Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Lelaki Sejati.


__ADS_3

Dalam sebuah ruangan yang tampak di penuhi dengan barang-barang tajam dan juga senjata, tampak seorang lelaki yang di ikat pada kursi dengan di kelilingi oleh orang-orang bertubuh tegap dengan kulit yang berbeda.


Keadaan nya saat ini terlihat memprihatinkan, sudut bibi sudah membiru, dan sedikit mengeluarkan darah, pipinya juga terlihat memar, menandakan dia baru saja di pukuli.


Ya, Faris sedang menghakimi Abiyan, atas kelancangan nya membocorkan rahasia nya.


"Katakan pada ku, siapa kamu sebenarnya!" tanya lelaki dengan mata elang nya menatap tajam pada lelaki yang berjarak hanya beberapa senti dengan wajahnya.


Melihat kemarahan Faris, bukan nya takut, Abiyan malah terkekeh "Apa hak mu memaksaku memberitahu tentang ku pada mu!" cibir Abiyan membuat Faris semakin geram.


"Jangan bertele-tele dengan ku, katakan dimana kamu mengetahui tentang pernikahan ku dengan istri ku, dan apa tujuan mu mengatakan itu pada istri ku?" tanya Faris lagi dengan nada begitu dingin, penuh ancaman.


Abiyan mendelik, dengar tersenyum sinis pada Faris dia menjawab "Bahkan sangat mudah mencari informasi tentang mu, dengan mendatangi Bar terbesar di kota ini, dalam satu jam bahkan aku sudah mendapatkan apa yang aku cari. Dan ... Tujuan nya kamu sendiri sudah tau, jika aku menginginkan istri mu...!"


Plak...


Lagi-lagi wajah Abiyan di tampar dengan begitu kuat, tapi bukan dengan tangan Faris, melainkan anak buahnya.


Sedangkan Diki yang berdiri tegap, menyaksikan semua nya, setelah Faris menjelaskan semua pada dirinya, Diki juga ikut geram atas tindakan yang Abiyan lakukan.


"Jangan pernah bermain-main dengan ku, bahkan saat ini aku bisa saja membunuh mu!" tukas Faris dengan nada ancaman.


Akan tetapi lelaki di hadapannya itu lagi-lagi tertawa remeh "Apa hanya itu yang bisa anda lakukan? Apa dengan membunuh ku istri mu bisa memaafkan mu jika dia mengetahui nya? Dan satu lagi, apa kamu takut jika aku masih hidup akan menjadi ancaman karna akan kehilangan istri kesayangan mu?" tanya Abiyan beruntutan.


Mendengar itu, salah seorang dari anak buah Faris ingin kembali menghajar Abiyan, tapi dengan sigap Faris mengangkat sebelah tangan nya, menandakan jika dia tidak perlu melakukan nya.


Faris mencondongkan tubuhnya, merapikan jas yang memang sedikit berantakan, bibirnya berdecap sambil melirik sinis pada lelaki yang menjadi duri dalam rumah tangga nya.


"Apa kamu sedang menantang ku, menaklukkan hati istri ku, hem? Jangan kan satu, bahkan beribu lelaki seperti mu yang mencoba merusak rumah tangga saya, itu akan sia-sia, karna saya bisa menjaga istri saya sendiri, dan saya percaya, jika istri saya tidak akan pernah meninggalkan saya hanya karna lelaki seperti kamu!" hardik Faris dengan begitu yakin.


"Heuh, kalo anda memang sangat yakin kita buktikan saja, secara seorang lelaki yang sejati, bukan dengan otot dan kekerasan!" timpal Abiyan menantang, yang langsung membuat rahang Faris kembali mengeras.

__ADS_1


"Lepaskan dia!" ucap Faris dengan tegas, sungguh dia merasa harga dirinya di injak oleh lelaki yang ingin mengambil istrinya saat Abiyan mengatakan berjuang sebagai lelaki sejati.


"Ini bukan kesepakatan atau taruhan, akan tetapi yang aku lakukan hanya ingin membuktikan, jika kami Salim mencintai dan akan bisa bertahan dalam rumah tangga, meski akan ada duri di dalam nya!" ucap Faris begitu tegas, dia melihat jika Abiyan sudah di lepas, dan berjalan mendekati Faris dengan cara tertatih.


"Tunggu lah kehancuran mu, Tuan Faris Hazam Aditama Bagaskara!" ejek Abiyan terus menantang Faris.


Sedangkan suami Nabila ini mendelik,  menatap dirinya tajam pada lelaki yang berjalan angkuh ke arah nya. Jika di lihat-lihat Abyan sudah tidak pantas lagi untuk kuliah, karna umur nya memperlihatkan dia hampir seumur dengan dirinya. Pikir Faris.


"Jangan pernah berniat lagi untuk merebut istri saya, banyak wanita di luar sana, kamu bisa memilih yang manapun kamu mau!" tukas Faris dengan nada dingin.


Abiyan berdecih, dengan nada sinis dia menjawab "Tapi aku hanya tertarik kepada istri mu!."


Faris lagi-lagi menggeram menahan kemarahan yang mulai membuncah kembali dalam dirinya, ingin segera menghabisi Abiyan, tapi mengingat Abiyan membahas soal lelaki sejati, dia sungguh tidak ingin merasa pengecut karna takut pada cecunguk seperti, Abiyan.


"Simpan kemarahan mu, Tuan Faris!


Terimakasih telah membebaskannya diriku, anda benar-benar lelaki yang tidak bisa di tantang!" cerocos Abiyan, setelah itupun lelaki yang berkulit sawo matang inipun melangkah keluar, meski dengan tertatih.


"Bukan kah sudah jelas, karna dia mencintai Nona, Nabil?" timpal Diki yang merasa aneh dengan perintah bos nya itu.


"Kerjakan saja apa yang aku perintahkan!" ucap Faris tidak mau di bantah.


"Baik, Tuan!" jawab Diki yang akhirnya mengiyakan.


"Kita ke kantor sekarang!" ajak Faris lagi, mengingat jika Nabil mengatakan akan membawakan makan siang untuk dirinya, maka dia ingin segera ke kantor, berharap jika Nabil sendiri yang akan datang, meski tadi dia hanya mengatakan menyuruh supir mengantarkan nya.


Sedangkan posisi Nabil saat ini sedang sibuk dengan alat masak nya, dia memasak menu makanan yang si sukai sang suami, meski sakit saat terus mengingat masalah yang dia hadapi saat ini.


Sebenarnya bisa saja Nabil pergi sekarang meninggalkan Faris dan mengajukan gugatan perceraian, akan tetapi Nabil masih berfikir panjang, dia tidak ingin salah langkah. Setiap rumah tangga pasti memiliki masalah tersendiri, jika kita tidak bisa menyelesaikan nya dan hanya mengingat perceraian, berarti kita belum cukup dewasa dalam menghadapi masalah.


Tujuan nya saat ini hanya meminta waktu untuk berpikir, apa suaminya layak untuk di pertahankan, atau memang mereka tidak cocok untuk hidup bersama.

__ADS_1


"Bi, tolong suruh antar kan makanan ini sama Pak Ahmad untuk Mas Faris ya!" ujar Nabil yang bersikap seperti biasa, dia tidak ingin ada orang yang tau permasalahan rumah tangga nya saat ini.


"Baik, Nak! Tapi kenapa tidak Nak Nabil saja yang mengantarkan nya?" tanya Bi Mila, karna biasanya memang Nabil sendiri yang pergi ke kantor majikan nya.


"Nabil lagi kurang enak badan, Bi!" alasan Nabil.


"Oh ... Nona sakit? Kalau begitu silakan anda istirahat saja dulu!" Celetuk bi Mila, setelah itu dia langsung membawa rantang makanan menuju keluar, tempat pak Ahmad, supir pribadi Nabil.


"Hantarkan ini untuk tuan, pasti kan ini sampai pada Tuan!" tukas bi Mila sambil menyerahkan kotak makanan tersebut.


Tanpa membantah, pak Ahmad langsung menyiakan, mengambil rantang pada tangan bi Mila lalu melangkah pergi.


.


.


.


.


.


~Bersambung.


Maaf ya kakak semuanya, baru sempat up. Mau lebaran RL semakin sibuk🙏.


Aku harap kakak semuanya tidak bosan menunggu cerita ini update lagi😊.


Maaf juga jika alurnya tidak sesuai dengan ekspektasi kalian semua🙏.


Jika kalian tidak keberatan, kasih dukungan ya, Like, komen, juga vote yang aku lihat hanya beberapa biji🤭.

__ADS_1


Sehat selalu dan juga semangat puasa nya yang tinggal beberapa hari lagi, sayang kalian All❤️.


__ADS_2