Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Kehangatan.


__ADS_3

Keadaan nya masih sama, Diki tengah duduk dengan abi Zainal, menyeruput kopi sambil menikmati suasana sore hari. Pertanyaan yang baru di lontarkan oleh ayah dari istri tuan nya ini membuat dia sedikit tercekat.


Melihat mimik wajah Diki, abi hanya tersenyum "Apa pertanyaan Abi terlalu private?" tanya abi tanpa rasa bersalah.


Diki beralih mantap lelaki paruh baya, menggeleng kecil dengan senyuman tipis "Nggak, Abi! Saya hanya tidak tau harus menjawab apa, karna saya memang belun memikirkan itu," jawab Diki mengelak apa yabg di pertanyakan mertua Faris ini.


Lagi-lagi abi hanya tersenyum "Menurut Abi kamu sudah pantas untuk berumah tangga, ingat! Menikah itu juga sebuah ibadah. Jadi, kalau kamu sudah merasa siap, tidak ada salahnya kamu mencari tambatan hati mu!" ujar abi memperingati, mendengar kata-kata nya Diki merasa berbicara dengan teman yang sebaya dengan nya.


"Iya, Bi! Akan saya pikirkan," timpal Diki lagi.


"Percaya lah, jika kamu sudah mempunyai keinginan untuk mencari pasangan hidup mu, pasti Allah akan mempertemukan kalian dalam waktu kapan saja dan di mana saja, mungkin hari ini, besok atau lusa, atau kamu sudah terlebih dahulu bertemu dengan nya, namun kamu tidak menyadari nya," jelas abi Zainal, meski Diki hanya menjawab singkat, namun dia tau, jika Diki belum menemukan wanita yang bisa memikat hatinya, sebagai seorang yang lebih tua dari Diki, dia berusaha memberikan masukan untuk asisten menantunya itu.


"Tapi ingat, jangan menikah semata-mata hanya karna nafsu, tapi menikah lah untuk mencari ridho Allah!" lanjut nya lagi, Diki hanya mengangguk paham, dia seperti mendapat tausiah singkat, saat-saat seperti ini dia merindukan kedua orangtuanya.


Sedangkan di sisi yang lain, Faris yang sudah selesai mandi langsung keluar, niatnya mencari keberadaan sang istri, sungguh dia tidak bisa jika jauh dengan istri nya itu.


Teringat perkataan Nabil jika dia ingin menemui Ummi di taman, Faris berinisiatif untuk menyusul ke tanam kecil di halaman depan rumah.


Dengan pasti dia mengayunkan langkah nya, akan tetapi setelah dekat dengan anak dan ibu ini, langkah nya mulai gontai, seketika Faris menghentikan langkahnya, saat mendengar obrolan istri juga mertua nya itu.


"Apa kamu bahagia menikah dengan nya? Apa dia memperlakukan mu dengan baik?" tanya ummi sambil mengelus lembut kepala sang putri.


Faris menelan saliva nya secara kasar, terlebih saat mendengar pertanyaan sekaligus nasihat yang di lontarkan ibu mertuanya.


"Hidup dengan orang yang baru kita kenal pasti tidak akan mudah, Nak! Karena mungkin saja ada sifat buruknya yang baru kita ketahui. Tapi, jika kita menyerahkan semuanya kepada Allah, pasti urusan kita akan menjadi mudah." Imbuh ummi Fatimah terus memberikan penjelasan pada putri semata wayangnya.


Nabil menggeleng, dengan pasti dia menjawab "Tidak, Ummi, Nabil sangat bahagia hidup dengan Mas Faris, dia sosok lelaki yang penyayang juga tanggung jawab, Nabil merasa sangat bahagia hidup dengan nya."


Hati Faris menghangat, bukan lagi, tapi dia sudah merasa terharu, hati yang beku bisa menjadi luluh dengan ketulusan sang istri.


"Inikah istri ku yang dulu aku pertaruhkan, inikah istri yang dulu selalu aku bentak, inikah istri ku yang selalu menjaga kehormatan nya, inikah istri ku yang selalu menjaga nama dan martabat ku sebagai suaminya meski di belakang ku, inikah istri yang selalu menyembunyikan keburukan ku? Pantaskah dia bersanding dengan lelaki hina penuh dosa ini?" pertanyaan-pertanyaan itu timbul begitu saja dalam benak Faris.


Tidak ingin mengganggu momen kebersamaan ibu dan anak, Faris menarik mundur langkahnya kembali, dia memilih untuk kembali ke dalam kamar, tidak berniat menghampiri abi juga Diki yang dia lewati yang memunggungi dirinya.


Malam hari ... Seperti biasa, di kediaman abi Zainal selalu melaksanakan solat magrib secara berjamaah. Ruangan yang di jadikan mushalla yang dekat dengan ruangan keluarga, di sinilah mereka saat ini, mereka solat dengan abi Zainal yang menjadi imam, Faris dan Diki juga ikut serta, begitu pelayan di rumah abi Zainal, dia juga ikut berjamaah dengan majikan nya, Kali ini Faris benar-benar melaksanakan solat tersebut, tidak seperti biasanya yang hanya bersandiwara di depan semua orang.


Dalam sujud terakhir nya, hati nya merasa begitu tenang, kesejukan menyeruak dalam hatinya, dadanya terasa begitu senang tanpa alasan.


Selesai melaksanakan solat wajib magrib, abi Zainal mengajak mereka berlima untuk membaca Al-Qur'an secara bersamaan.

__ADS_1


Faris dan Diki saling melirik, mereka sama-sama tidak pandai mengaji, meski Faris tau tau huruf Hijaiyah, tapi dia sudah sangat lama tidak melihat Al-Qur'an.


Tapi dia tidak menolak, dengan hanya menggerakkan bibirnya, dia mengikuti bacaan sang mertua, hingga mereka selesai membaca satu surah Yasin.


Nabil dan ummi sama-sama menyalami tangan suami mereka, Nabil merasa haru dan bahagia, ingin rasanya momen seperti ini selalu dia rasakan. Dia berharap semoga Faris istiqamah melaksanakan solat nya setelah ini, bukan hanya di depan kedua orang tuanya saja.


Setelah membuka mukena dan merapikan nya, ummi dan Faris bergegas ke dapur untuk menyiapkan makan malam yang sudah di masak sore tadi.


"Nak, kamu duduk saja ... Biar ummi dan bibi yang menyiapkan semuanya.'' ujar ummi Fatimah.


"Tidak apa-apa, Ummi, Nabil senang kok bisa membantu" imbuh Nabil sambil membawa makanan dan juga nasi untuk di letakkan di atas meja berukuran panjang.


Makanan sudah tertata dengan banyak di atas meja, ummi Fatimah memang memasak banyak untuk anak, menantu dan juga asisten Faris, mereka mulai menyantap nya, mereka merasa sangat bahagia, karna makan malam kali ini terasa hangat, karna keluarga mereka terasa begitu lengkap.


"Mi, ini siapa yang memasak nya? ini tidak seperti masakan Ummi dan juga bibi!" Tukas abi menanyakan makanan yang sedang dia makan.


"Tentu saja putri kita." Jawab ummi tersenyum hangat.


"Kenapa, Bi? Apa masakan nya tidak enak?" timpal Nabil, dia langsung melihat pada Abi nya, kemudian pada sang suami.


"Rasanya sama kan Mas seperti yang biasa aku masak!" tanya Nabil pada Faris.


Wajah Nabil yang semula semangat langsung berubah, dia langsung menekuk wajah cemberut nya, membuat abi dan suaminya tersenyum gemas.


"Abi bertanya karna makanan ini sangat enak, Nak," ujar abi Zainal.


"Iya, tidak seperti biasanya, karna ini jauh lebih enak sayang." Faris pun ikut menimpali nya, ternyata mertua dan menantu ini sama-sama mengerjai Nabil.


Mendengar itu, Nabil mendongak menatap dua lelaki yang sangat dia sayangi.


"Ih ... Mas Faris dan Abi kok jahat sih," ucap Nabil tidak terima. Seketika gelak tawa di ruangan makan pun pecah.


"Sebagai hukumannya, Abi dan juga Mas Faris harus menghabiskan semua makanan ini" tukas Nabil, membuat Faris dan abi Zainal membulat kan mata mereka. Sementara Diki dan ummi hanya tersenyum simpul.


"Tapi sayang," Faris ingin protes.


"Kalau tidak mau, aku akan tidur dan Ummi malam ini, dan Mas tidur saja dengan Abi."sergah Nabil.


"Tidak mau!" Jawab abi Zainal berbarengan dengan Faris, Nabil terkekeh di balik cadarnya, begitu juga dengan ummi dan Diki.

__ADS_1


"Makanya kalau tidak mau, Mas dan Abi harus memakan semua makanan yang telah aku masak." Celetuk nya lagi.


Tidak ada pilihan lagi, Faris dan abi Zainal terpaksa menghabiskan semua makanan di hadapan mereka, daripada mereka harus tidur terpisah dengan istri mereka.


"Kak, Diki! Besok setelah mengantar Mas Faris ke kantor, hantarkan aku juga ke rumah, Mira ya!" ucap Nabil tiba-tiba membuat Diki tersedak makanan.


Uhuk..uhuk...


"Loh, loh, kok jadi batuk," ummi yang di sebelah Diki langsung memberikan nya air.


"Maaf ya kak, gara-gara Nabil kaka jadi tersedak," pinta Nabil menyesal.


Diki melirik ke arah Faris yang sudah memasang wajah dingin nya, Nabil pun ikut melihat ke arah pandangan Diki, dan dia baru paham, jika Diki takut dengan Faris, karna dia mengajak Diki.


"Bolehkan Mas?"


.


.


.


.


.


~Bersambung.


Jangan lupa like, komentar dan vote ya kawan-kawan semua.


Oh ya, jika aku minta rantingnya sama kalian, apa kalian mau kasih bintang di karya ku ini? Aku berharap nya sih kalian sudi memberikan dukungan penuh 😁.


Oh ya, mampir juga yuk di novel kakak ku ini, jika kalian ingin membaca yang banyak mengandung rasa, mulai dari panas, bahagia, senang sampai menguras air mata juga ingus, yuk baca kisah ini.


Di jamin, author satu ini paling bisa membolak-balikkan perasaan dan emosi kita.



Karya by :Senja Merona

__ADS_1


__ADS_2