
Ava berdiri di samping jendela kamarnya, menyandarkan tubuh di dinding yang membatasi ruangan tersebut. Sesekali pusat gravitasinya berubah karena kapal yang terus bergoyang mengikuti gelombang laut, tapi gadis itu tetap berdiri tegak.
Cahaya bulan yang keunguan menembus kaca dan membentuk geometri terang di lantai. Ia sudah mengalami glitch prematur seminggu yang lalu. Pertanyaannya, apakah ia akan menderita lagi pada malam bulan ungu ini? Ataukah frekuensi fenomena glitch semakin pendek dan dia tidak perlu khawatir setidaknya dua minggu lagi?
... Mungkin.
Hah, cemas menunggu hanya memperburuk suasana hatinya.
Ava akhirnya memutuskan untuk tidur. Kalaupun tengah malam nanti ia lagi-lagi mengalami glitch, akan ia terima begitu saja. Toh, ia tidak pernah sempat melakukan persiapan setiap kali rasa sakit yang luar biasa tersebut datang.
Setidaknya ia kini bisa menyimpulkan bahwa glitching tidak hanya muncul satu bulan sekali.
Omong-omong, sudah berapa persen sinkronisasi berjalan?
Ava masih belum yakin apa fungsinya fitur itu, informasi apapun akan berguna. Ava tidak sempat melihat hasil prosesnya karena kejadian aneh di bawah danau Crimsonwood.
Nah dipikir-pikir lagi, bagaimana bisa ia keluar dari kamar mandi sendiri? Ataukah Ellijah menggotongnya? Siwon? Mengingat status kekuatan naga cilik tersebut, tidak ada salahnya berasumsi. Dia sempat melupakan kejanggalan itu karena terlalu fokus dengan lab rahasia yang akhirnya ia temukan.
__ADS_1
... Ah, Ava terlalu banyak pikiran, pandangannya masih segar dan tidak menunjukkan kantuk, padahal ia sendiri tahu kalau dirinya membutuhkan istirahat.
"Kau tidak tidur?"
Kedua alis Ava menukik. Berkali-kali sudah ia memperingatkan Adam untuk tidak mengganggunya saat tidur. Raga hantu tidak berperan layaknya manusia, mereka tidak membutuhkan makan, minum, ataupun tidur. Dan berhubung arwag itu cepat bosan, Ava lah yang menjadi korban. Kalau bukan karena fitur "pembatalan panggilan" pada kalung spirit-nya, gadis itu tidak akan memiliki hal yang dapat mengancam hantu tersebut. Adam memilih untuk diam daripada dikurung di tempat kosong antah berantah sebab kalung sihir.
Yah, mungkin kali ini Ava biarkan saja. Toh ia tidak bisa tidur sekarang.
" ... Belum bisa."
"Kenapa? Temanmu si penjinak monster itu kan sudah selamat."
Ava menghela napas panjang, sedikit tertawa dalam hati. Pertama kalinya curhat di dunia fantasi ini, pendengarnya adalah arwah yang baru ia temui.
"River ... menganggapku sebagai pengganti adik perempuan yang meninggal karena outbreak."
"Oh."
__ADS_1
"Hm, karena itulah meskipun kami pada dasarnya hanya orang asing, ia bersikap protektif. Sampai rela meninggalkan kampung halamannya untuk mengikutiku hingga Oranera."
" Ok?"
"Sayangnya kemudian aku diculik dan dijadikan sebagai seorang putri palsu. Tiba-tiba menghilang seperti itu pasti memberikan beban mental kepada River." Adam lah satu-satunya orang yang tahu kalau ia berasal dari dimensi lain, menyebabkan kelegaan yang berujung pada keterbukaan, mungkin kelelahannya juga berkontribusi dalam kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya.
Dan Ava tidak bisa berhenti.
"Namun mungkin kepergianku sebenarnya dibutuhkan oleh River. Agar pria itu tidak terus-terusan terkekang rasa bersalah yang sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali denganku ataupun ketergantungan emosi yang dalam jangka panjang tentu akan menghancurkannya."
"Kau hanya melarikan diri kalau begitu, entah karena merasa terganggu atau kau juga merasa bersalah."
... Oh.
Ava mengamati lurus mata tembus pandang dari arwah yang melayang di samping kasurnya. "Mungkin saja." Jembatan hidung gadis itu mengerut. "Tapi perasaan River bukan tanggung jawabku, dia--"
"Tetap saja, kau masih merasa bersalah."
__ADS_1
Apa ini? Ava merasakan air mengalir jatuh. "Yah, itu karena ... River adalah orang baik yang tulus. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika aku merusak dia."
Sudah terlalu banyak orang menderita karena kehadirannya.