Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Pilihan nya hanya satu.


__ADS_3

Suasana di depan ruangan operasi terasa begitu menegang, Faris berjalan tak karuan, dia terus berjalan bolak-balik di depan ruangan operasi, setelah tadi menandatangani surat izin untuk pengoperasian sang istri.


Mengikuti saran dokter, yang mengatakan jika Nabil harus segera di operasi untuk menyelamatkan kedua anaknya yang sudah sangat lemah. Di tambah keadaan Nabil yang sangat kritis.


"Nona Nabil harus segera di operasi untuk menyelamatkan anak-anak nya!" ujar Dokter pada Faris.


Dokter Riska juga berada di sana, sebagai dokter kandungan pribadi istri keponakan nya, dia langsung bergegas untuk datang ke rumah sakit saat mendapatkan kabar.


"Lakukan yang terbaik, Dokter!" ucap Faris dengan yakin.


Meski Faris sudah mengatakan demikian, namun wajah dokter masih terlihat khawatir.


"Tapi ... Ada satu hal yang perlu saya sampaikan!" celetuk dokter itu lagi.


Faris mengangkat alisnya sebelah "Katakan!" seru Faris.


"Karna tembakan juga shock yang di alami nona Nabil, hingga membuat nya mengalami pendarahan. Jadi, karna itu, dengan berat hati kami sampaikan, jika anda harus memilih salah satu di antara mereka!" ucap dokter dengan sangat ragu.

__ADS_1


Alis Faris langsung tersentak ke atas "Apa yang kamu katakan?" tanya Faris dengan wajah garangnya, membuat dokter merasa takut dengan aura dingin yang di perlihatkan Faris.


"E kami akan berusaha untuk menyelamatkan keduanya, tapi kemungkinan nya sangat sedikit. Karna pendarahan yang di alami nona Nabil sangat lah banyak, dan juga mereka sudah sama-sama lemah, jadi kami harus menyelamatkan salah satu dari mereka!" jelas dokter lagi dengan sangat gugup.


"Apa maksudmu, hah! Apa kamu ingin bermain-main dengan ku?" tanya Faris tidak terima seraya bangkit dan meremas kerah jas kerja berwarna putih yang melekat di tubuh sang dokter.


"Tu--tuan--" ucap dokter semakin gugup.


"Faris, apa yang kamu lakukan? Lepaskan dokter, jaga sikap kamu! Dengarkan apa yang dia katakan dulu!" sentak Riska, selaku Tante Faris, sia paham apa yang di rasakan keponakan nya ini, akan tetapi tidak dengan cara kekerasan seperti ini.


Faris menarik kasar tangan nya dari kerah baju dokter, lalu menjatuhkan kembali tubuhnya di kursi dengan begitu lemah.


"Tidak mungkin, bagaimana aku bisa memilih di antara mereka, rasanya aku ingin mengganti mereka!" lirih Faris seraya menutup wajahnya dengan dua telapak tangan.


"Ini semua salah ku, andai aku tidak lalai dalam menjaga mereka, ini semua tidak akan terjadi!" lanjut Faris, laki-laki 28 tahun itu bangun, dan meninju dinding dengan keras, sambil terus menyalahkan dirinya sendiri.


Riska mencoba untuk menenangkan Faris dengan mengelus lengan Faris. Dia juga turut prihatin dengan apa yang menimpa keponakan juga istri nya saat ini.

__ADS_1


"Yang sabar, Ris! Dengan menyalahkan diri sendiri mereka tidak akan selamat, lagi pula kamu sudah berusaha dengan baik menjaga mereka, akan tetapi ini memang sudah takdir!" sarkas dr. Riska sambil memeluk Faris.


"Aku tidak ingin kehilangan mereka, Tan! Aku ingin mereka semua selamat!" gumam Faris yang kini sudah terduduk di lantai dengan begitu lemah, tak perduli berapa banyak air mata yang sudah dia keluarkan untuk sang istri dan juga calon anaknya.


.


.


.


.


.


.


~Bersambung.

__ADS_1


Maaf telat up dan dengan durasi pendek. Wkwkwkwk


__ADS_2