Hellbent

Hellbent
Bab 23: Raven X


__ADS_3

Tidak lama kemudian, Brady, pria asing itu, tidak sadarkan diri dengan wajah yang membengkak. Ava melihat apatis air mata, liur, serta ingus yang mengotori muka makhluk menyedihkan tersebut, begitu juga kencing yang basah di antara celana coklatnya. Ia mengelap telapak tangannya ke baju pelindung tipis yang dipakai oleh korban barunya.


Ava kembali memburu slime biru sebanyak-banyaknya, mumpung gate ini adalah sarang monster, jadi ia tidak perlu mencari jauh-jauh seperti perburuannya di dunia luar, menghemat waktu.


Hingga ketika Ava mendapatkan bola lendirnya yang ke-40, sebuah notifikasi muncul.


Selamat!


Para pemain telah memburu 100 slime biru. Akses keluar telah diberikan, pintu akan tertutup otomatis setelah satu jam berlalu.


Selamat!


Nama Anda akan tercatat dalam papan kontribusi.


Error!


Tidak bisa otomatis memasukkan identitas.


Silahkan menuliskan nama Anda secara manual.


Masukkan nama depan dan belakang Anda.


Minimal 6 karakter.


Eksistensi bug seperti dirinya tidak terekognisi oleh sistem, namun untungnya ia masih bisa masuk secara manual. Selain itu, Ava tidak melihat error lain yang muncul, tidak ada distorsi waktu dan tempat, dia juga tidak dipaksa keluar gate, lingkungan tempatnya berpijak juga nampak baik-baik saja.


Kurasa hanya itu?


Sekarang, Ava harus menciptakan nama palsu yang lain. Menggunakan nama Rina hanya akan mengumumkan pada River dan lainnya kalau levelnya masih di bawah 10, berbeda dengan yang nampak, malah akan memunculkan kecurigaan yang tidak perlu. Nama Mia Tollman yang ia pakai saat mendaftar juga kemungkinan besar telah dikaitkan oleh Ezra dengan dirinya, tidak ada gunanya ia diam-diam berangkat ke gate ini jika nama tersebut terpampang di papan kontribusi, meskipun hanya untuk sesaat sebelum gate ini hilang dengan sendirinya. Asalkan si pangeran dan para pelayannya tidak tahu-menahu kalau Ava pernah ke sini dengan memata-matainya.


Nama orang yang tidak ada dalam papan kontribusi juga langsung dianggap mati oleh para petugas, pada gate berlevel rendah mereka hanya akan menghitung jumlah kepala yang keluar, bukan kewajiban mereka memberitahukan pihak keluarga yang ditinggalkan. Seperti itulah yang mengikuti klausa perjanjian yang telah ditandatangani tadi. Artinya, hidup orang berlevel rendah bukan urusan mereka.


Nama baru, hm.


Ava menghirup napas dalam, bau lumut dan rumput segar sedikit menenangkan adrenalin yang terlalu tinggi. Ia menatap ke langit, sekawanan burung gagak terbang sembari meraung-raung di angkasa sore.


Ava mengetahui fakta bahwa burung gagak adalah omnivora, mereka memakan apapun, bangkai sekalipun. Mereka memanfaatkan apa saja untuk bertahan hidup, perumpamaan yang cocok dalam keadaannya saat ini.


Jadi dia mengetikkan Raven X.

__ADS_1


X hanya untuk melengkapi syarat minimal karakter.


Raven X 4764 poin kontribusi.


Selamat!


Anda memiliki poin kontribusi tertinggi, hadiah akan segera dibagikan.


Ratusan koin sebagai hadiah tidak buruk juga, ditambah dengan 25 tambahan bola slime yang nanti bisa dijual, selain itu ia juga mendapatkan sebuah batu mana biru sebesar jempol, atribut air.


Tidak lama setelah itu fenomena asing terjadi. Udara di sekitar terasa terhisap pada sebuah titik di depannya, kemudian seutas cahaya putih memanjang pada ruang kosong, satu setengah meter di atas tanah. Selanjutnya cahaya tersebut melebar lalu memanjang seraya diikuti suara 'wing' nyaring. Pintu yang menyerupai gate masuk tadi muncul di hadapannya, kali ini bukan berwarna kuning melainkan putih menyilaukan.


Ava rasa inilah jalan keluarnya, jadi dia melangkah.


Telinganya langsung disibukkan, mendengar desusan-desusan heboh yang terjadi di sekitarnya. "Benar sudah selesai? Kita telah memburu 100 slime biru?!"


"Sistem berkata begitu. Tapi hanya dalam 3 jam?!"


"Sepertinya di antara kita ada pemburu maniak!"


"Nah! Nah! Aku saja baru mendapatkan 4!"


"Eh, walaupun serangan mereka lemah, rasa gatalnya sangat membuat tidak nyaman!"


"Benar! Apalagi karakteristik tubuh mereka yang seperti likuid, seranganku bahkan ada yang terserap dan tidak menimbulkan luka sedikitpun!"


"Tunggu, tunggu! Jika secara normal kita telah memburu masing-masing 3 slime biru, maka untuk mencapai 100, ada yang sampai membasmi ... 60!"


Lebih tepatnya 40, jadi ada partisipan yang berburu seperti orang gila sama dengannya, meskipun Ava dua kali lipat lebih gila.


"Wow! Bukankah rekor sebelumnya hanya mencapai 15? Astaga! Genius baru telah lahir!"


Ava mulai terganggu dengan celotehan mereka.


"Pertanyaannya siapa?! Nama! Berapa lama lagi kita harus menunggu papan kontribusi muncul?!"


"Sampai orang terakhir keluar dari gate. Sabar saja! Kuhitung cuma tinggal dua orang lagi!"


Panjang umur, seorang pria yang memasang wajah bingung sama seperti yang lainnya muncul.

__ADS_1


Tinggal satu orang.


Ava ingin mengecek apakah nama yang ia masukkan dengan benar terpampang di papan kontribusi, jadi bukan dalam bentuk sensor seperti jendela statusnya. Jadi dia ikut-ikutan menunggu seperti orang-orang yang lainnya. Lagipula berusaha segera pulang di tengah fenomena seperti ini akan mengarahkan perhatian kepada dirinya sendiri, meskipun ia pandai menyelinap, menyelinap di antara belasan orang yang mengamati hati-hati keadaan sekitar mereka akan cukup sulit.


Mengisi waktu senggang, Ava menggunakan skill observasinya lagi, rata-rata level mereka naik satu tingkat dari yang sebelumnya.


Di tengah-tengah pengamatannya, seruan seseorang terdengar. "Oh, orang terakhir!"


Pemuda dengan raut gelap muncul, laki-laki itu memandang sekitarnya dengan hidung yang bersungut-sungut. Tidak tahu apa yang membuatnya marah. Mungkin ia tidak tahan dengan rasa gatal dari semburan slime biru?


Tapi hal lain menjadi fokus Ava. Pemuda itulah satu-satunya orang yang kini berlevel 12 di antara peserta yang lain.


Jadi dialah orang gila yang maniak berburu seperti Ava?


Ding!


Semuanya bersorak semangat ketika akhirnya yang ditunggu-tunggu muncul.


Papan Kontribusi


Raven X - 4764 poin


Hu Gao- 2384 poin


Olafs Pencis - 1534 poin


Jadi nama yang ia masukkan baik-baik saja.


Kemudian, memang benar orang yang terakhir keluar tadi maniak berburu, genius yang sebenarnya, berbeda dengan Ava yang hanya eksistensi bug. Nama mereka sama dengan apa yang ada di papan kontribusi.


"Raven X? Siapa Raven X?"


Pemuda yang masih marah-marah tanpa alasan yang jelas itu juga bertanya-tanya, "Siapa Raven X?" rahangnya kaku hanya dengan mengucapkan nama musuh barunya.


Namun tidak ada yang mengaku. Belasan orang di sana riuh mencari-cari orang asing yang namanya baru mereka dengar.


Hao, pemuda tersebut, mengelus gagang goloknya. "Harus segera kulaporkan ke kakak besar." Ia akhirnya melangkah dengan berat, ketidakpuasan secara praktis tergambar dari seluruh gerak-geriknya, mengundang aura tajam yang membuat orang-orang menjauh secara naluri. Namun sebuah wajah cantik yang termahkotakan rambut pirang berkilau mencuri perhatiannya.


Sayangnya, wanita yang ia incar segera angkat kaki saat perhatian semua orang masih teralihkan oleh nama di pengumuman kontribusi.

__ADS_1


__ADS_2