Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Tekad Nabil.


__ADS_3

Faris mulai menyendok, dan saat ini lah jantung Nabil berdegup kencang, ini kali pertama dia masak sendiri untuk Faris, meski tadi pagi dia juga menyiapkan sarapan, tapi sama sekali tidak di makan oleh Faris.


Seiring sendok di arahkan ke dalam mulut Faris, Nabil seperti tercekat untuk berbicara.


Brruuuuu....


Baru satu sendok Faris memasukkan nasi dan lauk ke dalam mulutnya, tapi seketika dia memuntahkan nya kembali.


"Makanan apa ini, hah!" Bentak Faris membuat Nabil tersentak.


"Kamu bisa masak nggak, hah! Kenapa semuanya rasanya hambar!" lanjut Faris terus membentak, membuat Nabil menciut karna ketakutan.


"Maaf, Mas! Saya tidak bisa mencicipi dulu rasanya, jadi saya tidak tau jika makanan ini hambar!" jelas Nabil apa adanya.


"Hah ...! Bilang saja kamu tidak becus memasak. Dasar tidak berguna!" cibir Faris lagi, setelah itu dia langsung melangkah keluar, meninggalkan Nabil yang sudah meneteskan air matanya sendirian.


Rasa laparnya hilang seketika, tatkala mendengar semua cemoohan dari suaminya sendiri.


"Ya Allah ... Kuatkan lah hati hamba, maafkan lah hamba karna telah mengecewakan suami hamba, Ya Allah!" gumam Nabil dengan lirih, meski sikap Faris seperti itu, namun dia tetap merasa bersalah karna tidak bisa menyenangkan hati suaminya sendiri.


Karna tidak ingin suaminya kecewa, Nabil segera bangkit hendak mengejar Faris. Sampai di depan pintu, dia melihat jika suaminya pergi ke arah ruangan kerjanya.


"Mas, Mas Faris!" panggil Nabil, Faris yang mendengar pun langsung menghentikan langkahnya, tapi dia sama sekali tidak menoleh ke belakang.


Nabil kini berada tepat di belakang punggung Faris, dengan memberanikan diri, Nabil melangkah dengan cepat, langsung mendudukkan dirinya di hadapan Faris.


Dengan isak tangis, Nabil memohon maaf kepada Faris "Maaf kan Nabil, Mas, karna telah mengecewakan mu, dan tidak bisa menyenangkan hati mu! tapi Nabil memang tidak bisa mencicipi makanan yang Nabil masak, lagi pula Nabil baru belajar memasak. Tolong, jangan marah, karna jika Nabil mengecewakan hati suami Nabil, maka Allah tidak akan memaafkan, Nabil!" pinta nya pada Faris.

__ADS_1


Degggg


Bagaikan terhantam, rasanya jantung nya berhenti berdetak mendengar ucapan wanita di hadapannya, padahal jelas-jelas dia sudah mengatai Nabil dan tidak menghargai usaha nya, tapi Nabil yang malah meminta maaf kepada nya.


"Jika mau, Nabil akan memasak lagi untuk Mas Faris!" imbuh Nabil lagi.


"Pergi dari sini, aku sudah tidak mempunyai selera makan lagi!" tukas Faris, ntah kenapa dia tidak bisa lagi memarahi Nabil, saat melihat wanita itu begitu tulus meminta maaf.


"Tapi-" belum sempat Nabil berkata, Faris terlebih dahulu memotong nya.


"Jangan memancing kemarahan ku lagi, sekarang lebih baik kamu diam dan tidak melakukan apapun lagi!" ucap Faris.


"Tapi Mas sudah memaafkan, Nabil, kan?" tanya Nabil yang belum merasa puas dengan jawaban Faris.


"Heuh, belajar lah menjadi istri yang baik!" cibir Faris lagi, sebelum akhirnya dia hilang di balik pintu ruangan kerja nya.


Hati Nabil lagi-lagi merasa tercubit, dia sudah berusaha menjadi istri yang baik, tapi jika sang suami tidak melirik nya, dia tetap tidak akan berharga di hadapan Faris.


Sedangkan Faris, masih berusaha menenangkan hatinya, ntah kenapa dia kalut dengan pemikiran nya sendiri.


Dia sedikit tersentuh saat Nabil memohon maaf dari nya, buka mengakui kesalahannya, namun dia berfikir jika masih ada orang ketika di marahi malah dia yang meminta maaf.


"Ada apa dengan ku ini, kenapa aku tidak tega saat melihat nya menangis!" gumam nya sendiri, merasa aneh dengan rasa iba du hatinya.


Tapi dengan segera Faris menetralkan pikiran nya, dia langsung menganggap Nabil bersandiwara dengan tangisan nya, agar Faris merasa kasihan kepadanya.


...****************...

__ADS_1


Jam terus berputar, malam semakin larut, seseorang sedikit menggeliat dan perlahan membuka matanya. Nabil mendapati dirinya masih di atas sofa, berarti dia tertidur saat menunggu Faris kembali.


Pandangan nya beralih melihat pada tempat tidur, tidak ada sosok lelaki yang dia tunggu sedari tadi, itu artinya Faris tidur di dalam ruangan kerjanya, tapi Nabil sudah tidak mempermasalahkan itu, karna memang Faris lebih sering tidur di ruang kerja semenjak mereka menikah.


Nabil melihat jam menunjukkan pukul tiga pagi, sedikit senyuman terbit dari bibir indah nya.


"Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah, engkau telah membangun kan hamba untuk beribadah kepada mu!" ucap Nabil sendiri, setelah itupun dia langsung melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Nabil keluar setelah berwudhu, untuk melaksanakan solat sunnah tahajud, kini dia berdiri di atas sajadah, menghadap sang khalik, dan menyerahkan diri kepada nya.


Selesai melaksanakan solat dua rakaat, Nabil langsung menghambakan diri dengan berdoa kepada Allah sang pemilik alam.


"Ya Allah ... Jika takdir hamba memang seperti ini, maka hamba ikhlas ya Allah, jika memang hamba yang engkau tugaskan untuk meluruskan jalan nya, maka berikan hamba kekuatan agar bisa membuat nya kembali kejalan mu, buka lah pintu hatinya ya Allah, Aaminn!" Nabil melirih setiap bait doanya, meski belum sepenuhnya tau permasalahan sang suami, saat ini sedikit banyak nya Nabil mulai paham dengan kata-kata yang di ucapkan kakek Adinata beberapa hari lalu tentang sifat suaminya.


Dia juga tidak ingin berprasangka buruk terhadap rencana Allah, jika memang suaminya bukan orang yang patuh, mungkin Allah menjodohkan mereka supaya dia bisa mengembalikan sang suami pada jalan yang benar.


Setelah memahami segala nya, Nabil bertekad akan bertahan dan juga berjuang untuk membawa sang suamiĀ  patuh kepada tuhan yang maha esa.


Yang saat ini dia butuhkan adalah kesabaran dan ketegaran, bukan air mata dan kesedihan, meski dia akan selalu mendengarkan hinaan dari bibir Faris, dia tetap harus bersabar.


.


.


.


.

__ADS_1


.


~Bersambung.


__ADS_2