
"Kenapa?"
Ava sama sekali tidak menyentuh teh maupun jajanan yang disajikan, perutnya masih kenyang karena makan malam. Ellijah lebih memilih untuk segera berbicara daripada kenyamanan prosesnya.
"Anda harus lebih spesifik, Duke Frost," dengan kedua tangan yang terpangku di lutut, Ava duduk tegak dan elegan, hasil dari latihannya berminggu-minggu tentang etika bangsawan.
"Kenapa kau berbohong kepadaku saat kita berada di Oranera?" Bantalan kursi yang dicengkram Ellijah terkoyak, amarahnya yang dingin terpendam dalam mata birunya yang berkilat.
"Karena saat itu saya sedang berlibur, identitas saya bukanlah seorang putri kerajaan melainkan gadis biasa yang berpetualang bebas. Namun karena ulah seseorang, liburan saya otomatis terhenti semenjak menginjakkan kaki di istana." Ava dengan picik terus mengulik topik penculikannya.
"Berlibur?" Krak! Kayu pegangan kursi Duke Frost retak. "Kau tidak pernah mengirimkan kabar kepadaku hampir selama empat bulan!"
Wush! Kabut dingin muncul dari badan tegap Ellijah yang tegang dan tidak bergerak, kemampuan alaminya muncul tanpa sadar. Skill innate turunan keluarga Frost dari puluhan generasi ke belakang, es.
"Saya takut surat dari saya hanya menganggu momen romantis Anda bersama kekasih Duke Frost yang hamil."
__ADS_1
"Kau tahu berita itu bohong! Pelakunya bahkan sudah dihukum penggal!"
"Namun tidak akan ada asap apabila tidak ada api, Tuan Frost."
Di teras yang diterangi binar lembut lampu dari ruang tamu serta sinar biru dari rembulan, keduanya terdiam. Ellijah masih saja mengeluarkan hawa beku yang keluar tanpa sadar.
"Kau-- Kau masih percaya kalau aku berselingkuh?"
"Saya sudah tahu gaya hidup para bangsawan pria yang masih belum menikah, dan saya mengerti."
"Tapi kita sudah bertunangan!"
Dari sejarah, Ava paham kalau kehidupan gemerlap kalangan masyarakat atas dipenuhi dengan pesta dan hiburan gelap, yang dimulai dari alkohol, wanita panggilan, hingga obat-obatan terlarang. Tidak berbeda jauh sebenarnya dari jaman modern di dimensi asalnya, hanya saja emansipasi wanita telah berkembang pesat semenjak itu. Sehingga tidak heran ketika Ellijah muncul di hadapannya dengan penampilan yang jelas-jelas menggambarkan seorang pecandu, ia berasumsi bahwa Duke Frost adalah pelanggan setia kehidupan malam.
Ellijah memijat jembatan hidungnya, frustasi. "Aku tidak akan menyarankan hukuman penggal kalau gadis sialan itu memang simpananku! Itulah tanda kesetiaanku!"
__ADS_1
"Itu malah menjadi pertanda kalau Duke Frost bukanlah pria yang setia, dengan membungkam korban tidak berarti dosa yang ada terhapuskan."
Ava sebenarnya tidak peduli apabila Ellijah memang selingkuh atau tidak, dia juga sudah tahu kalau alasan terbesar kepala putri Marquess Terelui terpisah dari badannya ialah penghinaan terhadap nama baik Eve, seorang keluarga kerajaan, sehingga vonis pemberontakan pun dapat dijatuhkan. Ava hanya mencari-cari alasan untuk menjauh dari pria tersebut, tapi sayangnya Ellijah kelewat keras kepala.
"Bagaimana bisa kau tidak melihat--"
"Namun jika Anda mengajak saya berbicara karena pesta dansa yang diadakan Minggu depan, saya bersedia menjadi pasangan Anda. Lagipula kita berdua masih bertunangan."
"Kau tidak mendengarkan."
"Apakah itu artinya Anda menolak, Duke Frost?"
"Maksudku-- Tidak, saya memang akan mengajak Tuan Putri Eve untuk menjadi pasangan saya di pesta dansa minggu depan."
"Artinya, urusan Anda dengan saya sudah selesai." Ava segera bangkit. "Sudah malam, tidak pantas laki-laki dan perempuan berbicara berduaan saja hingga larut sebelum menikah."
__ADS_1
Akan tetapi tangannya dicekal sebelum ia melangkah lebih jauh. "Satu hal lagi, kalau ... kalau kau sudah tidak marah lagi, jangan berbicara formal saat kita hanya berdua saja, rasanya aneh mengingat kita telah mengenal semenjak kecil."
Oh, mereka teman masa kecil.