Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Anugrah dalam hidup ku.


__ADS_3

Halo Assalamualaikum ... Apa kabar nya ini para emak-emak keceh yang masih setia menunggu cerita Nabil up? Aku harap pada setiap semuanya ya, wkwkwkwkw.


Itu aja aku hanya ingin menyapa kalian dan berterimakasih atas dukungan yang kalian berikan, cuma terkadang aku sedih, kok kalian hemat banget sih Vote nya ke karya ini. Apalagi like, padahal yang fav udah seribu lebih, yang gak like pembaca goib kali ya, xixixixi.


Coba aja kalau kalian beri dukungan penuh, pasti aku akan lebih semangat lagi untuk nulis nya, hari ini aja aku udah dobel up dua bab, hehehe. Aku bukan pamrih ya, hanya meminta. Xixixix.


Udah ah, mau lanjut, terserah kalian kalau kalian sayang sama aku pasti kalian kasih dukungan penuh untuk diriku ini.


...****************...


Sudah beberapa hari sejak pertemuan Faris dan juga Heri, kini Faris dan Nabil tampak begitu bahagia. Hari-hari mereka lewati dengan kebahagiaan dan kehangatan, terutama bagi Faris, tidak ada lagi rasa sakit, dendam dan gelisah di hatinya.


Semuanya sudah tampak normal hidup layaknya manusia pada umumnya. Nabil dan Faris  semakin romantis, mereka seolah tidak pernah lepas walaupun hanya satu senti.


Mereka sudah tidak mengkhawatirkan apapun lagi, kisah Robert sudah di serahkan kepada pihak yang berwajib, dan di kabarkan besok para polisi akan membawa Robert ke kantor polisi, sedangkan Talia mengalami penyembuhan yang terbilang cepat, Nabil mengatakan untuk melepaskan Talia setelah dia sembuh, karna wanita itu sudah merasakan karma dan juga hukuman nya.


Sekarang ini Faris dan Nabil tengah duduk di balkon kamar, dengan posisi Nabil yang duduk di atas pangkuan sang suami. Pasutri ini begitu takjub melihat bulan dan bintang yang tampak begitu cerah malam ini.


"Mas, coba kamu lihat, bukan kah itu sangat indah?" tanya Nabil antusias menunjukkan bulan pada Faris.


"Iya, sangat indah, juga cantik!" jawab Faris, lelaki yang memangku nya itu bukan nya menatap pada bulan yang Nabil tunjuk, melainkan melihat wajah cantik sang istri yang terlihat tambah bersinar di bawah terang nya bulan.


Menyadari tatapan sang suami bukan pada bulan yang dia tunjukkan, Nabil merasa malu dengan pipi yang sudah memerah bagaikan kepiting rebus.


"Aku nunjukin bulan sama bintang, Mas! Itu sangat indah," ucap Nabil sambil membuang wajahnya dari tatapan sang suami.


Faris memegang dagu lembut Nabil, menghadapkan wajahnya cantik sang istri pada wajah nya.


"Jika yang pisa di sentuh lebih indah daripada yang jauh tidak bisa di raba, untuk apa harus menatap yang jauh? Terlebih yang dekat lebih indah dari bulan purnama," sarkas Faris, semakin membuat Nabil merasa malu.


"Aku kira kamu semakin jago menggombal, sayang!" cecap Nabil di iringi tawa kecil menatap mata sang suami.


"Kamu harus bedakan mana gombalan dengan ketulusan. Jika mengungkapkan mengatur kata-kata pada wanita yang tidak kita cintai maka yang keluar dari mulut  seseorang memang gombalan untuk menaklukkan wanita incaran nya, akan tetapi jika mengungkapkan pada wanita yang benar-benar dia cintai, maka itu adalah ketulusan," celetuk Faris pada sang istri, membuat Nabil tersenyum malu-malu.


Tangan Faris turun pada perut sang istri "Anak-anak Abi, apa kabar kalian, Abi dan Ummi sudah tidak sabar menunggu kalian lahir, semoga kita akan selalu bersama-sama ya, Nak!"


"Aaminnn"


"Oh iya, Mas! jika di beri umur panjang, pendidikan apa yang akan kita berikan kepada anak-anak kita kelak?" tanya Nabil pada sang suami, meski dia ingin anak-anak nya masuk ke pondok seperti dirinya, akan tetapi Nabil akan menerima semua keputusan Faria jika suaminya ingin menyekolahkan kedua anaknya.


"Aku belum memikirkan itu, apa kamu sudah memikirkan tentang itu?" tukas Faris balik bertanya.


"Aku hanya ingin anak-anak ku atau salah satu dari anak ku mau kita masukkan ke pondok. Mas tau, semua kitab-kitab yang aku ngaji selama ini tidak pernah aku coret atau rusak, semua itu sangat aku jaga, karna aku berkeinginan memberikan nya pada penerus ku, anak ku yang mau mengikuti jejak ku," jawab Nabil sambil tersenyum menatap ke depan.


Faris yang melihat senyuman manis Nabil, hatinya begitu menghangat, rasanya dia ingin menghentikan waktu agar terus bisa melihat keindahan wajah wanita nya.


"Sesuai keinginan mu, sayang! Aku yakin anak-anak jika kita didik dengan baik, maka mereka juga akan mendengar kan dan patuh kepada kita. Anak-anak semua tergantung kepada orang tua, jika sedari kecil dia di ajarkan yang baik dan dengan cara yang baik, maka kelak dia akan meresapi yang baik pula, begitupun sebaliknya, maka dari itu kita harus bekerjasama untuk mendidik keduanya, karna sebaik-baiknya pendidikan dialah dari kedua orang tuanya,"

__ADS_1


"Tapi, Mas, aku ingin salah kita yang lelaki mondok di Kairo Mesir, aku ingin anak kita belajar kitab sekaligus Al-Qur'an, aku ingin mereka menjadi hafizh Al-Qur'an, karna kamu tau, jika kita mempunyai anak yang men-hafiszh Al-Qur'an, maka Allah bebas kan, Abi, Ummi, dan nenek nya dari azab kubur,"


"Bukan kah kamu juga seorang Hafizh?"


"Tapi aku juga ingin mereka bisa, Mas! Aku ingin anak-anak ku semuanya Hafizh,"


"Lalu kenapa? Jika Allah memberikan umur panjang, kita kirim mereka ke mesir untuk belajar di sana,"


"Tapi ... Apa Mas tidak berniat menyekolahkan mereka? Aku akan ikut semua yang Mas putus kan"


"Kamu saja bisa kuliah sambil mengaji, maka mereka juga pasti bisa,"


"Aku juga ingin anak-anak ku, terutama anak perempuan ku tidak berpacaran sebelum waktunya, aku ingin mereka seperti kamu, tidak berpa berpacaran, langsung menikah, seperti kita dulu," celoteh Faris sambil mengeratkan pelukannya.


"Tapi aku tidak ingin anak ku menikah karna sebuah--"


"Sudah, sayang! Aku sudah minta maaf soal itu, jangan ungkit lagi, aku tau aku salah, tapi please jangan buat aku tambah merasa bersalah," potong Faris yang mengerti maksud Nabil, tentang pernikahan mereka dulu karna taruhan.


"Bukan itu, Mas! Maksudnya aku tu, aku tidak ingin anak-anak menikah karna sebuah perjodohan, aku ingin mereka memilih pasangan hidup mereka sendiri,"


Mendengar itu Faris menghembuskan nafas lega.


"Aku tidak akan mengungkit nya lagi, Mas, karna itu akan membuat aku dan kamu sakit, lagi pula aku sudah memaafkan kamu, untuk apa mengungkit nya kembali,"


"Terimakasih ya sayang ku, aku sangat beruntung mendapatkan kamu,"


"Tentu saja beruntung, aku lelaki tampan, terkaya, baik, setia, penyayang, banyak wanita yang ingin hidup dengan ku--" asik berceloteh Faris baru menangkap raut wajah sang istri yang terlihat cemberut, sedih dan ingin menangis.


"Hei ... Kamu kenapa, sayang?" tanya Faris sambil menangkup kedua pipi sang istri.


"Kamu benar, kamu lelaki sempurna, tampan, banyak harta, harusnya kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih dari pada aku," gumam Nabil lirih.


Hati Faris berdenyut, sungguh dia tidak bermaksud membuat hati sang istri sedih "Sayang ... Jangan bicara seperti itu, aku tidak bermaksud seperti yang kamu ucapkan itu, aku hanya bercanda sayang,"


"Kamu anugerah ku, kamu yang terbaik untuk ku, kamulah kesempurnaan yang aku miliki. Harta yang aku punya tiada artinya dengan mu sayang, aku rela harta ku habis, asal aku tetap hidup bersama mu,"


Pasutri itu sama-sama berpelukan menyalurkan rasa cinta yang semakin hari semakin membuncah.


Tidak tau siapa yang memulai duluan, yang jelas dua cucu Adam ini sudah menyatukan bibir mereka di bawah pancaran sinar bulan, dengan bintang berkelap-kelip di sekelilingnya.


...****************...


Pagi hari, Nabil menyalami mencium tangan sang suami setelah mereka mengaji bersama, tepatnya Nabil masih mengajari Faris mengaji.


Calon Abi itu merebahkan kepalanya di atas paha sang istri "Sayang, aku harus pergi ke sebentar," ucap Faris dengan mata terpejam, merasakan hangat nya tangan sang istri di kepalanya.


"Kemana? Bukan kah hari ini hari libur?"

__ADS_1


"Pihak kepolisian akan memindahkan, Robert ke kantor polisi, maka dari itu, aku ingin memastikan jika lelaki tua itu benar-benar sampai di sana,"


"Hem ... Apa kali ini aku boleh ikut?" tanya Nabil ragu.


Faris mengangguk "Iya, tapi di sana kamu hanya boleh duduk di ruangan ku, jangan ikut masuk dalan ruangan penyekapan,"


"Benarkah? Siap sayang! Aku pasti akan mendengarkan ucapan mu," Nabil terlihat sangat bahagia mendengar persetujuan sang suami.


Nabil kembali mengelus kepala sang suami, hingga suara Jane mengagetkan mereka.


"Ada panggilan untuk mu, Boy!"


"Sambungkan,"


"Baik, Boy!"


Panggilan masuk pun tersambung pada layar cetak berukuran sedang itu.


"Halo, Tuan"


"Katakan,"


"Tuan Robert...."


.


.


.


.


.


.


~Bersambung.


...Jreng ... Jreng ... Apa ayo? Siapa yang bisa nebak?...


...Oh ya, siapa nih di sini yang sebelum punya anak sering bahas masa depan untuk anak-anak nya nanti?...


... ...


...Kalo aku belum punya temen bahas, jadi ngehayal dulu, wkwkwkkwkw....


...Aku udah rajin up sekarang, jangan lupa itu like, komen, dan juga Vote seorang satu....

__ADS_1


...Bantu dukung juga dengan bintang dan hadiah sebanyak-banyak nya....


__ADS_2