Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
MP Diki dan Mira.


__ADS_3

Suasana di dalam kamar pengantin di sebuah hotel terasa menegangkan. Semenjak Diki izin untuk membawa istrinya pergi dari meja makan, perasaan Mira tak karuan, ada rasa malu, takut dan deg-degan yang membuat nya begitu sulit walaupun hanya untuk menelan ludah.


Mira tengah duduk di tepi ranjang, jangan tanya bagaimana bentuk di dalam kamar pengantin baru. Tentu saja di penuhi banyak bunga, lilin beraroma terapi menghiasi ruangan kamar yang cukup luas itu.


Mira mengalihkan pandangannya saat mendengar suara pintu kamar mandi yang di buka, seketika wanita yang masih menggunakan niqab itu memerah, sia kembali membuang pandangannya tatkala melihat tubuh polos Diki yang hanya di lilit kan handuk putih sepinggang saja.


Diki yang baru selesai mandi tidak langsung mengenakan pakaian, kedua sudut bibirnya terangkat melihat ekspresi sang istri yang malu menatap ke arahnya.


Mira memejamkan mata saat tangan kekar Diki membingkai wajah hingga menghadap pada lelaki tanpa baju itu, pipinya sudah merona bak kepiting rebus dengan nafas mulai tersengal.


Diki menangkup wajah yang masih tertutup kain berlapis mutiara itu, sedikit menunduk untuk mencium kepala sang wanita.


"Apa kamu tidak mau menatap wajah suamimu ini?" tanya Diki dengan suara yang mulai serak, Mira semakin erat memejamkan mata saat merasakan terpaan nafas Diki menusuk kulit wajahnya.


Dengan perlahan Mira membuka mata, sungguh pemandangan yang belum pernah dia lihat, wajah tampan Diki tercetak sempurna di hadapannya, rambut yang masih menitikkan air hingga mengenai wajahnya, di tambah dada yang begitu liat, otot perut yang terlihat berkotak-kotak, sungguh membuat Mira semakin susah bernafas.


"Apa aku boleh membuka penutup wajah mu?" tanya Diki lagi, meski dia sudah tidak sabar, akan tetapi dia tidak ingin menjadi orang yang tidak sabaran, Diki ingin menikmati setiap momen yang di habiskan dengan sang istri.


Dengan malu Mira mengangguk, dia memang harus membiarkan Diki melakukan nya, karna dia memang sudah berhak. Diki tersenyum, kemudian perlahan membuka cadar yang di gunakan, Mira.


Mata Diki tak berkedip melihat kecantikan dari wanita yang tadi pagi dipersunting oleh dirinya, bola mata bulat, pipi yang sedikit berisi, hidung yang sedang tidak terlalu mancung dan juga tidak terlalu pesek, bibir ranum dengan warna merah muda, sungguh sudah sangat menggoda iman Diki.


Meskipun sudah pernah melihat wajah, Mira, akan tetapi saat itu mereka sedikit berjarak, dan tak lama Diki langsung berbalik badan dan keluar dari kama Mira.


Diki mengelus pipi lembut Mira dengan ibu jarinya, kemudian turun hingga pada bibir yang sedari tadi memanggil dirinya untuk di cicipi.


Mira memalingkan wajahnya, karna merasa sangat malu, debaran jantung nya sudah jangan di tanya lagi, rasanya Mira ingin memegang pemompa darah itu karena takut akan keluar.


Tangan Diki beralih membuka hijab yang di pakai, Mira, dengan sangat pelan dia membuka nya, hingga tergerai lah rambut hitam, lebat, halus, lembut yang panjangnya sampai ke pinggang.

__ADS_1


Mira yang masih memalingkan wajahnya langsung tertutup dengan rambut indahnya. Diki menarik pelan dagu Mira, agar menghadap kembali kepada dirinya, dia menyelipkan rambut sang istri di belakang telinga, seraya wajahnya yang semakin dekat dengan wajah istrinya.


Mira memejamkan mata dengan nafas semakin memburu saat bibir nya bersentuhan dengan bibir Diki, bersentuhan dengan pria pertama kali membuat nya cepat merasakan sesuatu, begitupun Diki, yang juga baru merasakan manis nya bibir seorang wanita. Bagaikan sengatan listrik yang mengalir dalam tubuh mereka.


Meski baru pertama kali, tapi Diki sudah ahli dalam menciptakan ciuman yang semakin meningkatkan g*i*a* mereka.


Tangan Diki perlahan turun untuk membuka resleting pada gaun sang istri, sedikit menurunkan nya hingga terlihat bahu putih mulus milik sang istri.


Ciuman yang mulainya lembut kini semakin panas dan menuntut. Tangan Diki bahkan sudah masuk dalam gaun pengantin lewat resleting yang sudah terbuka sempurna, meraba dan mengelus punggung lembut wanita yang dia cintai itu.


Saat menikmati ciuman Diki yang semakin menuntut, Mira tersadar, dia sedikit mendorong tubuh Diki agar menjauh dari lelaki nya, Mira bangun sambil memegang gaun yang sudah terbuka, takutnya jika tidak di pegang, gaun berwarna putih itu bisa melorot ke lantai.


Mira berlari sedikit dan berdiri di dekat dinding kaca yang seperti jendela itu, kedua sudut bibirnya terangkat sempurna, dengan pipi merona membayangkan hal yang baru saja dia dan Diki lakukan.


Tatapannya kini tertuju pada bulan purnama yang bersinar terang di malam hari. Tubuhnya seketika tersentak saat merasakan tangan Diki sudah kembali mengelus lengannya dan bibir hangat Diki mencium pundak hingga leher polos Mira, dia bahkan sampai memejamkan mata saat Diki sedikit memberikan gigitan di tengkuk belakang lehernya.


Perlahan ciuman Diki naik ke dagu, kemudian tangannya dengan lembut memalingkan wajah sang istri agar menghadap ke arahnya, kembali Diki melum*tkan bibir manis sang istri yang mungkin akan menjadi candu bagi dirinya.


Nafas keduanya tersengal-sengal, Diki menempelkan kedua kening mereka "Boleh aku melakukan nya?" tanya Diki dengan suara semakin parau, tatapan matanya juga semakin sayu.


Sementara Mira hanya menunduk, dia takut dan juga ragu, ini yang pertama bagi dirinya, apa akan sakit, apa dia bisa? Pikiran Nabil sudah kemana-mana.


Menangkap raut khawatir di wajah sang istri, Diki membawa wanita nya ke dalam pelukan.


"Aku akan pelan, tidak akan aku membiarkan kamu kesakitan. Jika kamu belum siap, aku akan bersabar dan menunggu," bisik Diki begitu sensual di telinga Mira, tidak lupa dia meniupkan daun telinga sang istri semakin membuat Mira kalang kabut.


Dalam situasi seperti ini, Diki tersenyum gemas melihat tingkah Mira, dia bukan lagi kucing liar yang pemarah dan suka bicara, kini hanya asa seekor kucing manis yang begitu patuh pada tuan nya.


Mira terdiam sesaat. Dia ragu, akan tetapi itu adalah kewajiban nya memberikan hak kepada suamiku, masih dalam dekapan Diki akhirnya Mira mengeluarkan suaranya.

__ADS_1


"Tapi aku belum mandi," ucapan polos keluar dari bibir ranum Mira.


Diki terkekeh, dia sedikit berjongkok, langsung menggendong tubuh sang ala bridal style, jangan tanya gaun nya di mana sekarang, sudah pasti sudah jatuh ke lantai.


"Nanti kita akan mandi bersama," balas Diki, perlahan tapi pasti, Diki menurunkan Mira, membaringkan begitu lembut seolah tubuh istrinya bak kaca yang sangat rentan akan pecah.


Mira lagi-lagi merasa malu saat Diki menatap tubuh nya yang sudah tidak ada lagi sehelai benangpun, di tambah Diki juga sudah membuka pakaiannya sendiri.


"Izinkan aku memilikimu seutuhnya, sayang! Tatap aku, aku ingin di setiap momen yang kita lakukan sekarang kita sama-sama sadar dan saling menatap, juga kamu harus memanggil namaku si saat kita sampai,"


"Aku akan hari-hati, jika sakit cakar lah punggung ku, atau kau bisa menggigit pundak ku, bagi rasa sakit mu dengan ku,"


Seolah tersihir Mira dengan kata-kata, Diki, diapun menuruti semua yang di katakan oleh suaminya.


Mira benar-benar mencakar punggung kekar Diki saat merasakan sesuatu yang telah berhasil memasuki nya. Mereka telah bersatu sebagai suami istri sempurna, yang selama ini terjaga sudah dia serahkan pada lelaki yang dia cintai, suaminya yang kini sedang begitu gagah saat memberikan nafkah batin untuk dirinya.


.


.


.


.


.


.


~Bersambung.

__ADS_1


...Panas ... Mana kipas? Huh ... Benar-benar ya kalian, nggak Diki, nggak Faris, dua-duanya membuat jiwa jomblo ku meronta-ronta tau gak. Kayaknya aku harus pindah ini ke planet lain, biar iri sama kebucinan Diki ama Faris....


...Jangan lupa kak, like, vote, komen juga hadiah nya....


__ADS_2