.
Akan tetapi, raut gelap gadis berselendang mewah itu membuat Ava berpikir lain. Ada yang terlewat dari pemahamannya?
"Bukan salahku!"
Sikap defensif malah membuat dia terlihat bersalah.
"Mereka yang memulainya! Aku tidak melakukan apa-apa!"
"Tenang, Nak," Isabel menginterupsi sebelum mental gadis tersebut lebih rusak lagi.
Satu sesi tangisan kemudian, Ava lelah mendengar mendengarkan, sayangnya output indranya tidak bisa mengatur ke angka negatif.
"Misi yang kami dapatkan adalah ... "mengorbankan kambing hitam".
***
Sebuah ikon kambing berwarna hitam muncul di atas kepala seseorang.
Bocah lima tahun yang tidak tahu apa-apa hanya memandang polos para orang dewasa yang memandangnya iba. Di sisi lain ibunya berteriak, sayangnya ia sama sekali tidak memahami apa yang dilolongkan ibu.
__ADS_1
"Jangan pandang anakku seolah dia anak terkutuk! Jauhkan tanganmu! Tidak ada yang boleh menyentuh anakku!"
Tidak lama kemudian, para orang dewasa saling berteriak.
"Kau tidak lihat tanda itu?! Dia yang terpilih! Kita harus korbankan dia agar kita semua selamat!"
Hanya butuh satu suara lantang untuk yang lain mengikuti.
"Benar! Kita bunuh saja dia!"
"Aku tidak mau terjebak di gate selamanya!"
"Anakku masih menunggu di rumah!"
"Tapi dia anakku!" Dari sekian banyak rentetan bising, hanya suara ibunya yang terdengar. Namun ibunya terdengar ... sedih.
Ia pun memeluk pinggul ibunya erat, hal yang biasa ibunya lakukan ketika dia juga sedih.
"Ah, anakku ..." Ibunya balas memeluk, tapi sepertinya tangisan ibu makin keras.
Tidak ada yang pernah menyangka kalau gate mendadak terbuka di atas desa, desa kecil tanpa pemburu ataupun petualang, hanya warga biasa yang mengandalkan pertanian untuk bertahan hidup.
Sekian lama tinggal di desa itu, si ibu dari "kambing hitam" menyangka bahwa terdapat setidaknya belas kasih kepada pasangan ibu-anak tersebut.
Sayangnya tidak.
Detik pertama ikon terkutuk itu muncul di atas kepala anaknya, tetangga-tetangga yang ia kira sudah dia kenal melihat anaknya sebagai target yang harus disingkirkan, sekaligus tanda kemenangan. Karena dalam hati mereka lega sebab bukan mereka yang terpilih.
"Halah, menyingkir!"
"Tidak!"
__ADS_1
Bocah itu bingung.
Kenapa paman yang selalu memberinya permen sekarang berusaha melepaskan pelukannya dengan ibu?
Kenapa ibu memeluknya erat sekali sampai tubuhnya yang kecil tertutupi semua?
Kenapa bunyi "bugh! bugh! bugh!" dekat sekali dengannya?
Kenapa ibu bergetar?
Kenapa ibu jatuh?
Kenapa ibu tidak bergerak?
"I--" Namun belum sempat dia memanggil ibunya, ia diseret.
"Akan kubuat ini tidak sakit."
Jleb!
Perutnya perih.
Cairan merah menetes dari ujung mulut.
Lalu ia merasa ... dingin.
Dia ingin memeluk ibunya lagi.
***
"Ah, sesak!" Ava refleks melonggarkan dekapannya terhadap Siwon.
__ADS_1
Gadis asing itu kembali terisak, tapi kali ini dia tidak sendirian.
Walaupun Ratu Isabel masih berusaha menjaga wibawanya, Ava sempat melihat satu atau dua tetes mata tadi. River tidak kalah histeris dengan si pembawa cerita. Siwon sedari tadi menelengkan kepala, bingung sebab ia tidak mendengar cerita menyedihkan tersebut dengan dua pasang tangan yang kekeuh menutupi telinganya. Sedangkan Ava sendiri, ia meringis, teringat memori buruk masa kecilnya.