
Jarum jam terus berputar, matahari pun semakin meninggi, semakin menyengat kulit dengan panas cahaya nya.
Faris masih duduk di sebelah Nabil, menatap dalam wajah teduh sang istri, tangan nya yang terus menggenggam jemari Nabil, memberikan kekuatan pada wanita nya agar segera pulih kembali.
Dr.Riska sudah kembali ke rumah sakit setelah memberikan obat untuk Nabil, karna ada pasien yang harus dia periksa.
Rasa bahagia, sedih, tak percaya sudah menggerogoti relung hati lelaki tampan berbulu mata lebat ini, penantian juga usahanya tidak sia-sia, karna sudah ada benihnya di dalam rahim sang istri.
Rasa senang nya semakin bertambah karna dengan istri nya hamil, maka Nabil tidak akan pernah bisa meninggalkan dirinya.
"Apa aku harus berterimakasih padamu, Tuhan. Karna telah memberi ku rasa bahagia yang sudah sangat lama tidak aku rasakan lagi" batin Faris, sebenarnya hati Faris memang sudah cenderung untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta, akan tetapi dia masih ragu, terutama Faris masih sangat merasa gengsi jika harus mengatakan nya pada Nabil.
Tidak berapa lama, jari yang di genggaman perlahan bergerak, mata yang terpejam mulai mengerjap, menyadari sang istri sudah mulai sadar, Faris merasa sangat bahagia.
Ciuman langsung dia berikan di seluruh wajah sang istri, saat Nabil sudah membuka matanya.
"Mas...!" panggil Nabil dengan suara serak nya, dia menyadari jika Faris menjatuhkan ciuman terakhir di dahinya sangat dalam dan juga lama.
"Sssttttt janan bicara dulu, biarkan seperti ini sebentar saja!" ucap Faris yang kini malah memeluk tubuh Nabil, air mata nya tiba-tiba saja keluar, karna rasa haru dalam hatinya.
Menyadari tingkah suami nya yang aneh, Nabil meraup wajah Faris dengan kedua telapak tangan nya, hubungan mereka yang merenggang tiga hari belakangan ini, membuat nya sedikit canggung.
"Mas...!" panggil Nabil lagi sambil mengangkat wajah Faris, matanya langsung terbelalak saat melihat wajah tampan sang suami sudah di penuhi dengan linangan air mata.
"Apa yang terjadi, Mas? Apa aku punya salah? Apa sikap ku selama ini sangat melukai hati, Mas? Maafkan Nabil mas, sungguh tolong maafkan Nab..."
Cup...
Ucapan Nabil terpotong saat Faris menjatuhkan ciuman di bibir nya, dia takut jika sikap nya selama ini terlalu berlebihan dan menyakiti sang suami.
Sedangkan Faris masih mencium bibir Nabil, rasa bahagia nya belum dia ceritakan pada istrinya, dia ingin Nabil mengetahui sendiri saat mereka akan pergi ke rumah sakit, untuk mengecek kandungan sang istri.
"Kamu tidak perlu meminta maaf, sayang! Aku yang seharusnya minta maaf karna sudah sangat egois! Maafkan aku jika selama ini acuh padamu, maafkan aku juga jika aku menjadi beban pikiran mu! Mulai sekarang aku akan berusaha menjadi suami yang lebih baik lagi... Dan juga aku berterimakasih banyak padamu sayang, sudah memberikan kebahagiaan yang tidak mampu aku beli dengan apapun juga!" ujar Faris, mengungkapkan rasa di hati nya.
Tanpa di sadari air mata juga sudah keluar dari sudut mata Nabil, ketika mendengar semua perkataan sang suami, namun belum sempat dia berucap, Faris sudah kembali memotong nya.
"Tolong berikan aku waktu untuk mengubah diriku! Dan jangan menjauh dariku, meski aku bukan lelaki yang kamu inginkan, aku akan menafkahi mu dengan uang halal ku, jadi tidak ada alasan lagi kamu meninggalkan diriku!" bagaikan penyejuk saat Nabil mendengar kata-kata yang keluar dari bibir sang suami.
__ADS_1
"Percaya lah sayang, aku benar-benar sangat mencintai mu!" timpal Faris lagi.
Nabil langsung mengangguk, meski Faris tidak mengatakan akan menuruti permintaan nya untuk menutup bar juga usahanya, tapi setidaknya dia merasa sedikit bahagia, karna perlahan Faris ingin berubah menjadi seorang yang lebih baik lagi.
Faris naik ke atas tempat tidur, berbaring di sebelah sang istri, lalu membawa Nabil ke dalam pelukan hangat nya, pelukan yang sangat dia rindukan Bebe hari ini.
Begitu pun Nabil, rasa nyaman beberapa hari lalu telah hilang, kini telah Kembali dia rasakan. Sambil memejamkan mata menikmati rasa yang membuat nya begitu nyaman berada dalam dekapan suami.
"Kenapa Mas bisa berada di rumah lagi?" tanya Nabil pada suaminya.
"Mengetahui istri ku sakit, apa aku akan tenang jika tidak melihat nya" tukas Faris balik bertanya.
"Aku hanya kecapean mungkin, cuma perlu istirahat!" timpal Nabil.
"Iya, kamu memang harus istirahat, dan mulai sekarang aku melarang mu melakukan aktivitas berlebihan, kamu hanya perlu melayani ku saja!" sergah Faris yang tidak ingin di bantah.
Semua terjadi begitu saja, hubungan mereka yang beberapa hari lalu sempat cekcok kini kembali membaik, meski rasa kecewa masih tersirat di sudut hati Nabil, akan tetapi dia tetap merasa bahagia ntah dengan alasan apa.
...****************...
Faris dan Nabil masih setia berada di atas tempat tidur, cucu tunggal Adinata ini sudah menyuruh Diki menghandle semua pekerjaan nya di kantor, karna dia akan menemani sang istri.
Faris terbangun, sudut bibirnya langsung terangkat, tiga malam berpisah membuat mereka kurang tidur, karna selalu di landa oleh rasa rindu yang menggebu.
Berkali-kali dia mencium kening sang istri, rasanya ingin sekali dia melahap Nabil saat itu juga, akan tetapi dia masih ragu, takut akan menyakiti janin dalam perut sang istri.
Nabil yang masih tertidur sayup-sayup mendengar suara adzan berkumandang. Tanpa bermalas-malasan dia langsung membuka matanya, pemandangan pertama yang dia lihat adalah wajah suaminya yang sedang tersenyum manis menatap padanya.
"Sudah bangun?" tanya Faris.
"Iya, Mas! Sudah zuhur, kita solat dulu yuk!" ajak Nabil, ingin sekali Faris mengangguk, tapi dia masih belum siap.
"Solat lah sayang, aku akan menyiapkan makan siang untuk mu, sedari tadi kamu belum makan apa-apa!" jawab Faris menolak dengan cara halus.
"Itu bukan kewajiban mu, Mas! Tapi itu kewajiban ku!" timpal Nabil, memang benar bukan, itu adalah kewajiban seorang istri, mengapa sekarang malah terbalik.
"Apapun untuk mu sayang!" tukas Faris santai, sejurus kemudian dia langsung bangkit dan turun dari tempat tidur.
__ADS_1
Menggendong Nabil masuk ke dalam kamar mandi, setelah itu dia langsung keluar. Tujuan nya yaitu dapur, untuk menyiapkan makan siang untuk sang istri yang sedang mengandung anaknya itu. Tepatnya bukan dia, akan tetapi menyuruh para Maid membawakan makan siang yang sudah terlambat ke dalam kamarnya.
Selesai Nabil solat, makanan pun sudah tertata dengan rapi, setelah salam Nabil langsung melihat kepada sang suami yang sedang tersenyum ke arahnya.
"Sudah selesai, ayo kita makan dulu! Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa!" ajak Faris dan Nabil pun mengiyakan nya.
Nabil merasa sangat aneh dengan perlakuan Faris, sikap nya semakin manis, memperlakukan dirinya bak seorang ratu, bahkan Faris tidak membiarkan Nabil makan sendiri, melainkan dia yang menyuapi nya.
"Cepat lah sembuh sayang, besok aku akan mengajak mu ke suatu tempat!"
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Halo temen-temen ku yang keceh-keceh, gimana puasa kalian, masih semangat kan...?
Harus dong, kan cuma satu hari lagi, besok kita udah sampai di hari kemenangan 🥺🥺.
Hem ... Temen-temen, kok aku sekarang susah ya buat cerita akhir bab itu memegang kan atau bikin kalian penasaran 🤔 aku nggak ahli lagi ngegantung cerita agar kalian semakin penasaran.
Tapi nggak apa-apa deh, semoga kalian terap suka.
Jangan lupa itu, like komen dan juga Vote sebanyak-banyak, soalnya aku lihat fav nya sudah hampir 1k tapi yang ngasih dukungan hanya beberapa biji.
Aku sih nggak maksa, di baca aja udah Alhamdulillah, tapi kalo di berikan dukungan lebih subhanallah dan Alhamdulillah banget 😁 ngelunjak ya aku.
Intinya itu, dukungan ya🤭.
__ADS_1