
Ava memutuskan untuk membantu Selena mengobati orang-orang yang terluka, bukan dengan skill ajaib tentu saja, melainkan salep yang sudah selusin ia buat untuk luka gores. Melalui observasinya, kekuatan Selena sepertinya hampir habis, jadi dia membungkuk syukur ketika mendapatkan tambahan tangan.
Beberapa menit kemudian, River kembali dengan seorang gadis cilik berbaju kuning dalam pelukannya. Setelah turun, pria itu langsung disambut oleh ibu yang secara praktis menyambar anaknya. Pasangan ibu dan anak tersebut saling merangkul, namun keadaan masih belum sepenuhnya aman. Jadi mereka segera berangkat mengikuti massa untuk mengungsi setelah mengucapkan puluhan kalimat terima kasih kepada rombongan Ava, terutama River.
Beberapa prajurit kota sekarang terlibat menenangkan penduduk, mengatur lalu lintas seperti mereka sekaligus membagikan peta yang menunjukkan lokasi-lokasi pengungsian terdekat. Respon mereka terlalu lambat, Ava berkomentar dalam hati.
"Apakah kita sudah tahu monster seperti apa yang muncul?" Ezra bertanya pada salah satu prajurit.
Prajurit tersebut menjawab lugas dan hormat, mungkin menghormatinya karena bantuan yang mereka berikan tepat setelah situasi berubah kacau karena outbreak, atau hanya menganggap bahwa Ezra berlevel tinggi karena sikapnya yang masih tenang. "Saya dengar informasi dari garis depan, monster yang ada sampai saat ini adalah Sharktooth. Jumlah yang terlihat 25."
Sharktooth, monster yang bagian bawah tubuhnya menyerupai manusia, sedangkan bagian atas berupa hiu yang memiliki ratusan baris gigi besar dan tajam. Monster ini bisa berenang bebas di air, tapi juga bisa berjalan dengan dua kaki di darat. Tidak sepenuhnya amfibi karena mereka harus tetap bernapas di air, karena itulah setiap 20 menit sekali mereka harus masuk lagi ke lautan.
"Hiu!" Roy terperanjat kaget.
"Level mereka?" Ezra bertanya lagi, memastikan.
"Belum dapat dipastikan."
Si pangeran itu berpikir dalam-dalam, mungkin memasak rencana untuk memasukkan kejadian ini menjadi kredit pertamanya dalam perjalan Maturite. Pertanyaan, siapa yang bisa ia pakai?
Ava memandang skeptis si pangeran, jika saja ia akan menyuruhnya untuk melawan para monster, tentu ia akan menolak, dengan halus. Respon yang pantas sebenarnya, karena melawan monster yang belum diketahui levelnya sama saja akan dianggap tindakan bodoh. Lagipula hal seperti ini bukan tanggung jawab orang lewat atau turis sepertinya, melainkan pihak berwenang yang seharusnya mengatur kota.
Jadi Ava tidak bisa dipaksa.
Namun sepertinya menyadari hal yang sama, Ezra kali ini melirik River dan Lig yang masih sibuk memandu penduduk bersama dengan para prajurit yang terlihat sedikit takut berada di dekatnya.
Oh, tidak.
Walau hanya disarankan, pria penurut itu akan maju ke barisan depan, bukan?
__ADS_1
Atau mungkin tidak? Mengingat perilaku River yang terus saja mengajaknya kabur setiap kali ada masalah, ditambah lagi keberadaan Ava yang pria itu anggap sebagai pengganti adik yang tidak bisa ia lindungi ketika outbreak beberapa tahun lalu terjadi.
Dari yang terlihat saja pun Selena hanya memiliki kemampuan untuk menyembuhkan, hampir habis pula, menyuruh wanita itu untuk melawan monster malah akan merugikan, priest lebih cocok menjadi dukungan di garis belakang.
Al, meskipun berlevel tinggi tapi sepertinya masih menjalankan misi untuk menutupi kekuatannya yang asli dengan berlagak seperti orang biasa.
Sedangkan, Roy ... mengandalkan pengecut yang sudah bergetar hanya dengan mendengar nama lawannya hanya akan memastikan kematian mereka.
"Mungkin sebaiknya jangan dilawan langsung, hanya bertahan saja sampai monster-monster tersebut mundur karena butuh air," Ava akhirnya menyarankan.
"Tapi bertahan saja sudah cukup sulit dengan sumber manusia yang kami punya," prajurit itu lagi-lagi berucap tegas meskipun sedikit malu dengan keadaan payah pihak mereka.
"Gunakan saja ini," Ava membuka inventori, menunjukkan tiga bunga puff yang telah diisi oleh serbuk bius di sela-sela jarinya.
"Oh!" Roy berseru, jarinya dengan semangat menunjuk apa yang ada dalam genggaman Ava. Ezra juga mengangguk setuju.
"Ini bisa membantu, tapi aku tidak mau memberikannya secara gratis."
"Pada dasarnya ini obat bius berbentuk serbuk, lemparkan saja ke musuh dan mereka akan tertidur."
"Akan saya sampaikan kepada atasan saya."
Ava berbalik kembali kepada kelompoknya setelah prajurit itu pergi. "Berjualan di saat seperti ini? Kau nanti akan dicap tidak tahu malu." Ezra menghalangi jalan Ava dengan tubuh tegapnya seiring dengan argumen tajam.
"Aku bisa saja kabur, mengungsi bersama orang-orang lain, tidak ada ruginya bagiku. Jika mereka tidak mau mengeluarkan uang untuk menyelamatkan keselamatan penduduk kota mereka sendiri, merekalah yang tidak tahu malu jika berani menyalahkanku," Ava membalas sama menusuknya.
Iris senada arang menantang manik emas, "Atau memang jika rasa altruistikmu sebesar itu, kau bisa membelinya dariku, kemudian memberikan kepada mereka secara gratis."
Membangun citra tanpa pamrih seperti itu bukankah menguntungkan si pangeran yang mencari-cari kredit untuk naik takhta?
__ADS_1
Meskipun ironis, hanya kedok belaka, serta munafik.
Yah, tidak akan ada masalah ke depannya jika tidak ada yang mengungkitnya.
Senyum Ava memanjang ketika Ezra mengernyit, puas dengan ekspresi yang ditunjukkan jujur oleh pangeran itu.
Jika Ezra memang memilih untuk membayarkan serbuk bius yang ia jual, identitas aslinya sebagai pangeran ketiga kerajaan Igoceleon lama-kelamaan akan terbongkar pada akhirnya.
Kalaupun tidak, maka penghasilannya berasal dari pemerintah kota Englerock.
Dan pada skenario apabila bisnis ini tidak berlanjut, serbuk biusnya masih bisa ia pakai untuk memburu monster di kemudian hari.
Sisi mana pun ia tidak akan merugi.
"... Uangku sudah kau kuras habis pada perjudian kemarin, ingat kan?"
Ava mengangkat kedua bahunya, "Lihat, semua orang meski ingin berbuat baik pasti ada penghalangnya. Begitu pula aku, kalau kuberikan semua ini secara gratis, lalu bagaimana aku bisa membunuh monster atau melindungi diri tanpa uang?"
Ezra akhirnya menyerah memaksakan pandangan moral kepada Ava yang jelas-jelas mengedepankan kapitalisme.
"Nona, Anda dipanggil oleh kapten." Prajurit lain datang menjemput Ava.
"Baiklah." Hanya River yang melambai kepergiannya. Selena sibuk terengah-engah, wanita itu terlalu memaksakan diri. Al dan Ezra berbisik satu sama lain, indra Ava yang semakin tajam tidak bisa menangkap pembicaraan mereka di tengah keramaian ini. Roy memutuskan untuk melanjutkan tugasnya tadi setelah beberapa detik gelisah mendengar argumen antara Ava dan Ezra.
Ava dipandu memasuki rumah bertingkat tiga, dapat ia lihat di jalan telah dipasang pagar kayu darurat untuk menutup akses jalan monster ke pemukiman. Sehingga sejauh ini 30 monster hanya bisa sampai ke pantai dan pelabuhan, namun hanya tinggal menunggu waktu pertahanan mereka rubuh jika tidak segera ditangani.
"Saya telah mendengar penawaran Anda." Laki-laki paruh baya dengan kumis tebal menyambutnya setelah pintu di lantai tiga terbuka. Ava masih bisa melihat garis merah yang menjulang ke langit melalui jendela besar yang mengarah ke lautan.
"Namun kami masih tidak bisa menerima alat yang bahkan tidak diketahui pasti efek dan jangka waktunya."
__ADS_1
"Kalau begitu akan saya tunjukkan."