
Meskipun Lexa meyakinkan mereka kalau direktur baru dapat dipercaya, Ava masih ragu. Bisa saja kakek tua itu belum menunjukkan sifat aslinya, seperti direktur jahat lama yang dulu. Namun ... dipuji oleh orang dewasa rasanya tidak buruk juga.
Dan juga, misi mereka berhasil.
Tidak butuh waktu yang lama untuk tiga serangkai mendapatkan perhatian lebih yang kentara dari direktur baru. Setiap sore menjelang makan malam, mereka berkumpul di belakang halaman panti asuhan. Kakek tua itu bahkan bersedia untuk mengajari Alex ilmu bela diri berhubung tubuhnya masih bugar walaupun sudah berumur, Ava bersikeras untuk ikut.
Terlebih lagi, para staf yang sudah melembek akibat disiplin direktur baru, bahkan dengan sengaja menjauh dari tiga bocah tersebut jika memang tidak ada perlu. Keuntungan bonus yang sangat disambut oleh Ava, Alex, dan Lexa.
Sayangnya, banyak anak-anak panti tidak terima dengan sikap yang dianggap pilih kasih itu. Keakraban tiga serangkai dengan direktur baru berimbang dengan diskriminasi serta aniaya yang didasari oleh rasa iri. Kali ini, keterlibatan kakek tua hanya akan memperburuk situasi. Mereka bertiga harus menyelesaikan masalah ini sendiri.
"Aw!" Lexa baru saja keluar dari perpustakaan saat rambutnya tiba-tiba ditarik keras, Ava langsung mencakar tangan nakal yang berani menganggu mereka.
Tapi pihak lawan ternyata memiliki jumlah yang lebih banyak, 4. Hanya ada Ave dan Lexa, Alex masih membantu direktur baru membenahi kebun yang sudah lama terbengkalai.
"Jangan banyak gaya, deh!" Kedua lengan Ava masing-masing dikunci dari kanan dan kiri. Buk! Bocah ketiga tanpa membuang waktu meninju perut gadis itu. Di sisi lain, tubuh lemah Lexa ditekan di lantai hingga ia kesulitan bernapas.
"Hei, lepaskan!" Ava meronta.
Buk!
"L-le-lepas...." Wajah Lexa membiru, kelopak matanya bahkan terancam tertutup.
Buk!
"Adukan saja ke direktur monster itu!"
Tidak lama, Lexa pingsan.
"Kubilang, lepaskan!"
"Akh!" Gigitan Ava menembus kulit lawan yang mengekang lengan kanannya. Sedangkan ulu hati lawan di kiri ia tendang. Keduanya dengan refleks melepaskan gadis tersebut.
Ia kemudian menerjang maju, mencekal anak yang dari tadi meninjunya. "U-ugh!" Ava mencekik.
__ADS_1
Bocah yang menahan Lexa seketika bangkit, mati-matian menarik tangan Ava yang tegak dan tidak bergerak, berusaha menyelamatkan kongkolannya. Dua anak yang lain sadar dari kesakitan mereka, berusaha membantu dengan mendorong atau menendang Ava.
Lawan yang lehernya ia cengkram pingsan.
"Kau gila?!"
Tanpa jeda, Ava membanting anak yang meneriakinya. Ia pukuli hingga babak belur wajah ketakutan bocah tersebut.
Namun stamina seorang anak kecil terbatas. Dua lawan yang tersisa kali ini berhasil menjauhkan Ava dari korbannya.
Mereka berjalan mundur, tidak sadar kalau pintu ruang boiler bawah tanah terbuka.
"Ava!"
Uluran tangan Lexa tidak dapat menggapai tubuh Ava yang ditarik oleh gravitasi.
Ketiganya jatuh.
Tubuh mereka terbentur dinding serta belasan anak tangga.
Rintihan dua orang terdengar tidak jauh dari tempatnya terkapar.
Mereka belum diselesaikan.
Namun Ava tidak memiliki tenaga yang tersisa.
Untuk segera mengakhiri pertarungannya, Ava harus apa? Pikir. Agh, kepalanya pusing.
Saat itulah kobaran dari perapian boiler menyita perhatiannya, Ava menyeret langkah untuk mendekat. Sama sekali tidak sadar kalau dua anak yang jatuh bersamanya sudah sangat kesakitan hanya untuk bergerak.
Ah, panas!
Namun hal ini pasti akan menakuti mereka.
__ADS_1
Jadi dia menyambar salah satu kayu yang tertata rapi, membakar ujungnya, kemudian mengayunkan kayu yang menyala tersebut ke sembarangan arah.
Pandangannya merah dan buram.
"Ja-jangan ... hah, ganggu ... kami lagi, huuh."
Kenapa mereka selalu saja diusik?
Padahal ketiganya hanya ingin bermain dan membaca di perpustakaan!
Makan tiga kali sehari.
Menerbangkan layang-layang di lapangan.
Menonton TV.
Kenapa hampir setiap hari mereka harus dipukuli? Hanya karena umur yang lebih tua tidak memberikan hak mereka untuk menganiaya Ava, Alex, dan Lexa!
... Panti asuhan busuk.
Robohkan saja, dia tidak peduli.
Ava rubuh, pingsan.
***
Gadis itu perlahan sadar, guncangan bahunya tidak berhenti.
Apa yang bisa ia tangkap dari pandangan buramnya ialah warna merah menyala serta sesosok wajah.
Ia mendengar ... Lexa yang menangis.
Dan merasa panas.
__ADS_1
Sangat panas.