
"Ada apa?"
"Oh, kenapa? Kenapa?"
Siwon dan Ellijah berbarengan menoleh. Tanpa menjelaskan seharusnya mereka paham. Ada orang asing yang berhasil masuk ke dalam lab rahasia ini. Namun bahkan setelah Ava mengambil kuda-kuda, keduanya masih menatap gadis itu dengan raut bingung.
... Apakah mereka tidak bisa melihat sosok utuh pria yang--
Tunggu dulu, dicermati lagi, laki-laki yang duduk di atas meja dengan wajah pongah tersebut memiliki tubuh yang tembus cahaya.
"Kalian tidak bisa--"
"Mereka tidak bisa melihatku." Pria itu berdiri, tapi kakinya tidak menapak lantai.
Badan transparan, melayang, dan tidak bisa dilihat oleh orang lain ... hantu?
Mengapa jalan hidup Ava berubah genre menjadi horor sekarang?
Ia pelan-pelan mengulurkan tangannya, tapi telapaknya hanya menembus bahu pria asing tersebut begitu saja, tidak bisa diraba. Namun saat Ava menarik kembali lengannya, tangannya ditampik keras.
A-- Apa-apaan?
Dia tidak bisa menyentuh tapi hantu itu bisa menyentuhnya?
"Jangan menjamahku sembarangan."
Bukankah setting seperti ini tidak adil? Kalau pria itu adalah musuh, Ava tidak akan bisa menyerang balik, bertahan pun menjadi sulit.
"Jangan memasang muka cemberut juga, tidak cocok bagi wajahmu."
Lalu, ... siapa dia dari tadi berbicara ngawur?
"Terserah padaku mau berbuat apa," Ava berbisik tajam. Hantu itu tidak bisa dilihat oleh orang lain kecuali dirinya, jadi akan aneh apabila Siwon dan Ellijah melihatnya berbicara sendiri.
"Wah, kalian sama-sama menyebalkan."
Namun dari isi dialognya, dia sepertinya mengenal Eve. "Kuasumsikan kau mengenali orang bernama Eve Weinhamer."
"Hah!" Si hantu mendongak meremehkan, seolah apa yang Ava bicarakan adalah topik payah. "Sudah jelas, bukan?"
... Satu lagi orang yang merepotkan.
Hubungan interpersonal Eve sangat berantakan.
"Kalau kau tidak berniat membantuku, ya sudah." Kehadiran sebuah--bukan, sesosok hantu memang mengejutkan. Namun Ava masih memiliki urusan lain yang harus segera ia selesaikan.
Jadi dia melengos, kembali mengobrak-abrik lab yang dipenuhi oleh semerbak antiseptik dan debu, mencari Necklace of Genesis.
"Hm, penampilan dan sikap kalian sama." Ava sudah bosan mendengar komentar seperti itu. Iya tahu, Eve adalah dopplegangger-nya.
"Tapi kau bukan Eve."
Ava membuka laci-laci pada meja yang ada.
"Setitik aroma jiwa Eve masih tertinggal padamu."
Tidak ada di laci. Pencarian Ava beralih pada rak-rak yang berisi toples organ. Meskipun jijik melihat isinya, ia mencari dengan detail setiap sudut rak tersebut, mungkin saja ada kalung yang terselip atau disembunyikan di antara benda-benda mengerikan itu.
"Kalian juga bukan anak kembar, karena anak kembar pun memiliki aroma jiwa yang berbeda. Sedangkan, kau dan Eve ...."
Ava buru-buru mengelap tangannya dengan sapu tangan ketika menyentuh permukaan toples yang basah. Ew.
"Hei! Dengarkan aku!"
Apakah toples tadi berisi jantung yang masih berdetak? Astaga.
"Hei!"
Pak!
Belakang kepala Ava dipukul, dengan refleks super gadis itu menyambit balik, tapi sayang tangannya hanya membelah udara.
Lihat, setting yang tidak adil. "Aku tidak punya urusan denganmu," gumam Ava berteteskan rasa kesal.
"Tapi aku penasaran!"
"Sekali lagi, bukan urusanku." Sebelum ia kembali ke penelusurannya, apa yang keluar dari mulut tembus pandang hantu tersebut menarik perhatiannya, "Ah, aku tahu! Kau pasti orang dari dimensi lain!"
Seketika Ava terpatung.
__ADS_1
Jarang ada yang mempertanyakan identitas samarannya sebagai putri kerajaan Edodale. Orang-orang yang tahu pun, Marvin dan Ratu Isabel, hanya menyangka kalau dia adalah gadis yang kebetulan memiliki rupa yang sama.
Jadi bagaimana hantu yang baru saja ia temui langsung menyimpulkan kalau ia berasal dari dunia lain?
Diam-diam, Ava menggunakan skill observasinya.
Nama: Adam Hanover
Ras: Manusia (Astral)
Level: 353
Kecepatan: (Terkunci)
Kekuatan: (Terkunci)
Kelincahan: (Terkunci)
Mana: (Terkunci)
Koin: (Terkunci)
Skill: (Terkunci)
Hah? Bukankah status jendela seperti ini yang lebih aneh daripada milik Ava yang hanya namanya disensor. Level yang dimiliki Adam memang yang paling tinggi yang ia lihat, tapi semua poin statusnya terkunci, skill yang ia punya juga demikian.
Tunggu dulu, Adam?
Ava mengeluarkan jurnal Eve dari inventorinya.
Sedangkan Necklace of genesis dapat membebaskan individu dari ikatan waktu. Sehingga masalah cooldown dapat teratasi, skill dapat diterapkan kapan saja, selama apapun. Aku tidak tahu bagaimana caranya Adam bisa mendapatkan artefak yang bahkan sulit kuketahui informasinya, tapi kurasa dia berguna juga. Untuk sekarang, item itu telah kusimpan di lab ku yang ada di Crimsonwood.
Benar, nama "Adam" pernah disebutkan oleh Eve dalam--
"Hei, itu jurnal punyaku!"
Apa? Ava mendongak, meskipun hantu itu tidak bernapas, ekspresinya mirip dengan banteng yang marah, hidungnya kembang-kempis. Sedangkan, Ava hanya menaikkan salah satu alisnya.
"Wah, kucari kemana-mana ternyata ada padamu!"
Ava tidak mau dituduh yang bukan-bukan. "Eve yang memberikannya padaku."
Langsung, Adam tidak menahan diri untuk mengutuk Eve mati-matian. Mulai dari sebutan berbagai jenis hewan, mengarah ke hinaan asusila dan penyakit mental.
Yah, Eve sudah terbukti melakukan percobaan tidak manusiawi, jadi tidak ada yang mencegahnya untuk mencuri sebuah buku.
"Jadi jurnal ini punyamu?"
"Kau pikir?!"
"Kalau begitu, kukembalikan sini." Ava meletakkan jurnal tersebut di atas meja. Toh, ia sudah menghapal resep-resep yang penting saking seringnya ia membuat ramuan sendiri.
Lama Adam hanya diam menggerutu, tapi pada akhirnya, "Argh, simpan saja, Tidak ada gunanya lagi untukku." Lalu kenapa kau kesal sekali?
Masalahnya, jurnal kedua yang baru saja Ava dapatkan harus tersembunyi dengan benar, buku yang berisi resep penawar wabah zombie. Ava tidak tahu siapa pemilik asli jurnal tersebut, tapi tidak akan memberikan Adam kesempatan. Memang benar hantu itu menyerahkan jurnal pertamanya dengan sukarela, tapi tidak akan menjamin begitu pula prosesnya bagi jurnal kedua.
Omong-omong, seperti yang tertera dalam tulisan jurnal. Adam memiliki hubungan dengan artifak yang ia cari, Necklace of Genesis.
Mungkin dia tahu letaknya sekarang?
Namun ... apa dia mau membantunya?
Adam secara praktis adalah orang asing. Sekilas saja Ava tahu kalau hubungan pria itu dengan Eve termasuk dalam kategori sangat buruk, sedangkan Ava memiliki wajah yang sama dengan musuhnya tersebut. Terlebih lagi, dia dari tadi berusaha mengabaikan kehadiran hantu yang hanya bisa dilihatnya. Impresi pertama mereka benar-benar kacau.
Hm, mungkin kalau dia memanfaatkan hubungan buruk Adam dengan Eve, Ava bisa--
"Jangan."
"Apa?" Jalan pikiran Ava terputus.
"Aku bisa tahu kalau kau sedang menyusun siasat. Astaga, identik sekali kalian."
Nah, Ava langsung bingung. "Kupikir kalian musuh bebuyutan atau semacamnya. Tapi kau dan Eve sepertinya dekat?"
"Dekat? Hah!" Adam tergelak, badannya yang transparan melayang dan bergetar karena tertawa gila-gilaan. "Aku budaknya seumur hidup!" Ledakan emosi yang tiba-tiba membuat Ava memundurkan wajah karena tidak nyaman.
"Diiming-imingi dengan kesuksesan, aku dengan polosnya mengikuti nenek lampir itu. Aku ahli dalam bidang makhluk hidup, Eve bergelut dengan alkemi dan artifak sihir. Setelah dikurung di sini, aku dipekerjakan mati-matian tanpa imbalan yang tidak lebih dari makan tiga kali sehari. Dan sekarang, aku mati. Aish!"
Tidak hanya penculikan, tapi Eve juga melakukan penyekapan, hm?
__ADS_1
Ava masih belum menyerah untuk memanipulasinya, "Aku juga diculik dari dimensi lain," menarik simpati.
"Nah! Benar, kan! Kau dari dimensi lain. Kejahatan nenek lampir itu memang tidak mengenal ruang dan waktu."
"Karena itulah aku mencari item yang bisa mengembalikanku ke dunia asal."
"Ah, makanya kau mengobrak-abrik lab ini?"
"Benar sekali." Apakah Adam terpancing?
"Item untuk penyebrangan dimensi, ya? Hm ...," Ava menunggu, "Oh! Necklace of Genesis!" Yes!
Tenang, Ava harus tenang dan menjaga ekspresinya. "Kau tahu?"
"Tentu saja, aku yang membawakannya kepada Eve!"
"Jadi dimana item itu sekarang?"
"Di belakang layar besar itu akan ada-- Tunggu dulu, kau memancingku!"
Ck, hampir saja.
"Astaga, kalian sama saja! Sampai merinding aku!"
Apa yang ia bilang tadi? Ava melangkahkan kakinya menuju monitor besar yang memenuhi dinding dalam, tapi monitor tersebut menempel dinding. Apakah akan ada ruangan rahasia lagi di baliknya? Namun apa yang bisa Ava lakukan? Gadis itu memandangi barisan keyboard dengan bingung.
"Teman saja tombol besar merah itu."
Ava memandangi hantu yang melayang di hadapannya dalam diam, jelas tidak percaya. Belum sedetik ia mengutuki Ava karena berhasil membuat Adam membeberkan lokasi artifak yang dicari, tidak mungkin sekarang ia dengan sukarela memberitahunya. Lagipula, tombol merah besar dalam film-film yang ia lihat biasanya pertanda buruk, pengaktifan self-destruct atau semacamnya. "Hehe, akan kujelaskan cara membukanya kalau kau berjanji untuk--"
Saat itulah Siwon datang.
"Mama! Mama ingin mengelhuarkan arthifak dewa?"
Ava hampir lupa kalau Siwon dan Ellijah masih di sini, memunguti benda-benda yang dinilai berharga. Mereka lebih mirip seperti penjarah sekarang.
"Hah, bocah naga ini mengganggu saja!"
Ava menghiraukan Adam. "Siwon tahu caranya?"
"Mama lupha ya? Kalhau begithu akan kutunjhukkan."
Aw, anak manis.
"Heh, tunggu!"
Siwon ber-polymorph menjadi naga. Sayapnya mengepak hingga sejajar dengan layar besar yang tertanam di dinding. Telapak mungilnya menyentuh monitor, cahaya kehitaman sekejap masuk, terserap.
Klik!
Bunyi kunci terbuka. Layar tersebut melepaskan diri dari dinding, menunjukkan isi brankas yang nyaris sepi. Namun Ava telah menemukan apa yang ia cari.
"Tidak!" Adam meratapi nasibnya.
Di dalam sana, terdapat dua buah kalung. Siwon dengan ceria menyambar kedua benda tersebut, lalu langsung memakaikannya pada leher Ava.
"Eh?" Adam seketika berhenti meraung.
Mendeteksi kepemilikan baru
Pemilik baru: Raven X
Kamu telah mendapatkan jiwa dari Adam Hanover.
Apa ini?
Adam lalu terkikik, kedua tangan yang tembus pandang gagal menahan tawanya.
Jiwa dari Adam Hanover akan menjadi asisten Anda dalam perjalanan.
"Hore! Akhirnya! Akhirnya aku bisa keluar dari tempat terkutuk ini!"
Tunggu, Ava tidak pernah menyetujui hal ini.
"Terima kasih kembaran jahat Eve. Oh, terima kasih naga mungil yang kecil, unyu, dan imut. Hore, terima kasih!"
Ava buru-buru melepaskan dua kalung yang menggantung dari lehernya.
Item memiliki fungsi terikat, tidak akan bisa dilepas jika tidak memenuhi syarat
__ADS_1
Sebentar saja, Ava sudah lelah dengan Adam yang terus saja terkekeh senang.
... Dia mendapatkan satu benalu lengket, ya?