
Pagi hari, sebelum matahari terbit, Mira sudah lebih dulu terbangun. Bibir nya tersenyum dengan wajah yang tampak merona tatkala melihat wajah Diki yang masih terlelap. Wajah Mira terasa semakin memanas saat mengingat malam yang mereka lalui dengan begitu panas.
Tangan nya terangkat, mengelus lembut wajah dengan rahang tegas Diki.
"Aku sungguh tidak menyangka jika kamu yang akhirnya menjadi imam ku," batin Mira masih menatap Diki dengan intens.
"Apa kamu tengah bersyukur karna mendapatkan suami setampan ku,. sayang?" tanya Diki tiba-tiba masih memejamkan mata. Dan itu sukses membuat Mira tersentak karna kaget.
"Ka--Kak," Mira langsung berencana menarik tangan nya dari wajah sang suami, dia hendak memalingkan wajah, akan tetapi Diki dengan segera menahan nya.
"Kenapa kamu selalu berpaling saat bertatap dengan ku?" tanya Diki yang kini sudah menggenggam lembut tangan sang istri.
Mira tersenyum, sambil menunduk tersipu malu "Aku--"
"Shhuuutt ... Jangan bicara, sekarang tatap aku!" seru Diki setelah menyela ucapan istrinya.
Mira patuh, dia menatap lekat netra lelaki yang telah mengambil sesuatu yang berharga dari dirinya, meskipun masih terlalu pagi, akan tetapi wajah Diki tetap terlihat sangat tampan.
"Aku ini suamimu, aku juga sudah melihat tubuh mu dan aku juga sud--"
Ucapan Diki terpotong saat tangan lembut Mira menutup nya, dengan menyembunyikan wajahnya dalam dada bidang Diki, Mira tersenyum malu, karna dia tau apa yang akan suaminya itu katakan.
Diki ikut tersenyum, dia menarik tangan Mira dan memeluk tubuh polos di bawah selimut itu dengan sangat erat.
"Aku tidak menyangka, kucing liar yang begitu cerewet dan juga garang kini menjadi sosok kelinci imut, pendiam dan sangat menggemaskan!" oceh Diki lagi.
"Aku juga tidak menyangka si pria dingin, kaku dan menyebalkan berubah menjadi cerewet, mesum dan liar," balas Mira juga tidak mau kalah.
"Kamu berani mengejekku?"
"Kamu yang memulai duluan,"
"Aku berbicara kenyataan!"
"Lalu, aku tidak?"
"Kau kembali menjadi kucing liar ku lagi,"
"Dan kau kembali menjadi lelaki yang menyeb--"
Ocehan Mira terputus tatkala merasakan bibirnya kembali di sambar oleh bibir Diki, mereka kembali saling bertukar s*l*v* dengan penuh kehangatan.
Hingga suara adzan subuh menggema, Diki dan Mira memilih untuk membersihkan tubuh mereka lalu melaksanakan solat subuh berjamaah.
Seketika hati kedua manusi ini menghangat saat mengucapkan takbir ketika memulai solat, Diki merasa terharu karna sekarang dia sudah tidak sendiri, karna ada sang istri yang kini menjadi tanggung jawabnya.
__ADS_1
Sementara Mira juga merasakan kebahagiaan yang begitu besar, biasanya dia solat di imami oleh guru nya di pondok pesantren dan juga Ayah nya, tapi sekarang dia sudah solat yang di imamkan oleh pemimpin nya sendiri, lelaki yang berstatus sebagai suami nya.
Selesai solat, berzikir dan berdoa. Diki dan Mira memilih bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Meski di sana mereka bisa tinggal sesuka hati, akan tetapi keduanya lebih memilih untuk tinggal di Apartemen bersama sang istri.
Sebenarnya Faris sudah meminta nya untuk tinggal di Mansion Bagaskara, yang terdapat banyak kamar itu, begitupun dengan Ayah dari Mira yang juga sudah meminta nya untuk menetap di sana. Akan tetapi Diki menolak, karna dia ingin berduaan dengan sang istri, sebelum dia membeli rumah yang baru untuk istri tercinta nya itu.
Meski rumah yang di beli, Faris saat mendekati, Nabil, atas nama nya, akan tetapi Diki tidak ingin mengajak sang istri untuk menetap di sana. Sebab, dia ingin membelikan rumah untuk istrinya hasil keringat nya sendiri.
"Apa kamu sudah siap, sayang?" tanya Diki yang melihat istrinya baru selesai menggunakan niqab nya, dia berjalan mendekati sang istri, kemudian mengulurkan tangan nya di hadapan wanita nya.
Mira hanya mengangguk, diapun menyambut uluran tangan sang suami, merekapun keluar dari dalam kamar tempat semalam mereka merajut kisah.
"Kak, bisa kita pulang ke rumah dulu? Aku ingin mengambil barang dan juga berpamitan pada Ayah dan Bunda?" tanya Mira pada suaminya itu, saat mereka sudah berada di dalam mobil.
Diki tersenyum, mencium sekilas tangan sang istri, kemudian dia mengangguk "Kita ke sana sekarang,"
Mira tersenyum, merekapun langsung melajukan mobil menuju mansion Mira.
...****************...
Sekitar empat puluh menit mereka di jalan, kini kendaraan beroda empat itu sudah memasuki halaman rumah Mira.
Diki turun, kemudian diapun mengitari mobil untuk membuka pintu kepada sang istri.
"Silahkan istri ku tercinta!" seru Diki sambil mengulurkan tangannya.
"Assalamualaikum," ucap keduanya sambil memencet bel di samping pintu sebelah kanan.
Tidak berapa lama menunggu, akhirnya pintu pun di buka, dan mereka langsung melangkah masuk ke dalam.
...****************...
Sementara di mansion Bagaskara, Nabil dan Faris baru saja mandi karna mereka baru selesai berolahraga. Karna hari libur, Faris jadi punya waktu untuk beristirahat bersama sang istri.
Faris memakai baju yang sudah di siapkan oleh istrinya, sementara Nabil tengah mengeringkan rambut dengan handuk berukuran sedang.
"Apa Mas mau sarapan sekarang?" tanya Nabil yang kini membiarkan rambutnya tergerai indah.
"Boleh siapkan sayang!"
"Apa tidak sebaiknya kita sarapan di bawah saja, kan kasian Kakek sarapan sendiri,"
"Lihat jam, sayang! Mungkin Kakek sudah sarapan dari tadi," Faris berjalan mendekati Jane. Menekan tombol power layar cetak di dinding itu.
"Oh iya sudah, akan aku ambilkan sarapan nya," Nabil ingin keluar, akan tetapi Faris sudah dulu menghubungi pelayan lewat Jane.
__ADS_1
"Jane, sambung kan pada telepon di bawah!"
"Baik, Boy!"
"Bi, bawakan sarapan untuk ku dan istri ku ke sini!"
"Baik, Tuan Muda."
Setelah panggilan terputus, Faris menarik sang istri dalam dekapan nya, mencium rambut yang baru di cuci oleh Nabil, menghirup lama aroma bunga yang begitu wangi menusuk Indra penciuman nya.
"Jane, sambungkan pada anak buah yang aku suruh mengantarkan hadiah untuk Diki dan juga istri nya!"
"Baik, Boy"
Tanpa menunggu lama, Jane dengan otomatis langsung beralih menghubungi anak buah Faris yang di suruh untuk pergi ke hotel tempat Mira dan Diki menghabiskan malam pertama mereka.
"Halo, Tuan!"
"Apa kamu sudah menyerahkan pada, Diki?"
"Tuan Diki sudah tidak ada lagi di hotel, Tuan! Kata resepsionis mereka baru saja keluar," jelas anak buahnya yang di sebrang.
"Diki sudah keluar dari hotel, sepagi ini?" gumam Faris bertanya pada dirinya sendiri. Nabil yang berada di atas pangkuan sang suami ikut terheran.
"Alihkan panggilan nya pada, Diki!"
Dalam seketika Faris terputus panggilan dengan anak buahnya dan langsung menelpon, Diki.
"Halo, Diki! Dimana kau sekarang? Kenapa keluar dari hotel begitu cepat?"
"Ha--haloh, Ris ... Ah..."
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
__ADS_1
...Waduh, kenap tuh di Diki, bagaimana ekspektasi Faris dan Nabil ya, jadi penasaran. Hahaha....
...Jangan lupa berikan dukungan kalian, like komen dan juga Vote sebanyak-banyak nya....