Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Alergi.


__ADS_3

Ketika tanpa sengaja melihat dengan ekor mata suaminya yang terus bergerak di samping nya, Nabil yang hanya fokus memakan rujak nya pun menoleh. Mata membulat, mimik wajah nya langsung terkejut, manakala melihat seluruh tubuh sang suami sudah memerah, dia melihat tangan Faris sibuk menggaruk dari wajah dan juga badannya.


Reflek Nabil langsung bangun dari kursi yang dia duduki "Astaghfirullah, Mas! Kenapa dengan kamu?" tanya Nabil langsung panik.


Faris tidak menjawab, dia sibuk menggaruk seluruh tubuhnya yang mungkin saja gatal, Nabil menyentuh Faris membantu sang suami menggaruk tubuh nya, tapi Nabil malah semakin kaget saat memegang kulit tubuh sang suami yang terasa begitu panas.


"Ya Allah, Mas! Badan kamu kenapa tiba-tiba panas begini?" tanya Nabil, dia menatap pada sang suami yang berbicara lembut.


"Aku tidak apa-apa," ucap Faris, setelah itu Nabil melihat jika suaminya memejamkan mata dan tak sadarkan diri.


Faris pingsan, wajahnya jatuh tepat di pundak Nabil, membuat wanita sedang mengandung ini merasa begitu khawatir.


"Ya Allah bagaimana ini," gumam Nabil, dia memegang dahi sang suami yang masih terasa sangat panas.


Nabil melihat sekitarnya tidak ada orang satupun, dia pun langsung berteriak memanggil para pelayan dan juga Diki yang kebetulan menginap di sana.


"Bi, Mila, kak Diki!" pekik Nabil dengan suara yang cukup keras.


Kemudian dia beralih menatap Faris yang masih memejamkan mata "Mas, sadarlah, jangan bikin aku panik." Pinta Nabil terus mengguncang bahu Faris.


Mendengar teriakan Nabil, bi Mila yang memang sedang berada di dapur langsung berlari menghampiri majikan nya.


"Ada apa, Nona?" tanya nya dengan nafas tersengal, sejurus kemudian nafasnya terasa terhenti saat ni Tuan muda nya terlihat begitu lemah, dan Nabil terlihat begitu kesusahan.


"Apa yang terjadi dengan Tuan, Nona?" tanya bi Mila langsung ingin mendekat.


"Nabil tidak tau, Bi! Tolong Bibi panggilkan kak Diki sebentar,"ujar Nabil karna belum melihat keberadaan Diki di sana.


" Baik, Nona!" tanpa menunggu lagi, bi Mila langsung berlari pada kamar Diki.


...****************...


Sekarang ini Faris sudah di baringkan di dalam kamarnya, di bawakan oleh Diki dan beberapa penjaga, Diki langsung menanyakan pada Nabil apa yang di makan Faris barusan, karna melihat efek yang di timbulkan pada permukaan kulit Faris, dia seperti terkena alergi, Nabil pun menceritakan semuanya tanpa ada yang dia tutupi.


"Apa yang terakhir dia makan?" tanya Diki, meski dia terlihat tenang, tapi nyatanya Nabil melihat raut kekhawatiran di dalam mata Diki untuk Faris.

__ADS_1


"Terakhir kami memakan rujak," jawab Nabil polos tanpa ada yang dia tutup-tutupi.


Diki menyipit "Apa di dalam rujak itu di campuri kacang?" tanya Diki ragu-ragu dan Nabil dengan yakin mengangguk.


"Fix, Faris terkena alergi, dia tidak bisa makan kacang tanah. Terakhir dia sakit alergi saat dia menduduki bangku SMA, setelah itu dia tidak menyentuh yang namanya kacang tanah lagi." jelas Diki membuat Nabil yang mendengar nya langsung membekap mulutnya sendiri dengan telapak tangannya, dia langsung meneteskan air mata, biar bagaimanapun dia yang meminta Faris agar mencicipi rujak yang sedang dia makan.


"Aku tidak tau jika Mas Faris tidak bisa makan kacang!" ujar Nabil dengan suara bergetar.


Diki menghela nafas, dia tau jika Nabil tidak senagaja melakukannya.


"Tidak apa-apa, jangan salagkan diri anda, Nona. Dia pasti baik-baik saja!" celetuk Diki menenangkan.


"Kenapa tidak menelpon Tante Riska saja untuk mengobati dirinya?" tanya Nabil, namun Faris malah melangkah mendekati meja rias. Membuka dua laci yang ada di meja rias.


"Dapat," gumam Diki setelah mendapati krim dengan kemasan warna putih.


Diki berjalan ke arah Nabil dengan membawa krim tersebut dan menyerahkan nya pada Nabil.


"Tidak usah merepotkan Tn. Riska, ini krim yang selalu dia sediakan, karna ada beberapa makanan lainnya yang akan membuat nya alergi.


Tanpa bertanya apapun lagi Nabil mengambil salep di tangan Diki dan mengoleskan nya di seluruh tubuh Faris.


"Mas, maafkan aku, sungguh aku tidak tau" lirih Nabil sembari tangannya mengelus kening Faris dengan sangat lembut.


...****************...


POV Faris.


Aku melihat istri ku yang begitu lahap memakan makanan yang terlihat aneh, tapi melihat raut kebahagiaan nya membuat aku juga turut merasakan bahagia.


Aku melotot saat dia menyuruhku untuk memakan makanan yang dia sebut rujak, sebenarnya bukan karna takut asam, tapi karna aku ragu untuk memakannya, karna aku melihat jika makanan ini di campurkan dengan kacang tanah, aku ingat kalau tubuh ku alergi dengan kacang.


Tapi melihat nya seolah memohon untuk aku mencicipi nya, aku menjadi tidak tega untuk menolaknya, aku sungguh lemah jika si hadapkan dengan istri ku ini.


Tanpa pikir panjang aku menerima suapan yang di berikan Nabil, aku mengira mungkin saja alergi ku sudah sembuh karena sudah sangat lama saat terakhir kali aku merasakan tubuh ku memanas dan juga gatal-gatal.

__ADS_1


Namun, baru beberapa saat aku menelan makanan yang ternyata lumayan enak itu, tubuh ku langsung merasa panas, aku mulai tidak nyaman karna tubuh ku sudah mulai gatal, sial! Ternyata alergi ku belum sembuh, umpat ku dalam hati.


Aku masih memperhatikan istriku yang masih sangat lahap menghabiskan makanan nya, dia terlihat seakan tidak pernah kenyang, akan terjadi lama kelamaan aku semakin tidak nyaman, dan suhu tubuh ku semakin terasa memanas.


Hingga Nabil menyadari jika aku sedang bergerak tidak karuan, membuat nya menghentikan makan nya dan menoleh ke arahku.


Dapat ku lihat betapa terkejutnya dia saat melihat wajah dan tubuh ku yang aku yakini sudah memerah, reflek dia bangun dan menyentuh ku, keterkejutan semakin rasakan saat memegang tubuh ku yang sangat panas, kekhawatiran terlihat di mata indahnya, dia mengerti kenap aku tiba-tiba menjadi seperti ini, karna barusan aku terlihat baik-baik saja.


Sekuat tenaga aku menahan rasa gatal, panas dan sakit mulai menyerang agar tidak membuat nya semakin cemas, aku sempat mengatakan jika kau "Tidak apa-apa" sebelum akhirnya aku tidak sadarkan diri, yang terakhir ku lihat adalah wajah khawatir istri ku tercinta.


Aku mulai tersadar, aku mengerjapkan mata perlahan, sayup-sayup aku mendengar suara wanita yang sangat aku kenali sedang mengaji dengan suara terisak. Setelah mengumpulkan kesadaran ku, langsung ku buka ke dua mataku, dan pemandangan yang pertama aku lihat adalah wajah cantik sang istri yang sudah sembab mungkin saja karena sedari tadi dia menangis.


Kurasakan sentuhan yang lembut di kening ku, dia belum menyadari kalau aku sudah sadar, karna dia masih menatap pada Qur'an yang sedang dia baca.


Aku melihat sekeliling, ternyata aku sudah berada di dalam kamar, siapa yang membawa ku kesini, tapi sepersekian detik aku tersadar masih ada Diki yang menginap disini, pasti dia yang membawa ku kesini.


Tidak ingin membuat istriku terlalu lama menangis, aku menggerakkan tangan ku untuk menghapus air matanya, ku lihat tangan ku sudah sedikit berkurang merah-merah nya, mungkin mereka mengoleskan obat yang sengaja aku simpan jika sewaktu-waktu aku membutuhkan nya.


Saat merasakan sentuhan jemari ku di pipinya, aku merasakan dia sedikit tersentak, kemudian dengan cepat menatap ke arahku, matanya berbinar, raut kesenangan terlihat dari balik netra yang selalu membuat ku terpesona itu.


Tangan nya bergetar menyentuh tangan ku, sambil memanggil ku dengan nada yang sangat lirih.


"Ma-Mas Faris!"


.


.


.


.


.


~Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa Like komen dan juga Vote ya kakak ku sayang.


Tolong dukungan bintang dan juga hadiah nyanya kaka❤️.


__ADS_2