
Assalamualaikum semua nya...!
Maaf ya, buat kalian yang Komen tapi nggak dapat balasan, bukan sombong atau nggak lihat komentar kalian, tapi karna nggak sempat balas.
Karna kalo aku balas satu satu, membutuhkan waktu lama, jadinya menyita waktu untuk menulis.
Aku sapa kalian lewat ini aja ya, karna aku baca semua kok komentar dari kakak ku ini.
Oh ya, keluarga besar Davvien dan Vera, juga Faris dan Nabil, dan Author beserta Family mengucapkan, minal aidzin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin.
Kadang banyak kata-kata ku tidak sopan, menyinggung saat membalas komentar kalian, maka dari itu aku minta maaf yang sebesar-besarnya.
Dan ... Masalah komentar yang bikin sakit hati ku dan juga bikin aku down, juga sudah aku maafkan, mari menyambut hari raya dengan hati yang bersih.
Udah, itu aja sih yang mau aku ucapkan, jangan lupa memberikan dukungan kalian ya. Buat yang belum baca novel pertama ku, ayo coba intip, siapa tau kepincut, seperti Davvien seorang mafia yang kepincut dan bucin akut pada istri gila nya.
...****************...
Pagi hari yang sangat cerah, dua sijoli ini sudah rapi dengan pakaian mereka masing-masing.
Pagi-pagi sekali Faris sudah bangun, dan mengajak Nabil untuk bersiap-siap, setelah dia solat subuh. Nabil merasa bingung, karna hari ini adalah hari Sabtu, kemana suaminya itu akan membawa nya.
"Mas, kita mau kemana?" tanya Nbail setelah mereka baru masuk ke dalam mobil.
"Duduk tenang lah sayang, kamu akan segera mengetahui nya!" jawab Faris mengelus kepala Nabil yang sudah tertutup dengan khimarnya.
Tidak ada pilihan lain, Nabil akhirnya hanya patuh dan menurut, dia hanya duduk diam membiarkan sang suami membawa dirinya yang ntah kemana.
Di sepanjang jalan Nabil terus melihat pepohonan dan juga bangunan-bangunan yang melambang tinggi ke angkasa. Akan tetapi saat asik memandang keluar jendela mobil, tiba-tiba saja perutnya terasa di aduk, kepala nya pun juga terasa pusing, hingga membuat nya mual.
Nabil segera menutup mulut dengan tangan nya, takut jika dia akan muntah di dalam mobil.
"Huueeekkk ... Huekkkk!" dia sudah tidak bisa menahan nya lagi, Faris yang melihat keadaan sang istri langsung merasa panik.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Faris, sambil menepi mobilnya di pinggir jalan.
"Huekkkk ... Huekkkk....!" Nabil tidak dapat menjawab, rasa mulanya semakin bertambah parah. Dia ingin keluar, akan tetapi Faris dengan sigap menahan nya.
"Di sini saja, sayang! Tidak perlu keluar!" tukas Faris begitu lembut.
Nabil terus saja mual, ingin memuntahkan sesuatu, tapi tidak ada yang keluar, hingga membuat nya sedikit melemah.
__ADS_1
"Minumlah dulu!" ucap Faris memberikan botol minuman pada sang istri.
Nabil mengangguk, lalu mengambil botol tersebut, lalu meminum nya, mualnya terasa sedikit berkurang.
"Sabar ya sayang, sebentar lagi kita akan sampai...!" ujar Faris dengan tangan nya menelusup dalam niqab sang istri, dan menhelus pelan pipi sang istri.
"Iya, Mas!" jawab Nabil dengan nada lirih, sungguh dia merasa sangat lemah.
Setelah beberapa saat melanjutkan perjalanan nya, mobi mereka telah sampai di sebuah pekarangan sakit, Nabil lagi-lagi merasa bingung, untuk apa Faris ke rumah sakit, dan bukan kah hari ini tidak ada dokter di sana. Pikir Nabil.
"Mas, kenapa kita ke sini?" tanya Nabil yang akhirnya mengutarakan isi pikirannya.
"Kita akan memeriksa keadaan mu sayang...!" jawab Faris, kemudian dia turun, mengitari mobil, lalu membukakan pintu untuk sang istri.
Tanpa membiarkan Nabil turun, Faris dengan sigap menggendong sang istri ala bridal style.
"Mas, aku bisa berjalan sendiri, malu di lihat orang banyak...!" bisik Nabil di telinga sang suami.
"Sayang, aku tidak suka di bantah!" ucap Faris tegas, akhirnya Nabil pasrah di gendong oleh Faris, masuk ke dalam rumah sakit.
Tanpa keduanya sadari ada seorang yang tidak terlalu jauh dari mereka sedang memotrer momen keduanya yang terlihat sangat romantis.
Faris terus berjalan, tanpa memperdulikan orang-orang yang menatap dirinya dengan begitu kagum, tubuh tegap yang sangat dia sukai kaum hawa, hidung mancung, wajah yang sangat tampan, di tambah kaca mata hitam bertengger pada hidung mancung nya.
Setelah menyusuri lorong-lorong rumah sakit, Faris tiba di depan sebuah ruangan, yang tertulis nama pada pintu kayu bernuansa coklat itu Dr.Riska.
Tanpa mengetuk, Faris langsung membuka nya menggunakan jari nya. Meski agak kesusahan, akan tetapi sama sekali tidak berniat menurunkan sang istri.
Ceklek...
Pintu ruangan terbuka, Nabil yang sedari tadi menyembunyikan wajahnya pada leher sang suami akhirnya mendongak, dapat dia lihat seorang wanita bertubuh tinggi menggunakan jas dokter yang juga menggunakan hijab.
"Tante...!" panggil Faris, membuat Nabil tercengang dan wanita yang hampir paruh baya ini membalikkan badannya.
"Dia memanggil Tante? Jadi dokter ini tantenya, pantas di hari inipun ada dokter yang melakukan pemeriksaan!" batin Nabil. Lagi-lagi Nabil merasa aneh, karna jiak di lihat, ruangan tersebut mirip dengan ruangan check up untuk ibu hamil.
"Kalian sudah sampai?" tanya nya, matanya langsung berbinar melihat pemandangan yang di suguhkan oleh keponakan nya.
"Hem ... Jadi sekarang kamu sudah menjadi lelaki sayang istri ya, hingga kamu tidak membiarkan dia berjalan kaki!" goda dr.Riska, Faris hanya acuh, beda halnya dengan Nabil, dia merasa sangat malu karna sampai saat inipun Faris masih belum menurunkan dirinya.
"Dia mual saat kami di jalan, cepat Tan periksa istri ku!" tukas Faris yang memang tidak suka basa-basi.
"Apa! dia menyuruh seenaknya saja, sangat tidak sopan!" gerutu Nabil di dalam hati.
__ADS_1
"Baiklah, baringkan dia di atas ranjang itu...!" ujar dr.Riska menyuruh Faris menurunkan istrinya pada ranjang pasien.
Setelah itu, dr.Riska berjalan mendengar Nabil, dia tersenyum hangat pada wanita yang sedang berbaring itu.
"Jadi istri mu menggunakan niqab, Faris?" tanya nya yang sudah pasti di angguki oleh Faris.
"Sungguh beruntung kamu, diberikan istri seperti bidadari dan juga pandai menjaga diri!" puji dr.Riska membuat Nabil merasa malu dan Faris merasa senang.
"Halo, Nak! Kenalkan saya Riska, adik dari mamanya Faris, tepatnya Tante nya Faris, kamu juga harus memanggil saya dengan sebutan Tante, ya...!" celetuk dr.Riska sebelum melaksanakan tugas nya.
"Salam Tante, saya Nabila Isti nya mas Faris!" jawab Nabil, sebenarnya dia merasa tidak enak karna harus berkenalan dengan cara seperti ini.
"Kamu tidak usah canggung, salah dia yang tidak mengenalkan kita berdua!" timpal dr.Riska, meski baru dua kali melihat Nabil, akan tetapi dia langsung bisa akur dan juga sangat hangat.
"Boleh Tante periksa sekarang?" tanya nya yang mendapat anggukan dari Nabil.
"Tapi maaf, Tante angkat sedikit bajunya di bagian perut ya!" tanya nya lagi.
Kali ini Nabil merasa bingung, kenapa dia harus di periksa di perut, akan tetapi dia tidak berani untuk bertanya.
Tidak ada perawat atau orang lain, dr.Riska memeriksa calon akan keponakan nya sendiri, mulai dari mengoleskan gel pada perut Nabil, hingga saat menempelkan alat monitor yang langsung terhubung pada layar di sebelah Nabil.
Faris dengan begitu seksama melihat semua yang di lakukan oleh dr.Riska pada istrinya.
"Sesuai yang Tante katakan kemaren, istri mu hamil, dan kandungan nya sudah memasuki usia tujuh Minggu!"
Degggg
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Aku udah up banyak loh, jadi kalian jangan pelit-pelit dong ngasih vote sama hadiahnya, like dan komen juga ya.
__ADS_1