
Suasana masih terasa sangat canggung, tepatnya bagi Mira. Rasanya menelan ludahnya saja terasa susah. Bagaimana tidak, Diki yang selama ini dia kenal cuek, kaku dan dingin, mendadak mengatakan hal yang tak pernah dia bayangkan.
"Kenapa kamu hanya diam?" tanya Diki yang melihat Mira hanya diam.
Mira mendongak, melihat pada Diki, mencari kebohongan dalam mata pria tersebut, tapi yang dia dapatkan hanyalah kejujuran.
"Apa Tu-tuan serius?" kedua kalinya Mira bertanya hal yang sama pada Diki.
Sedangkan Diki yang mendapatkan pertanyaan wanitanya bangkit, lalu berjongkok di hadapan Mira, meskipun dengan jarak yang tidak terlalu dekat. Lelaki berhidung mancung ini menatap Mira begitu dalam.
"Dengar kan aku, Mira! Aku bukan orang yang terbiasa mengumbarkan kata-kata atau mengungkapkan perasaan, ini yang pertama bagi ku, kamu wanita pertama yang telah merebut hati ku, jadi tidak sedikitpun niatku untuk mempermainkan dirimu,"
"Aku juga tidak memaksa mu untuk menerima ku, karna aku tau jika aku bukan lah lelaki seperti kamu inginkan. Kamu cukup menjawab iya, atau tidak, jika kamu menjawab iya, maka aku akan sangat bahagia, tapi jika kamu menolak, maka aku akan pergi dari kehidupan mu." tukas Diki menjelaskan apa yang dia rasakan selama ini terhadap Mira.
"Berikan aku waktu,"
"Apa pertanyaan ku begitu menyulitkan dirimu? Hingga kamu tidak bisa menjawab nya sekarang?"
"Menikah bukan lah hal main-main, karna itu harus di pikirkan dengan matang, aku tidak ingin mengambil keputusan yang nanti akan menyakiti dirimu dan diriku juga. Terlebih setelah apa yang aku alami, aku tidak ingin menyesali saat memberikan jawaban,"
"Dalam hal ini hati dan pikiran juga harus siap, maka dari itu, berikan aku waktu untuk berpikir." pinta Mira, rasanya begitu berat memberikan jawaban atas pertanyaan yang begitu mendadak ini.
Diki menundukkan kepalanya, setelah mengangguk, dia kembali bangun.
"Baiklah, aku akan menunggu jawaban mu sampai besok, ku harap kamu sudah mendapatkan jawaban nya!"
"Tapi dengar, Mira! Jangan sampai masa lalu buruk mu menjadi kan mu lemah dan takut untuk memulai sesuatu, anggap saja yang terjadi cobaan agar kamu bisa menemukan kebahagiaan yang lebih dari itu, aku tidak akan berjanji, tapi semampu ku, aku akan membuat mu bahagia."
"Baiklah, temui aku besok di taman kota, aku akan memberikan jawaban nya," jawab Mira.
"Bisa antar kan aku pulang?" tanya Mira lagi, dan Diki hanya mengangguk.
Setelah membayar, mereka berdua langsung menuju tempat parkiran, jika saat masuk Mira terlihat cerewet dan ketus, tapi saat ini dia terlihat lebih diam.
Diki membukakan pintu mobil belakang untuk Mira "Terimakasih," ucap Mira, lalu masuk ke dalam mobil. Setelah itu tidak ada percakapan diantara keduanya, mereka hanya larut dalam pikirannya masing-masing.
...****************...
Sementara itu, di sebuah balkon restoran, tampak dua manusia sedang menyantap makan malam romantis, dengan sekitarnya di pasangkan lampu dan juga lilin yang mengelilingi mereka, meja bundar di pinggiran balkon yang penuh dengan hidangan lezat, begitu nikmat di santap sambil melihat keindahan kota di malam hari.
__ADS_1
Meski ada dua bangku, akan tetapi keduanya memilih untuk menduduki hanya satu bangku, pria yang tak lain adalah Faris ini tidak membiarkan wanita nya jauh dari sisinya walaupun hanya satu meter. Dia lebih memilih memangku wanita dengan perut membuncit itu yang tak lain adalah Nabil duduk di atas pangkuan nya.
Makan malam romantis pun terasa begitu lengkap, saat Faris terus memanjakan sang istri, dia tidak pernah membiarkan wanita nya menyentuh sendok atau garpu, tangan kekar nya itu dengan cekatan menyuapi makanan ke dalam mulut sang istri, di iringi satu kecupan di seluruh wajah Nabil setelah satu sendok makanan yang masuk ke dalam mulut nya.
Faris sengaja memesan tempat private untuk dia dan juga belahan jiwanya, agar Nabil bisa membuka penutup wajahnya.
"Sayang ... Aku sudah kenyang!" rengek Nabil karna Diki terus menyuapi dirinya.
"Tapi kamu harus makan banyak, sayang! Agar anak-anak kita sehat dan mempunyai gizi yang cukup." sergah Faris.
Nabil menggeleng dengan wajah yang sudah cemberut "Tapi aku sudah kenyang." tolak Nabil lagi.
Melihat bibir sang istri yang sudah monyong ke depan, Faris langsung menarik wajah Nabil dan mencium bibir merah muda wanita nya. Nabil yang mendapatkan ciuman mendadak reflek langsung mengalungkan tangannya di leher sang suami.
Ciuman Faris terasa begitu lembut, kedua insan ini saling memejamkan mata, merasakan kehangatan dari benda kenyal perasa itu.
Faris melepaskan ciumannya setelah dia rasa jika wanita nya sudah kehabisan nafas, Nabil menunduk dan tersenyum, setelah itu dia langsung menenggelamkan wajahnya dalam dada sang suami, kembali memejamkan mata menghirup aroma wangi dari tubuh atletis sang suami.
Faris pun ikut memeluk tubuh Nabil begitu erat, meski sudah hampir satu jam Nabil menduduki pahanya, akan tetapi tidak membuat lelaki dua puluh delapan tahun ini merasa pegal atau keram, dia masih sangat betah dengan posisi seperti ini.
Setelah beberapa saat berada dalam pelukan sang suami, Nabil menarik tubuh nya dan kembali membelakangi Faris, dia ingin melihat keindahan kota di malam hari. Tangan Faris masih melingkar sempurna di perut sang istri.
Mendengar itu, Nabil langsung menoleh, sepersekian detik wanita berbulu mata lebat ini langsung mengangguk sambil tersenyum.
"Bukan karna harta atau apapun, tapi kamu lah kebahagiaanku, Mas!" jawab Nabil. Dia kembali memeluk kepala Faris, membiarkan lelakinya bersandar di dadanya.
"Thank you very much, dear! I promise to always be by your side." ujar Faris dan Nabil hanya tersenyum bahagia.
Kedua manusia yang tengah di mabuk cinta kembali menyatukan bibir mereka, hingga salah satu dari mereka menyerah, karna kehabisan nafas.
Faris mengajak sang istri untuk masuk dalam kamar yang sudah dia pesan, karna tidak ingin sang istri masuk angin, tanpa ada perdebatan, Nabil pun mengangguk nya.
...****************...
Malam telah berlalu, menggantikan gelap dengan terang sekaligus panas yang tak tertahankan. Seorang lelaki dengan jas membaluti tubuh tegapnya tengah duduk di salah satu kursi taman kota. Tangan nya terus memainkan kotak kecil berwarna merah menyala berbentuk hati.
Sedari tadi matanya sibuk menelisik keseluruhan tempat tersebut, untungnya ada pohon yang rindang di tempat dia duduk, hingga di tidak terasa panas saat matahari semakin terik.
Sesuai arahan dari Mira, Diki begitu bersemangat mendatangi tempat tersebut, bahkan semalam saja dia sampai tidak tidur karna merasa gelisah menunggu hari akan tiba.
__ADS_1
Dari kejauhan matanya menangkap sosok orang yang sedari tadi dia tunggu, kedua sudut bibirnya langsung terangkat, senyuman manis langsung mengembang tatkala wanita yang dia tunggu sudah berada di hadapannya.
"Apa kamu baik-baik saja?" pertanyaan pertama yang di lontarkan Diki pada Mira.
Mira hanya mengangguk dan tersenyum kaku "Maaf, karna membuat mu menunggu!"
"Tidak masalah, ayo silahkan duduk." Diki bangun dan menyuruh Mira untuk duduk, akan tetapi wanita tersebut hanya menggeleng.
"Langsung saja, aku tidak bisa lama-lama."
Diki mengerutkan keningnya, dia juga tidak jadi duduk kembali, akan tetapi berdiri di ujung kursi panjang tersebut.
"Baiklah, apa jawaban mu?" tanya nya mencoba bersikap santai, padahal jantung nya hampir keluar, takut Mira akan menolak nya.
"Apa anda melaksanakan kewajiban anda sebagai seorang muslim?" tanya Mira tanpa basa-basi.
Deg....
.
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Duh... Akupun deg degan ini, ayo semangat babang Diki.
Jangan lupa Like komen dan juga Vote kakak ku sayang.
Bantu dukung juga dengan bintang dan hadiah sebanyak-banyak nya.
__ADS_1