
...Hidayah di cari, bukan menunggu nya datang, jika kita lebih memilih kehidupan dunia, maka Allah akan kasih kesenangan hingga kita baru tersadar saat sudah di alam kubur....
...****************...
Malam hari, Faris sudah siap dan juga rapi dengan setelan jas melekat di tubuh kekar milik nya.
Kaki nya satu persatu menuruni anak tangga, hingga dia sampai tepat di hadapan asistennya. Tangan nya di masukkan kedalam saku celana, dengan gaya cool lelaki bermata biru itu pun berbicara.
"Apa kamu sudah mempersiapkan semuanya, Diki?" tanya Faris dengan nada dingin.
"Sudah, Tuan! cincin dan juga hadiah yang lain sudah saya siapkan!" jelas Diki yang hanya mendapat anggukan dari bos datar nya itu. Faris melangkah pergi, namun perkataan Diki menghentikan langkahnya lagi.
"Apa kita tidak akan memberitahukan ini kepada Kakek?" tanya Diki. Faris langsung berbalik dan menghadap kepada Diki.
"Tidak perlu, kamu tau sendiri aku menikahi wanita buruk rupa itu karena taruhan, bukan ingin menjadikan dia istri selama-lamanya!" timpal Faris, Diki hanya bisa mengangguk pasrah, meski dalam hatinya mengutuk bos sombongnya itu.
"Baik, Tuan!" hanya itu yang keluar dari mulut Diki.
Keduanya pun keluar, ingin menuju rumah, Nabil. Mereka memang berada di rumah dekat dengan mansion Nabil.
Tapi, baru saja mereka keluar dari rumah, tiba-tiba saja cahaya dari lampu mobil menyilaukan keduanya.
Diki dan Faris sama-sama mengangkat tangan mereka untuk menutup wajah dari silau nya pancaran lampu mobil yang saat ini sudah berhenti di hadapan mereka.
Diki dan Faris sama-sama terkejut saat melihat orang baru turun dari dalam mobil yang berhenti tepat di depan rumah Faris.
"Ka-kakek!" pekik keduanya berbarengan.
Kakek yang baru turun dari dalam mobil, dengan bertumpu pada tongkat nya berjalan mendekati kedua cucu yang sedang keheranan itu.
"Nga-ngapain Kakek kesini?" tanya Faris masih dengan rasa kagetnya. Bagaimana tidak, dia tidak pernah memberikan alamat rumahnya kepada sang kakek.
Bhuk.. bhuk...
Satu pukulan kakek Adinata bagi dengan rata untuk kedua cucunya, menggunakan tongkat keramat miliknya.
__ADS_1
"Dasar cucu durhaka, bukan nya menyambut Kakek nya datang, malah di tanyain ngapain!" hardik sang kakek.
Faris dan Diki hanya meringis kesakitan "Maksud Faris, kenapa Kakek datang malam-malam seperti ini?" tanya Faris sambil mengelus betis nya yang terasa sakit.
"Ya mau temenin kamu ngelamarin anak orang lah!" jawab sang kakek santai.
"Apa!" teriak Faris dan Diki secara bersamaan.
"Kenapa kalian terkejut seperti itu, kamu kan mau lamaran malam ini!" imbuh kakek lagi. Faris dan Diki sama-sama melempar tatapan, Faris menatap intens pada Diki, seolah bertanya "Apa kamu yang memberitahu Kakek!"
Diki yang paham pun hanya bisa menggeleng, hingga suara sang kakek kembali mengalihkan perhatian mereka.
"Bukan Diki yang memberitahu ku, kalian memang cucu tidak berakhlak. Masak mau lamaran tapi orang tua ini tidak di kasih tau, untungnya Kakek pandai, jadi bisa tau semua aktifitas kalian!" ujar kakek Adinata.
Faris mengerutkan keningnya "Jadi Kakek memata-matai Faris?" tanya Faris protes dengan apa yang di lakukan oleh kakek nya itu.
Sambil berjalan kakek pun menjawab "Ya begitulah!" timpal Kakek santai.
Faris dan Diki hanya pasrah mengikuti langkah sang Kakek yang berjalan di depan.
Sampai di rumah Nabil, kakek dengan bangga mengetuk pintu rumah calon menantu nya itu, mungkin dia bahagia karna cucu satu-satunya dia sudah ingin meminang seorang wanita.
Tok... Tok... Tok...
"Assalamualaikum!" ucap Kakek, ketiganya kini berdiri tepat di depan pintu rumah Nabil.
Sedangkan Nabil, abi Zainal, dan juga ummi Fatimah sedang duduk di ruang tamu. Ketiganya pun mengalihkan penglihatan nya ke arah pintu, saat mendengar suara daun pintu itu di ketuk.
"Assalamualaikum!" terdengar suara orang dari luar mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam!" jawab ketiganya.
"Siapa, ya?" tanya ummi penasaran.
"Biar Nabil saja, Ummi!" tukas Nabil, ummi dan abi nya pun mengangguk.
__ADS_1
Nabil meletakkan bantal sofa yang ada dalam pangkuan nya, mengambil niqab yang memang di letakkan di samping dirinya.
Setelah dia mengenakan niqab, Nabil pun melangkah, guna untuk membuka pintu untuk tamu.
Ceklek....
"Waalaikumsa.... Lam!" jawab Nabil terhenti saat melihat orang di hadapannya, yang tidak dia kenali.
Tapi, terlebih yang membuat dia terkejut saat melihat Faris berada di belakang lelaki paruh baya itu.
"Apa kamu yang bernama Nabila?" tanya kakek Dinata.
"Apa, bahkan Kakek sudah tau nama nya!" batin Faris menjerit, dia masih sangat terkejut atas kedatangan sang kakek.
Pernikahan yang dia ingin sembunyikan dari sang kakek malah gagal.
"I-iya, saya Nabila! Ada perlu apa ya Kek?" tanya Nabil sopan, dia belum mengerti. Karna baru tadi siang dia menyuruh Faris menemui keluarga nya.
"Tidak mungkin kan Tuan ini datangnya sekarang untuk bertemu Abi dan Ummi!" batin Nabil menjerit.
"Kami ingin bertemu ayah dan ibumu!"
.
.
.
.
.
.
~Bersambung
__ADS_1