
Ava tidak mau menarik perhatian yang tidak perlu, karena itulah ia secara spesifik meminta raja untuk merahasiakan keberangkatannya. Jadi Ava, Ellijah, dan Rose memasuki kereta kuda dengan diam-diam pada jam 4, pagi buta. Rose adalah pelayan pribadi yang secara acak ia pilih, entah kenapa pelayan itu nyaris pingsan ketika ditunjuk, atau kenapa dua pelayan yang lain berpamitan dengannya seolah mereka tidak akan pernah bertemu. Di sisi lain, meskipun terdapat kantung mata pada wajah lesu Ellijah, pria itu memiliki sorot yang segar, ceria bahkan.
Ugh, Ava sudah bisa membayangkan hari-harinya ke depan yang tidak akan tenang. Jelas sekali pria itu akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mengganggunya.
Sehingga, walaupun diselingi dengan gerutu, Ava tetap menyambut uluran tangan pria itu untuk menaiki kereta kuda.
"U-um, Tuan Putri, sebenarnya kita akan kemana?" Rose melirik takut-takut sembari membungkus tubuh majikannya itu dengan mantel berbulu tebal. Hitungan tanggal musim gugur telah berlalu, angin yang berhembus semakin hari semakin membekukan, apalagi ketika mereka berangkat bahkan sebelum matahari terbit. Meskipun Rose takut setengah mati akan dijadikan sebagai subjek eksperimen sesuai dengan rumor, dirinya harus dengan rajin menjalankan tugasnya untuk melayani Putri Eve. Mungkin juga ia akan terlepas dijadikan kelinci percobaan jika Rose melakukan pekerjaannya dengan baik. Melihat Putri Eve yang menyukai orang-orang kompeten, tidak mungkin ia akan dikorbankan jika sang putri puas dengan pelayanannya, bukan?
"Mencari inspirasi," Ava menjawab singkat tanpa penjelasan lagi. Dari kalimat Eve beberapa hari yang lalu, ia menduga sudah ada rancangan yang disiapkan atau setidaknya berguna untuk memuaskan raja dalam projek ini. Jadi Ava tidak berbohong.
Jurnal milik Eve yang ia baca nampak menitik beratkan kerahasiaan lab yang Ava tuju saat ini, jadi lebih baik jika ia tidak membahas lokasinya secara spesifik.
__ADS_1
Rose yang tanggap langsung mengerti, ia tidak bertanya lagi. Kali ini Ellijah yang memecah keheningan di dalam dokar tersebut. "Pertama-tama, saya ingin meminta maaf, Tuan Putri. Sepertinya reaksi saya beberapa hari yang lalu membentuk kesalahpahaman antara kita berdua."
Jadi dia ingin berkilah sekarang?
Ava memandang datar pria di hadapannya, tidak tertarik. Pria dimanapun sama saja. Walaupun begitu, Ellijah tetap meneruskan, "Saya menggunakan penutup mata waktu itu."
Ava tidak merespon.
"Oh, artifak pembersih? Jadi beberapa malam yang lalu Duke Frost membangunkan kepala pelayan untuk membantu Tuan Putri?" Rose tanpa sadar berceloteh. Ia tidak sengaja mendengar kepala pelayan yang curhat karena kekurangan tidur akibat Duke Frost. Namun suasana yang sepi menyadarkan Rose kalau dia telah keceplosan. Tangannya langsung menepuk pelan mulutnya.
Namun karena itulah Ava menyadari ada bagian puzzle yang belum ia sadari, makanya ia mendesak Ellijah untuk meneruskan, "Selanjutnya, bagaimana dengan pakaianku?" Tetap saja, Ava terbangun dengan baju yang berbeda pagi itu.
__ADS_1
"Kepala pelayan yang mengurusnya, kupikir setelah bersih, tidak akan ada yang mencurigai apa yang sebenarnya terjadi."
Walaupun begitu Ava tidak langsung percaya begitu saja. Di antara mereka bertiga di dalam kereta kuda tersebut, hanya pelaku yang dapat memberikan testimoni. Ava adalah korban yang tidak sadarkan diri. Sedangkan Rose adalah pihak ketiga yang tidak tahu apa-apa. Ava harus bertanya langsung ke kepala pelayan untuk memastikan.
Lagipula, tidak ada yang menjamin Ellijah menggunakan artifak pembersih dengan mata yang tertutup. Selain itu, reaksinya saat ia bangun juga aneh.
"Lalu kenapa wajahmu memerah?"
Untuk beberapa saat keheningan, sebelum Ellijah membuka mulut lagi, "Karena aku membayangkan--"
Ava refleks menendang tulang kering pria itu.
__ADS_1
Rose yang masih belum mengerti konteks percakapan majikanya dengan Duke Frost hanya tersentak bingung.