Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Sate.


__ADS_3

Mereka semua yang berada di mansion abi Zainal sudah masuk ke dalam kamar masing-masing untuk istirahat.


Nabil menutup pintu kamar setelah mereka masuk, dia melihat Faris melangkah masuk ke dalam dengan wajah tidak bersahabat.


Nabil berfikir sejenak, apa suaminya ini marah karena dia mengajak Diki mengantar nya ke rumah Mira, pikir Nabil.


"Mas...!" panggil Nabil, namun Faris terkesan cuek.


"Mas ... Kamu kenapa?" tanya Nabil lagi.


"Yang suami kamu siapa, aku apa Diki?" tanya Faris dengan nada datar.


Tepat, tebakan Nabil tidak meleset, ternyata itu permasalahan.


Nabil memutar bola matanya, sambil membuka niqab nya. Setelah menyimpan kain penutup wajah nya tersebut, dia melangkah mendekati Faris yang sedang duduk menatap tanpa tau arahnya kemana.


"Apa Mas marah karna aku meminta kak Diki mengantar ku?" tanya Nabil, Faris masih bungkam. Tandanya dia masih marah.


Tangan Nabil terulur mengelus lengan sang suami, dengan lembut dia kembali bersuara "Kan Mas harus ke kantor, kan tidak mungkin aku ke sana bersamaan dengan Mas berangkat ke kantor, masih terlalu pagi. Jadi sekitar pukul sepuluh aku ke sana, setelah di sana sebentar aku langsung pergi ke kantor Mas untuk mengantarkan makan siang," jelas Nabil meyakinkan sang suami.


"Tapi kalau Mas tidak mengizinkan nya, maka aku tidak akan pergi, atau Mas ingin aku naik taksi juga tidak apa-apa." lanjut Nabil lagi.


Tanpa aba-aba, Faris langsung mencium bibir Nabil "Mengapa sekarang kamu jadi banyak bicara, hem?" tanya Faris sembari memeluk tubuh sang istri.


"Ntah lah, Mas, aku juga tidak tau," jawab Nabil santai.


"Jadi gimana, apa kamu Mas besok mengizinkan kak Diki mengatarku ke rumah Mira?" tanya Nabil lagi yang belum puas karna belum mendapatkan jawaban.


Faris hanya berdehem saja, Nabil mengerti kalau dia sudah mendapatkan izin.


"Terimakasih, sayang!" tukas Nabil tanpa sadar langsung memeluk leher sang suami.


"Terus lah bersikap seperti ini, aku suka panggilan itu, sikap manja mu ini," celetuk Faris membuat Nabil salah tingkah.


"Dan....."


"Dan saat ini aku ingin memakan sate kambing," tukas Nabil cepat memotong ucapan sang suami.


Faris mengerutkan keningnya, dengan menyipitkan matanya sebelah dia bertanya "Apa, sate kambing?"


Nabil mengangguk dengan begitu antusias "Iya, aku sangat ingin memakan sate kambing."

__ADS_1


"Tapikan dimana kita akan mendapatkan sate kambing?" tanya Faris melongo


"Oh atau aku suruh Diki saja yang membelinya. Oke, aku akan menghubungi Diki sebentar," ujar Faris hendak mengambil ponsel di dalam saku celananya.


Akan tetapi Nabil langsung menahan tangan sang suami "Kenapa harus kak Diki, aku mau kita pergi keluar untuk mencari nya," tukas Nabil dengan menaik turunkan alisnya.


Faris semakin memasang wajah heran nya "Kita?" tanya nya.


"Iya, aku ingin makan di tempat nya langsung." timpal Nabil memalas di hadapan sang suami.


"Tapi ini sudah malam, sayang ... Aku tidak ingin kamu sakit nantinya karna masuk angin," elak Faris, tapi Nabil malah membuat wajah cemberut dengan bibir di monyong kan ke depan.


"Ya sudah kalau tidak mau, padahal ini kemauan anak mu" lirih Nabil, kemudian dia langsung membaringkan tubuhnya di atas tmpat tidur dan menutupi dirinya dengan selimut, dengan perasaan sedih.


Faris sejenak terdiam, istrinya sekarang malah menjadi seperti anak kecil. Faris menarik nafas nya dalam-dalam, setelah itu dia menghembuskan nafas nya panjang, dengan kemampuan nya ingin membujuk sang istri, meski tidak berhasil.


"Sayang, apa kamu marah?" sungguh lelaki yang tidak peka, sudah tau kalau istri nya sedang merajuk, malah bertanya.


"Sayang, katakan lah sesuatu," imbuh Faris lagi.


Tidak ada sahutan, membuat Faris kembali menarik nafas panjangnya.


"Ya sudah, ayo kita keluar mencari sate kambing yang kamu inginkan," ujar Faris yang akhirnya mengalah.


"Beneran?" tanya Nabil memastikan lagi, dan dia langsung mendapat anggukan dari sang suami.


"Uh ... Makasih ya Mas, ya udah nunggu sebentar ya." Nabil turun dari ranjang dengan perasaan sangat bahagia, bibirnya tak lepas dari senyuman sambil melangkah untuk memakai khimar dan niqab.


Faris hanya bisa menggeleng melihat tingkah sang istri, setelah Nabil siap dengan pakaian nya yang sudah tertutup, mereka langsung melangkah keluar.


"Bi, tolong bilang sama Ummi kami keluar sebentar" ujar Nabil pada bibi yang kebetulan lewat di depan mereka.


"Baik, Nak! Nanti bibi sampaikan."


Faris dan Nabil kembali melangkah keluar dari dalam rumah, masuk dalam mobil melaju ke tempat yang di inginkan Nabil.


"Kita akan kemana, sayang?" tanya Faris kepada sang istri, mereka sudah berjalan sedikit jauh dari rumah.


"Jalan saja dulu, nanti ketemu gerobak penjual sate kambing, dan satenya enak banget, Mas." jawab Nabil sambil membayangkan memakan sate yang dia inginkan itu.


"Gerobak?" tanya Faris dengan keterkejutan nya.

__ADS_1


"Iya, aku ingin makan sate yang di gerbak depan," jawab Nabil tersenyum gembira.


"Nah, nah, ini dia tempat nya!" lanjut Nabil lagi.


Mendengar arahan sang istri, Faris menghentikan mobilnya, dengan antusias Nabil ingin keluar, tapi tangan nya langsung di tahan oleh Faris.


"Sayang, benarkah ini tempatnya?" tanya Faris ragu saat melihat tempat sekeliling nya.


Lagi-lagi Nabil mengangguk dengan begitu yakin.


"Tapi, kenapa nggak makan du restoran saja?" tanya Faris merasa keberatan.


"Loh, memang nya di sini kenapa? Sate di sini juga tidak kalah enaknya dengan yang ada di restoran," ujar Nabil menimpali.


"Tapi, bagaimana kalo nanti makanan nya tidak higienis, dan juga kotor, kasian anak kita" protes Faris, mendengar itu Nabil memutar bola mata, sedikit menggeleng.


"Dengar, jangan menilai sesuatu dari tempat nya, tapi lihat lah caranya, penjualannya menjaga kebersihan makanan kok." jelas Nabil dengan lembut nya.


Faris terlihat membuang nafas nya, "baikklah ... tunggu di sini saja aku akan membelikan nya untuk mu." seru Faris.


"Tidak, tidak. Aku akan ikut, kita akan makan di sini," ucap Nabil menolak usulan Faris.


"Tap..."


"Tidak nada tapi-tapian pokoknya kita makan di sana" sergah Nabil begitu kekeh ingin memakan sate di tempatnya langsung.


"Tapi saaa..."


"Ini kemauan anak mu, mau nanti dia liuran karna tidak dapat apa yang dia inginkan?" tanga Nabil dengan nada ketus.


"Hmm ... Baiklah, ini demi kamu dan juga anak kita." Ucap Faris yang akhirnya mengikuti apa yang di inginkan oleh sang istri.


.


.


.


.


~Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa Like komen dan juga Vote ya.


Bintang nya juga jdi kasih ya


__ADS_2