
Lexa mengatakan kalau mereka bertiga harus berusaha mendekati si direktur baru. "Kakek itu akan berperan penting dalam kehidupan kita ke depannya."
Ava belum mengerti. "Kok bisa?"
"Karena orang dewasa secara alami tunduk kepada yang lebih kuat."
Alex juga ikut-ikutan bertanya, "Tapi dia sudah tua, kuat bagaimana?"
"Kuat maksudku bisa ke kekuasaan, uang, dan tahta. Jabatan direktur pangkatnya paling tinggi di sini, berhubung si kakek juga berbeda dengan direktur lama yang jahat, kita bisa menggunakan strategi "anak anjing yang dibuang"!"
Dengan kata lain, memanfaatkan simpati serta rasa tanggung jawab orang dewasa agar mengasihani mereka.
"Tapi tentu saja strategi ini masih belum cukup."
Tujuan utama mereka adalah selamat dan sukses keluar dari panti asuhan, bersama. Terdapat dua cara resmi yang dapat ditempuh untuk keluar dari sana. Pertama, diadopsi. Namun setelah berbulan-bulan tinggal di panti asuhan, mereka sama sekali tidak melihat ada orang dewasa yang berkunjung untuk mengangkat mereka sebagai anak. Pantas saja, gedung bobrok mereka sepintas saja sudah memberikan kesan seram, penampilan luar yang secara insting dihindari agar jauh dari bahaya. Solusinya jelas-jelas renovasi, akan tetapi direktur yang mereka bunuh sudah terlalu lama menggelapkan dana panti asuhan, hasilnya tidak ada yang beres.
Cara kedua ialah menunggu dewasa. Anak-anak panti yang sudah bisa mendapatkan kartu identitas resmi akan segera dilepaskan oleh panti asuhan untuk hidup secara mandiri. Yah, "dilepaskan" mungkin bukan istilah yang cocok, "diusir" lebih tepatnya. Namun setidaknya mereka sudah bisa bekerja dan menyewa kamar kecil dari modal uang sosial yang mereka dapatkan. Sayangnya prosedur ini memakan waktu bertahun-tahun bagi tiga serangkai yang masih belum genap berumur 8.
__ADS_1
Jadi langkah yang harus mereka ambil terlebih dahulu ialah terlihat memelas di depan direktur baru.
Untungnya, Lexa tahu kalau si kakek tua telah mendekati Ava terlebih dahulu.
***
"Sedang apa kalian?"
Perhatian target sudah didapatkan.
Kedua alis putih Sven naik, ketertarikannya nampak dari salah satu sudut bibir yang terangkat. "Oh, boleh aku lihat?" Awalnya, dia hanya berniat untuk jalan-jalan sore seperti biasa, sesekali melirik gadis cilik yang sudah menjadi pusat perhatiannya sejak awal datang ke panti asuhan ini. Dengan luka bakar yang merusak separuh wajahnya, Sven sudah tidak asing lagi dengan reaksi ketakutan anak-anak yang melihatnya, padahal dirinya ingin mendekati mereka. Namun berbeda bagi gadis cilik itu, manik hitam bulatnya berkobar dengan tekad yang biasa ia lihat pada prajurit bawahannya saat mereka diterjunkan pada medan perang. Gentar dan berani.
... Tapi setelah melihat dokumen histori dan menyaksikan langsung apa yang dialami gadis cilik tersebut sehari-hari, Sven langsung paham.
Bocah perempuan itu harus kuat, gentar, dan berani jika tidak ingin rusak.
"Kakek bisa menjadi juri!"
__ADS_1
Target telah masuk dalam perangkap.
"Jadi, apa yang mau kalian tunjukkan?"
Lexa yang pertama maju, membacakan puisi buatannya sendiri dengan irama sendu serta menghanyutkan. Ava dan Alex dengan heboh bertepuk tangan hingga tangan mereka memerah.
"Pesan yang disampaikan dari puisi tadi sangatlah bagus dan mendalam, aku bahkan tidak akan percaya jika anak berumur 7 tahun yang membuatnya!" Sven menghayati perannya sebagai juri.
Selanjutnya, Alex maju. Bocah itu ... menari? Tangan dan kakinya bergerak secara dinamik, mengikuti irama ketukan yang Ava bantu dari samping. Sebenarnya, Alex hanya mengikuti gerakan yang ia lihat dari film aksi pada televisi buram milik panti asuhan. Para staf yang menyetelnya, mereka bertiga diam-diam mengintip.
Namun gerakan acak tersebut ternyata masih saja diapresiasi oleh Sven yang terhibur, "Kau punya bakat untuk belajar bela diri!"
Yang terakhir, Ava. Dia bernyanyi. "Somewhere over the rainbow. Way up high. And the dreams that you dream of once in a lullaby~"
Sven terpatung. Woah, merdu sekali. Suaranya manis dan lembut, nada ringan yang dikeluarkan juga membuat suasana hati Sven menjadi senang. Tanpa sadar ia tersenyum. Gadis itu cocok sekali jika menjadi penyanyi. Saking larutnya, ia bahkan tidak sadar jika performa bocah perempuan tersebut tersebut selesai jika bukan karena kericuhan dua yang lain dalam menyemangati Ava.
"Golden buzzer!" Sven jadi ikutan semangat.
__ADS_1