Hellbent

Hellbent
Bab 49: Cinta Pandangan Pertama


__ADS_3

"Tolong jadilah kekasih saya!"


Apa?


Dia bercanda, bukan?


Interaksi yang diingat Ava dengan Hao hanya ketika pemuda tersebut mabuk berat, itupun saat Ava mengenakan penyamaran yang jauh berbeda dengan wajah aslinya.


Atas dasar apa tiba-tiba dia menyatakan hal seperti itu?


"Kau kenal dengan dia?" River mendekat perlahan, berbisik di telinga Ava. Namun yang ditanya tidak lekas menjawab.


"Saya ke sini setelah mendengar kisah heroik kalian, tapi melihat langsung wajah cantik Nona, saya pun jatuh cinta pada pandangan pertama!" Satu kalimat lagi yang mengagetkan rombongan Ava.


"Wah, cinta pada pandangan pertama!" Lorah bersorak girang, ekornya bergoyang semangat.


"Bicara yang masuk akal!" Dom meledak, badannya yang besar segera terselip di antara Ava dan Hao, menghalangi pandangan pemuda asing itu yang tidak pernah lepas dari wajah manis Ava.


Hao mencondongkan diri, berusaha mengintip dari balik tubuh pria bertato di hadapannya. Namun Dom kukuh merintangi kontak di antara keduanya. Kesal dengan ikut campurnya Dom, Hao memandang tajam, memastikan kalau wanita idamannya tidak memiliki kemiripan dengan pria di depannya. Tidak ada. Artinya mereka bukanlah saudara. "Menurut saya ini adalah masalah pribadi yang harus diselesaikan sendiri oleh kami berdua," walaupun tinggi Hao hanya mencapai pundak Dom, tapi ia tidak takut untuk melawan.


Wajah kedua pria itu kaku dan merah, tidak ada yang mau mengalah dengan mengalihkan mata mereka terlebih dahulu. Ib harus maju untuk melerai. "Sudah, hentikan," meskipun terdorong halus, tapi Hao maupun Dom tidak dapat melawan kekuatan si ranker.


Ava akhirnya turun tangan, "Mari kita bicarakan di tempat yang sepi."


Kelompoknya saling memandang, agak ragu untuk meninggalkan seorang perempuan sendirian dengan pria asing. Namun dia adalah Rina, sepertinya tidak akan ada masalah. Jadi ketiga pria tersebut setuju, memberikan privasi untuk keduanya.


Ib lewat dengan menepuk ringan pundak Ava. "Kau seharusnya mengabaikan orang aneh itu," Dom mendengus, masih tidak puas memelototi Hao. Apakah memang mengajak bermusuhan orang yang pertama kali ia lihat adalah hobinya?


"Hajar saja kalau dia berani macam-macam," River serius menyarankan. Ava tidak pernah mendengar River seagresif itu.


Hanya Lorah yang terlihat kegirangan. Badan mungilnya terus mengayun senang, "Semangat, Kak!" Sepertinya ide mengenai romansa memang membuat gadis kecil tergelitik senang.


Hao dan Ava berpindah ke sudut restoran menjauhi perhatian publik, meskipun masih ada beberapa pasang mata yang melirik penasaran ke arah mereka. "Sebaiknya kita memperkenalkan diri terlebih dahulu, omong-omong nampaknya kita seumuran, jangan terlalu formal," Ava membuka pembicaraan.


"Ah, namaku Gu Hao." Ava sudah tahu. "Pemula bintang di Guild Canthan, ahli pedang," ucap Hao bangga.

__ADS_1


Guild Canthan? Yang termasuk dalam bala bantuan pagi itu?


"Rina Hoffman, herbalis--"


"Herbalis?! Kau seorang herbalis?!" Hao memotong sebelum Ava selesai berbicara.


Minus satu.


"Benar, kau tidak mendengar kata-kata dari staf kapal? Aku membantu menyediakan stok obat," Ava menjelaskan, mempertahankan senyum bisnisnya. Tapi yang dia katakan benar, gel penyembuh yang terbuat dari lidah buaya dan darah troll laku keras, hanya menyisakan simpanan pribadinya. Trik menaikkan harga lalu mendiskon barang tersebut tidak pernah gagal menarik perhatian pembeli.


"Dari cara orang-orang mendeskripsikan ceritamu ketika melawan monster berlevel lebih dari 100, kukira kau adalah assassin!" Lebay.


Minus satu.


"Jadi kau tertarik denganku karena mengira aku adalah assassin?"


"Tidak juga, aku tertarik karena kedengarannya kau kuat, jadi awalnya aku berniat untuk menantangmu untuk bertarung, tapi ternyata kau juga memiliki wajah yang cantik!" Mudah. Plin-plan.


Minus lima.


"Tentu untuk melihat siapa yang lebih kuat! Sejujurnya kusangka orang-orang melebih-lebihkan cerita, jadi aku ingin mengetesmu. Pikirkan saja, tubuh wanita dilahirkan lemah, jadi mendengar petarung wanita yang kuat membuatku tertantang," Orang-orang memang membesar-besarkan apa yang Ava lakukan, tapi ... pongah. Minus tujuh. Seksis. Minus tiga puluh.


Satu-satunya alasan yang membuat Ava bertahan hanyalah koin yang pria itu miliki.


928376483 koin.


Sembilan digit. Dia kaya.


Namun pakaian Hao lusuh dan kotor, bau keringat bahkan dari tadi menganggu Ava. Jorok. Minus sepuluh.


Setidaknya dia bukan keturunan bangsawan, secara umum mereka akan berusaha selalu tampil bersih dan berwibawa. Saudagar?


"Maaf saja, tapi aku tidak berniat menjalin hubungan romantis untuk sekarang."


"... Apa?" Hao sepenuhnya tertegun. "Kenapa?!" Padahal Ava sudah memberi tahu alasan penolakannya. "Dalam dua tahun aku dijamin akan menjadi seorang ranker! Bukankah wanita menyukai pria yang kuat?!"

__ADS_1


Karena Hao memiliki banyak sekali nilai minus, 54 totalnya. Lagipula Ava dari awal berniat untuk kembali ke dimensi asalnya, dia tidak akan terdistraksi untuk berpacaran.


"Kita masih bisa berteman jika kau mau." Namun Ava masih membuka jalan untuk pemuda tersebut untuk dekat dengannya, orang dengan koin sebanyak itu akan selalu ada gunanya nanti.


"Uh, berteman," Hao mencengkram erat dada kiri. Jantungnya berdebar sakit. Padahal dia sudah berencana untuk mengenalkan wanita di hadapannya kepada kakak besar. Tiba-tiba dia berlutut, Ava dapat mendengar beberapa orang yang terkesiap. Jangan bilang Hao malah ingin melamar?


"Bisakah kau pikirkan satu kali lagi?" Sekali lagi pria itu memohon, memelas kasihan. Kecamik orang-orang yang sibuk menonton semakin jelas.


Jika Hao ingin mengundang simpati, Ava juga bisa.


Gadis itu mengerutkan alis, tidak berkedip agar matanya terlihat berkaca-kaca, berusaha nampak semenyesal mungkin. "Maaf aku tidak bisa menerima perasaanmu."


Air mata buaya Ava terbukti efektif. Hao yang melihat bulir air mulai mengalir dari wajah cantik wanitanya pun tidak sampai hati jika terus memaksa.


Wanita sekuat apapun, hati mereka tetaplah berhati lembut.


Setidaknya begitulah yang ia kira.


"Baiklah, kita akan mulai dari pertemanan saja."


"Mulai dari"? Laki-laki itu belum menyerah.


"Ah, iya," Ava membalas lirih.


Setelah itu tidak ada yang berbicara. Hao sama sekali tidak berpengalaman dengan perempuan, dia payah dalam merayu, termasuk juga menenangkan gadis yang baru saja menangis. Sedangkan Ava sudah menghentikan aktingnya, hanya menyisakan jejak air mata yang sengaja belum dia hapus. Dia tidak ingin mencari topik baru untuk dibicarakan, hukuman kecil bagi Hao untuk memuaskan sisi piciknya. Biarkan pria itu terjebak dalam kecanggungan sendirian.


"Um, omong-omong apakah kau berada dalam sebuah guild? Herbalis yang pintar bertarung sepertimu akan menjadi aset berharga! Jika belum, kau bisa kukenalkan kepada kakak besar, dia adalah ketua dari Guild Canthan!" Jadi Hao mencoba mengobrolkan hal yang ia ketahui, guild.


Tapi bagi Ava, ini adalah peluang bisnis.


"Ketika kau berkata "kakak besar", maksudmu kakak kandung?"


"Ah! Keluarga Gu sangatlah besar, dan Kak Yong adalah yang tertua sekaligus paling kuat saat ini, jadi kami semua bersaudara memanggilnya kakak besar."


Dalam hati, Ava menyeringai.

__ADS_1


Jackpot!


__ADS_2