
Ezra memiliki dua asumsi. Pertama, Chris mendapatkan dana untuk menyewa para prajurit dan mage tersebut dengan uang dari pihak Ratu Pertama, tapi kemungkinan ini dihalangi oleh kebangkrutan mereka dalam investasi gagal yang dikarenakan fenomena "Badai Hitam", koran beberapa hari yang lalu memberitakannya secara rinci. Kedua, Chris berhutang kepada Phillip dengan status pangeran pertama kerajaan Igoceolon sebagai jaminannya, tentu Raja tidak akan senang jika dia mendengar hal ini. Berbeda dengan Ezra yang hidup secara hemat dari uang saku bulanan, Chris menjalani gaya hidup yang mewah, menghabiskan setiap koin yang ia dapat bahkan ketika masih di awal bulan, jadi Ezra tahu Chris tidak memiliki tabungan sendiri. Kecuali ... dia menerima dana dari pihak luar sejak dulu. Yah, dia tidak akan kaget jika memang benar, setidaknya Ezra memegang satu lagi kelemahan saudaranya itu untuk dilaporkan.
Kemudian dia diam-diam menggunakan skill-nya untuk melihat orang-orang pilihan Chris. Angka yang terlihat tidak cukup memuaskan untuk ukuran Guild ranking 15 sedunia. 5,6. 7. 6,5. Tengah-tengah. Hanya Phillip sebagai ketua yang potensinya hingga mencapai 8,5.
Individu bertalenta tidak akan mudah ditemukan.
"Jadi, kau kesini juga untuk menjilat Sultan Ibrahim?" Ezra dalam hati terjengit jijik dengan pemilihan kata Chris, "Saya kesini bertujuan untuk menyelesaikan masalah kekeringan yang terjadi," tapi pada dasarnya apa yang ia nyatakan benar.
"Ah, sama saja!" Namun ketika Chris memindai rombongan yang dibawa Ezra, dia langsung merengut kesal, merasa dipermainkan. "Tapi mana mage airmu?!"
"Kita sebaiknya tidak menghalangi gerbang masuk," Ezra mencoba mengalihkan pembicaraan. Lagipula kerumunan yang mereka buat memenuhi gerbang masuk ke kota Conwa, Kerajaan Berloi. Sudah ada tiga rombongan lain yang menunggu untuk dipersilahkan masuk.
Tapi Chris bukanlah Chris yang Ezra kenal jika langsung menurut begitu saja, "Hei! Kau belum menjawab pertanyaanku!"
"Singkatnya, saya akan menggunakan artifak."
"Artifak seperti apa?"
Kenapa Chris selalu mengira kalau orang-orang akan menjawab semua interogasinya, bahkan musuh sekalipun? "Rahasia."
"Heh, baru saja berumur 18 tahun saja sudah berani ya kau sekarang?" tidak melewatkan kesempatan untuk mengejek, Chris akhirnya menaiki lagi unta yang ia sewa, membimbing para prajurit serta rombongan pangeran ketiga ke sebuah hotel di kota tersebut.
__ADS_1
"Padahal dari kecil kau sudah menjadi mainanku," Chris masih saja merendahkan saudaranya sepanjang jalan. "Dan setelah secara resmi mengikuti Maturite, tiba-tiba kau mau menggigit tangan orang yang sudah bermurah hati? Tidak tahu diri sekali."
"Saya tidak mengingat tindakan Anda yang bisa disebut murah hati, Pangeran Pertama." Tapi masih segar di memori Ezra saat ia dijegal agar terjatuh, dipukuli karena membantah, atau saat barang pribadinya rusak atau terbakar tanpa sebab.
Chris menendang sisi unta yang ia tunggangi, membuat hewan tersebut lebih cepat melangkah, kemudian menghalangi tepat di hadapan jalan si pangeran ketiga. "Kuperingatkan saja, Ezi, tahta sudah seharusnya menjadi milikku."
Trauma tidak dengan begitu saja hilang, tapi dia harus tetap berani. Jadi meskipun hatinya bergetar, Ezra menantang pandangan tajam yang Chris lemparkan. Karena untuk pertama kalinya, posisi mereka sejajar.
Namun tidak akan lama, dia sudah menancapkan niat memenangkan perlombaan skor dalam Maturite ini. Dan untuk itu ia harus bergegas sebab Ezra sudah kecolongan garis mulai selama lima tahun. Susah, tapi tidak mungkin untuk dikejar mengingat siapa saja lawannya.
***
"Pangeran pertama masih saja tidak sopan seperti biasanya," Roy membuka mulut begitu mereka berempat berkumpul di kamar yang paling besar, kamar Ezra.
"Wajahnya tampan, sayang sekali sifatnya lebih mirip seperti anak nakal, tipeku lebih mengarah ke pria penurut layaknya River atau yang berwibawa seperti pangeran kita," Selena ikut berkomentar. Ezra masih janggal dengan priestess yang memandang utama rupa seseorang.
"Oh, omong-omong tentang anggota kita yang lain--"
"Mereka tidak pernah setuju untuk bergabung, Roy," Selena menyela.
"Tapi aku merasa sangat dekat," Roy sudah rindu malam-malam berjudi yang mengasyikkan, lebih dari separuh uangnya membengkak minggu kemarin. Dengan segala hormat, dia tidak bermaksud menghina ketiga orang lain yang ada di kamar tersebut, tapi astaga semuanya tidak bisa diajak bermain. Pangeran selalu sibuk merancang rencana atau berkeliling untuk mencari orang untuk direkrut. Pamannya tentu menemani si pangeran. Lalu, si priestess meskipun memiliki kesan jahil dan nakal, Selena masih naif terhadap hiburan karena sudah bertahun-tahun diperangkap dalam gereja sejak kecil akibat kekuatan sucinya.
__ADS_1
Namun tidak lama kemudian Roy mengingat tujuan awalnya menyinggung River dan Rina, "Ah, omong-omong tentang mereka, bagaimana pendapat kita tentang ini?" Sebotol ramuan yang familiar. Pengganda EXP dari herbalis yang gagal Ezra ajak. "Kurasa Rina tidak akan menipu kita, kan?"
"Dia memberikan 3 botol secara gratis untuk dicoba, jadi walaupun kita ditipu kita akan segera tahu. Lagipula tentu kalian sudah melihat serbuk bius gadis itu, mujarab sekali." Apa yang dikatakan Selena masuk akal. Roy bahkan pernah menjadi korban produk Rina. Mengantuk begitu ditebarkan? Efeknya cepat sekali, selain itu serbuk Rina juga lebih efektif daripada bius yang beredar di pasaran.
"Saya menawarkan untuk menjadi kelinci percobaan," Al tanpa basa-basi sudah bersukarela. Pasalnya pekerjaan aslinya sebagai assasin mengharuskan pria itu untuk berhubungan dengan berbagai racun, lebih berpengalaman dari Roy tentu saja, jadi jika ada hal yang aneh dalam ramuan tersebut, kemungkinan ia untuk selamat akan lebih besar daripada yang lain, lagipula mereka sudah mendapatkan wanita dengan kemampuan penyembuhan yang mutakhir, jadi dia tidak takut. Dan jika apa yang dijanjikan Rina benar ..., sisi baiknya level Al akan meningkat.
Ezra menopang dagunya dengan kedua tangan yang tertaut, menimbang-nimbang. Beberapa detik kemudian dia mengangguk, "Tapi kita harus mencari area berburu untuk mendapatkan EXP."
Semuanya sepakat.
***
Al memang mendapat kesan kalau Rina adalah wanita yang pintar, licik bahkan. Namun ia tidak mengira kalau otak dalam kepala mungil perempuan itu benar-benar jenius!
Menggunakan skill sneak attack, Al dengan hanya beberapa kedipan mata, sudah menumbangkan tiga belas monster kaktus yang kelihatannya berlevel 20-25. Level awal pria itu adalah 55, dan biasanya butuh puluhan monster berlevel menengah ke bawah untuk menaikkannya ke 56, tapi sekarang ia bahkan sudah meloncat ke 57.
Ramuan itu asli.
Mujarab.
"Apa yang dijanjikan memang benar, Tuan Muda."
__ADS_1
Ezra, Roy, dan Selena sama-sama tertegun, ketiganya tidak menyangka akan mendapatkan senyum lebar penuh kepuasan dari pria dingin tersebut.