
Malam yang begitu sunyi begitu menentramkan jiwa, angin nya yang menusuk, berhembus begitu lembut, memberi kesan tersendiri bagi siapa yang sempat merasakan nya.
Namun, di malam yang begitu sepi, akan tetapi tidak dengan ruangan yang satu ini, meski jam sudah menunjukkan pukul dua pagi, tapi suara-suara aneh masih terus memekik di dalam kamar bernuansa hitam abu-abu itu.
Mulai sejak Faris selesai mandi, dia terus menggempur sang istri, sesuai yang dia katakan, dia akan memberikan hukuman untuk Nabil, dan ini lah hukuman yang di dapatkan wanita cantik itu, meski lelah, tapi dia tetap harus memenuhi keinginan sang suami.
Tanda merah terlihat sudah penuh di seluruh tubuh Nabil, tidak ada celah yang tersisa, seolah Faris merasa tidak rela jika belum memberikan tanda di seluruh tubuh putih mulus istrinya. Faris seakan tidak pernah puas dalam menyalurkan hasrat nya, dia bahkan melewatkan makan malamnya.
Saat Nabil menawarkan dirinya makan, lelaki bermata tajam ini hanya menjawab, dia ingin memakan Nabil.
"Jangan pernah mencoba untuk pergi dariku, kamu harus selalu ada di sisiku!" racau Faris sambil terus bergerak.
Nabil hanya pasrah, tangan nya yang terkadang bergerak, meremas sprei kadang-kadang dia mencengkram kuat punggung sang suami. Memang tidak ada niat sama sekali dalam benaknya untuk meninggalkan sang suami, meski saat Faris bersikap dingin dan kejam pada dirinya.
Ntah sampai jam berapa mereka berhenti, hanya dinding dan Jane lah yang menjadi saksi, betapa dua anak manusia ini saling melepaskan rindu
...****************...
Pagi hari di sebuah pondok, tepat nya di pondok tempat dulu Nabil menuntut ilmu. Selesai menunaikan jamaah solat subuh, Amira kini duduk di atas lantai, tubuhnya dia standar kan pada tempat tidur berukuran kecil.
Terlihat matanya yang sembab dan basah, tangan nya tampak gemeteran menggenggam secarik kertas putih yang beru dia dapatkan dari tunangan nya, Ustadz Amir.
__ADS_1
Aisyah, salah satu murid Nabil yang sangat dekat dengan dia, kini tinggal satu bilik bersama Mira, karena permintaan dari Nabil, sampai sekarang pun, Nabil masih sering mengirimkan barang atau makanan untuk Aisyah.
Wanita belia itu masuk, dia sedikit terkejut melihat Mira yang sedang menangis, diapun langsung mendekati Mira.
"Ustazah, Mira! engkau kenapa?" tanya Aisyah terlihat panik, setelah Nabil menikah, Mira lah yang sangat peduli dengan nya di pondok tersebut.
Mira tidak menjawab, hanya kertas yang ada dalam genggaman nya di berikan kepada Aisyah, membuat gadis manis itu segera melihat nya.
...Assalamualaikum, Ustadzah Mira....
...Sebelumnya saya meminta maaf yang sebesar-besarnya, saya sama sekali tidak bermaksud untuk menyakiti perasaan mu, atau kedua orang tua mu....
...Ini adalah pilihan yang sangat sulit bagi saya, karna ini menyangkut antara dirimu dan juga cita-cita saya....
...Tujuan saya mengirimkan surat ini untuk ustadz Mira, karna saya ingin mengatakan, jika hubungan kita sampai di sini saja dulu, karna kita tidak mungkin terikat dengan jarak jauh, juga dengan waktu yang tidak tentu....
...Tapi jika nanti saya kembali dirimu masih menunggu saya, maka dengan senang hati saya akan menikahi mu....
...Hanya ini yang ingin saya sampaikan, tolong pengertian mu, dan juga beri pengertian pada Ayah dan Bunda, agar mereka juga bisa memakluminya....
...Sekian, Assalamualaikum....
__ADS_1
Isi surat yang di kirimkan ustadz Amir membuat Aisyah yang membacanya ikut nyesek, jangan kan Mira, dia saja begitu sakit saat membaca setiap bait yang tertulis dalam secarik kertas tersebut.
Bagaimana bisa dengan mudahnya ustadz Amir memutuskan hubungan mereka yang sudah terikat dengan status pertunangan, mengapa begitu tega dia meninggalkan Mira, karna sebentar lagi, tgl pernikahan mereka akan di tetapkan.
Aisyah memeluk Mira, meski tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut wanita cantik itu, tapi Aisyah tau, jika Mira sangat terguncang, hatinya pasti begitu hancur.
Mira hanya diam, cuma air mata yang terus saja menetes, seolah tidak mau berhenti, bagaimana ini bisa terjadi, mengapa nasibnya begitu miris, apa yang akan dia katakan kepada ke dua orangtuanya.
Akan kah dia juga melukai perasaan Ayah dan Bunda nya dengan menunjukkan surat yang dikirimkan tunangan nya itu.
Pikiran-pikiran itu terus berputar dan membuat nya semakin terluka, hingga tidak bisa yang dia lakukan selain menumpahkan segalanya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
~Bersambung.
Jangan lupa tinggalkan jejak, dengan cara like, komen dan juga Vote ya reader ku ter❤️.