
Keberangkatan Ava masih besok. Meskipun ia bersikeras untuk dibiarkan sendiri, Raja Dion tetap kukuh menempelkan seorang pelayan dan prajurit untuk menemani perjalanannya. Mau tidak mau Ava pun akhirnya menerima. Sayangnya karena itu, Ellijah melihat celah yang bisa ia manfaatkan.
"Kalau begitu, biarkan saya yang menemani Putri Eve." Duke Frost menawarkan diri.
Ava otomatis memelototi Ellijah, padahal tiga hari sudah Ava menolak untuk melihat muka pria itu, apalagi berbicara dengannya. Ketika makan malam dia diajak untuk berbincang ringan pun, Ava menjawab dengan ala kadarnya. Untung saja Ellijah masih memiliki kewarasan untuk tidak mengajaknya beradu mulut di hadapan raja dan ratu.
Mendengar ujaran Duke Frost, sang raja tersenyum lebar. "Ah, benar! Siapa lagi prajurit yang lebih pantas untuk menjaga Putri Eve dari bahaya selain Duke Frost, tunangannya yang gagah berani?"
Sebenarnya, Raja Dion sempat menolak dipercepatnya jadwal pernikahan antara Putri Eve dengan Ellijah karena ia masih melihat keuntungan lebih ketika si putri masih menjadi keluarga kerajaan. Otak encer yang gadis itu miliki tidak akan banyak ia jumpai, makanya meskipun terdapat resiko memperburuk hubungan royalti dengan keluarga Frost yang telah mengabdi selama ribuan tahun, Raja Dion masih mencari-cari alasan untuk memundurkan pernikahan. Untuk apa dia menjual angsa yang menelurkan emas? Akan tetapi setelah mendengar bahwa jantung mana Putri Eve bocor, pikirannya langsung mengarah pada hilangnya aset berharga, sebab tidak bisa menggunakan mana sama saja dengan memotong nilai produk yang ada. Meskipun Eve sendiri mengatakan kalau masalah tersebut akan terselesaikan dengan sendirinya bersamaan dengan waktu, Dion masih pesimis. Ditambah lagi ketakutannya terhadap goyahnya kekuasaan fasi royalti yang terancam apabila informasi tersebut diketahui publik, maka dari itu dia sangat antusias mendekatkan keduanya. Selain mengikis rumor buruk mengenai hubungan mereka yang tidak harmonis, posisi keluarga kerajaan juga akan semakin solid jika keduanya menikah. Dion pun tidak mengerti alasan Putri Eve terus memundurkan tanggal pernikahan dengan berbagai alasan, handalannya adalah "sibuk mengerjakan penelitian yang bisa bermanfaat untuk Edodale", karena gadis itu tahu benar raja tidak bisa menolak jika alasan yang dikemukakan seperti itu.
__ADS_1
"Kenapa menolak pinangan pria yang bibit, bebet, dan bobotnya seperti itu?" gerutu sang Raja, nampak sekali gerutuannya sengaja dikeraskan agar satu meja makan tersebut mendengar.
Untungnya ratu Isabel dengan cepat merubuhkan pengangkatan topik itu, "Apa kata rakyat jika kita mengadakan pernikahan saat aksi terorisme yang ada saja masih belum terselesaikan."
Marvin mengangguk setuju, "Benar, penduduk masih saja cemas dengan kemungkinan aksi ancaman di kemudian hari."
"Kalau begitu selesaikan dengan cepat, Kepala Tim Investigasi," sambar Raja Dion, sorotnya tajam mengarah ke kursi si pangeran.
Setengah jam selanjutnya, sesi berakhir. Semua yang hadir sudah berniat kembali ke kamar mereka masing-masing, tentu saja kecuali Ellijah yang keras kepala mengikuti Ava.
__ADS_1
"Putri Eve, kita perlu bicara."
Ava tetap berjalan, lajunya malah semakin cepat.
"Putri Eve, kumohon."
Dia tidak mau mendengar ataupun dekat-dekat dengan Ellijah.
"Putri Eve," kali ini orang yang memanggil berbeda. Ellijah dan Ava sama-sama berhenti, menoleh ke arah Ratu Isabel yang baru saja keluar dari ruang makan. "Bisa kita bicara sebentar?" tanyanya dengan senyum tipis yang lembut.
__ADS_1
Apa lagi ini?