
"Tapi kau sendiri yang bilang, berpura-pura menjadi keluarga kerajaan bisa dijatuhi hukuman penggal."
"Tidak jika memang kau melakukannya dengan baik." Ava membenci kilahan itu. Marvin sama saja menyuruhnya untuk bertanggung jawab sendirian terhadap isi kontrak tersebut.
"Lalu "tugas resmi sebagai seorang putri"? Aku harus tahu terlebih dahulu deskripsi pekerjaannya seperti apa."
"Kalau hal itu, sudah dirangkumkan dalam buku ini." Si pangeran mengeluarkan sebuah jurnal yang meskipun berwarna biru, bentuknya sama dengan apa yang Eve berikan langsung ke inventorinya.
Selain itu, "Kontrak tanpa batas waktu seperti ini, bukankah tidak berbeda dengan perbudakan? Kukira Edodale sudah menghapus kelegalan sistem budak ratusan tahun yang lalu."
"Kau masih bisa memodifikasinya."
Kalau begitu bilang dari tadi!
Menandatangani kontrak tidak boleh dilakukan terburu-buru.
"Akan kubaca dulu tugas-tugasnya, besok kita bertemu lagi untuk membahas perjanjian ini lagi." Marvin yang kembali tenang, hanya meminum kopinya dengan diam.
__ADS_1
Namun sebelum Ava beranjak, ia masih harus memperjelas beberapa hal, "Omong-omong, nama asliku Rina. Rina Hoffman."
"Tentu saja," pria itu mengangguk ringan. Alis Ava berkedut. "Dan kalau kau memang keberatan saat aku memakai apa yang sebenarnya dimiliki kakakmu, aku akan pindah kamar."
Keheningan yang berlalu tiap detiknya membuat Ava semakin tidak sabar, hingga akhirnya Marvin membuka mulut, mata abu-abunya menerawang jauh melewati jendela yang membingkai langit yang cerah. "Ah, tidak apa-apa. Aku malah senang saat kau memakainya," ucap pria itu dengan senyum sendu.
Apa ini?
Bukankah dia yang baru saja mengancam akan mengeksekusi mati Ava hanya karena dia mengenakan gaun Eve?
Terserah.
Dan satu hal lagi.
"Bagaimana dengan orang tua kalian?"
Ava memperhatikan secangkir kopi yang berhenti di udara, Marvin lalu menatapnya dengan pupil yang terguncang. Oh, dia belum memikirkan sejauh itu. Kedua jari tangan Marvin segera menyatu ketika ia berpikir, "Nanti kau pasti akan diundang pada makan malam keluarga, bersikap biasa saja." Dengan kata lain, raja dan ratu tidak tahu-menahu tentang perjanjian antara Ava dan Eve.
__ADS_1
"Kuharap kau sadar kalau aku tidak memiliki mana, berbeda dengan tuan putri Edodale."
"Apa?!" Sudah Ava duga. Namun ternyata Marvin dengan cepat menguasai diri, "Ah, maaf. Untuk hal tersebut, kita bisa mengarang kalau perjalanan kakak selama empat bulan kemarin merusak jantung mana Kakak atau semacamnya."
Masuk akal, kurang lebih.
Luka fisik, kutukan, atau skill seseorang bisa mempengaruhi kemampuan individu. Meskipun kasusnya jarang, kebocoran jantung mana yang merupakan sumber kekuatan seorang mage bisa terjadi.
Ava pun setuju.
Dan seperti yang mereka takutkan, Ava harus menghadiri makan malam keluarga kerajaan, pelayan dengan kumis kotak menjemputnya langsung.
Ava tidak ingin membuat keributan dan memenuhi jadwal dadakan tersebut. Setelah didandani, terasa berlebihan mengingat dia hanya akan makan, Ava manapaki lorong menuju ruang jamuan.
Setelah sepasang pintu tinggi dibukakan oleh dua prajurit yang berjaga, meja yang panjangnya mencapai puluhan meter dihiasi oleh karangan bunga setiap hasta. Meskipun begitu, hanya empat kursi yang terpakai. Kursi ujung, bagian kepala, diduduki oleh seorang pria paruh baya yang masih tersisa jejak ketampanannya dari pahatan tajam wajahnya. Sang raja. Lalu di samping kanan, wanita anggun bergaunkan emas dan rambut sanggul ketat tanpa satupun rambut liar, sang ratu. Di sisi lain, Marvin dan Ellijah duduk berdampingan. Ava sebenarnya tidak tahu harus duduk dimana, aturan rumit kerajaan sudah pasti mengaturnya juga, untung saja Marvin memberikan petunjuk dari kode matanya. Tempatnya berhadapan dengan adik palsunya. Setelah memberi salam, "Selamat malam, Yang Mulia Raja, Yang Mulia Ratu, Duke Frost, dan Pangeran Marvin," seorang pelayan menarik kursinya ke belakang, Ava pun akhirnya duduk.
Namun belum sempat satu detik, pertanyaan sudah datang dari pria yang paling berkuasa di meja tersebut, "Bagaimana perjalananmu selama empat bulan kemarin?"
__ADS_1
Oke, waktunya mendongeng.
"