Hellbent

Hellbent
Bab 106: Dua Entitas


__ADS_3

Meskipun Ava pernah mengalami hal ini sebelumnya, bukan berarti ia bisa terbiasa. Karena sekujur tubuhnya yang kaku, badan Ava memalang keras di bak mandi.


Tenggorokannya tercekat dan tidak bisa bersuara. Sehingga, walaupun tubuhnya terasa terberai, ditata ulang, kemudian disatukan kembali, Ava hanya dapat diam.


Dirinya sendiri bahkan tidak tahu apakah dia bernapas atau tidak.


Semua indranya mati, dibanjiri oleh rasa sakit.


Ava sampai tidak sadar kalau di tengah semua kepedihan tersebut, ia pingsan.


***


"Kulihat kau berteman baik dengan tunanganku."

__ADS_1


Mendadak Ava berada di ruangan yang sudah ia tempati selama beberapa minggu terakhir, kamar Eve. Di sisi lain, dopplegangger-nya itu sudah nyaman duduk di sofa menghadap jendela yang membingkai langit biru cerah.


Kau bisa merubah pemandangan domain ini dengan sesuka hati? Ava nyaris bertanya dengan impulsif. Akan tetapi ia paham bukan hal itu prioritasnya.


"Kenapa kau ingin aku menggantikan posisimu sebagai seorang putri?" Akhirnya Ava memutuskan untuk mengkonfrontasi Eve mengenai objektif gadis itu yang sebenarnya.


Sekilas, sudut bibir Eve terangkat, akan tetapi sekejap itu pula senyum tipisnya menghilang. "Kukira kau ingin bermain kucing-kucingan lebih lama lagi."


Dalam situasi ini, berterus-terang sama saja dengan menunjukkan kelemahan. Dan keduanya jelas tidak berniat untuk tunduk lebih dulu. Akan tetapi, martabat seorang putri dari lahir berbeda dengan insting bertahan diri yatim piatu yang ditempa dunia sejak kecil, jadi Ava lebih memilih mengejar target yang tujuannya sudah ia ketahui, dengan begitu mereka akan lebih gampang tertangkap. "Marvin sendiri yang berkata kalau kau menyiapkan kontrak itu saat kepergianmu, artinya 4 bulan lalu. Sedangkan eksistensiku di dimensi ini masih 2 bulan lebih."


"Jadi untuk mendesakku keluar sekaligus membatasi langkahku selanjutnya ketika menggunakan kehadiranmu, kau memberikan rentang kontrak hanya sampai 9 bulan dihitung dari tanggal penandatanganan."


"Kontrak tanpa jangka waktu sama saja dengan perbudakan, Edodale sudah menghapus sistem laknat tersebut, bukan?"

__ADS_1


Kali ini Eve dengan terang-terangan menampakkan garis matanya yang melekuk, terhibur.


"Tapi sayang sekali, karena aku tahu kepribadianku sendiri, hal itu juga sudah kuperkirakan. Jadi 9 bulan sudah lebih dari cukup."


Mata kiri Ava berkedut. Senyumnya yang lebar kontras dengan berbagai kata kasat yang ia lontarkan. Seharusnya dia memilih 3 bulan saja. Tidak, lebih baik apabila Ava tidak menyetujui kontrak itu sama sekali. Sayangnya penyesalan selalu datang terlambat, belum ada jalan keluar. "Apa ini lucu bagimu?"


Namun Eve lebih tertarik membahas topik lain. "Omong-omong, bukankah kau sibuk dengan projek baru? Akibat insiden ledakan beberapa hari yang lalu?"


Melihat Eve yang masih belum benar-benar menjelaskan motifnya, Ava menyerah untuk sementara. Percuma membujuk orang yang kerasa kepala. Lagipula, Ava juga membutuhkan arahan Eve, sang ahli alkemis jenius yang asli, untuk memecahkan masalah ini. "Apakah ayahmu sering menyuruhmu kerja paksa seperti ini?"


"Yah, orang bodoh seringkali tidak mengenal batas ketidakmampuannya," Eve dapat dengan mudah menghina orang tuanya tanpa berkedip. Untung bagi Ava, dopplegangger-nya melanjutkan, "Kau masih ingat lab rahasiaku di Crimsonwood? Cobalah kesana."


"Jadi kau menyembunyikan inovasi yang belum dipublikasikan dan dapat membantuku di sana?"

__ADS_1


Eve hanya tersenyum.


__ADS_2