Hellbent

Hellbent
Bab 186: Pillowtalk


__ADS_3

"Kau-- Maksudku, saya, um, Anda tidak tidur?" River masih saja kerepotan dalam membiasakan diri menganggap Rina, gadis yang berbulan-bulan ia temani dalam perjalanan, ternyata adalah seorang putri kerajaan.


Ava melirik ke samping dengan bibir yang ditekan tipis, sedikit menggerutu. Segelas alkohol yang ia sumpal bibir botolnya dengan kain kering ia sembunyikan dari balik punggung. "Pikiranku tidak bisa tenang." Walaupun Ava yakin River tidak mencurigainya, gadis itu tetap merilekskan punggung, menatap dalam kobaran api unggun yang menari-nari dengan hangat di hadapan mereka, berusaha terlihat normal.


"Ah, um, Anda--"


"Bersikap santai saja," keduanya tidak memiliki waktu yang cukup untuk mengobrol seperti dulu meskipun selama sebulan mereka berada di istana setelah kejadian wabah zombie yang mengenai River, "sikap canggungmu lebih mengganggu daripada ketidaksopananmu."


Untuk beberapa detik, hanya derak kayu bakar yang terlalap jago merah mengisi pekatnya malam. River tertegun, sepertinya baru pertama kali ini Rina, maksudnya Eve, mengucapkan kalimat tajam kepadanya. "Oh, um, b-baiklah kalau begitu."


"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan tadi?"


Sesaat, keheningan tebal lagi-lagi melingkupi mereka. Astaga, mereka canggung sekali. Ava sampai bertanya-tanya, apakah ini efek dari kesenjangan status sosial yang seolah menampar pria di depannya? Sebab itulah River jadi lebih sungkan mengobrol dengan Ava? ... Ataukah River yang sudah memindahkan proyeksi almarhum adiknya dari Ava ke Siwon sekarang tidak memiliki minat untuk menjalin hubungan dengannya?


... Ugh. Rasanya seperti jarum yang menusuk sudut hatinya.

__ADS_1


Namun, berbeda dengan suara paranoid yang menginfeksi pikiran cemas Ava, River hanya takut menyinggung gadis yang teringkuk rapuh dengan ekspresi kesepian dalam wajah yang disinari oleh cahaya unggun. Jadi, River hati-hati memulai, "Setiap kali kau tidak bisa tidur, bukankah kau selalu mendengarkan artifak yang mengeluarkan musik?"


Ava berkedip, bingung. Tidak sesering itu ia menenangkan diri dari insomnia dengan lofi jazz sampai-sampai River dapat mengetahui kebiasannya, tapi kalimat selanjutnya lebih membingungkan lagi. "Kau juga selalu telentang lurus, melingkari perut dengan kedua tangan seolah memeluk diri sendiri, dan bernapas panjang-panjang."


... Ava bahkan tidak sadar hal tersebut. "Kalau kau punya masalah yang ingin dibicarakan, aku selalu bersedia," River mengakhiri pernyataannya dengan senyum tipis yang lembut.


"Perhatianmu lebih intens dari yang kubayangkan."


River menangkap maksud tersembunyi yang tidak sengaja terselip dari susunan katanya. "Tidak! Tidak seperti itu! Maksudku--!" pria itu langsung panik, menjelaskan kepolosannya dengan pipi berona merah yang seolah terbakar.


"Ah, maksudku bukan itu!" Rona malu River merambat hingga ke leher.


"Benar, dia sudah bertunangan."


Keduanya terlonjak, seketika menoleh ke asal suara. Ellijah.

__ADS_1


Asta-- Mungkin menurunkan output indranya hingga 1% bukanlah ide yang sebaik Ava pikirkan.


Sejak kapan dia mendengarkan?


...


...


"Um, Anda semua belum tidur?" Keno, mungkin saja terbangun di tengah-tengah kepanikan River yang lebih keras dari yang seharusnya, memotong kesunyian di antara tiga orang yang seolah terlibat skandal perselingkuhan.


Ava yang terlebih dulu menyahut, "Aku membuat sesuatu."


Laki-laki beratribut api tersebut meneleng penasaran, "Saya kira tidak ada bahan yang bisa digunakan untuk membuat artifak."


"Tidak, bukan item kompleks seperti artifak."

__ADS_1


Ava akhirnya bangga memampangkan sebotol alkohol yang bibirnya disumbat dengan kain. "Senjata buatan sederhana yang akan membantu kita melawan venus king besok. Molotov."


__ADS_2