Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Lelaki lemah.


__ADS_3

Pulang rumah, Nabil terlebih dahulu mengecek keadaan sang ummi yang terdengar batuk-batuk dari dalam kamar nya.


"Assalamualaikum, Ummi!" ujar Nabil setelah mendorong daun pintu kamar ummi Fatimah.


"Waalaikum salam, Nak! ukhuk... Ukhuk...!" jawab ummi sambil terbatuk.


"Ya ampun, ummi ... kenapa seperti ini!" Nabil langsung memberikan air kepada sang ummi.


"Terimakasih, Nak!" ucap ummi Fatimah saat memberikan gelas nya kembali kepada anak perempuan nya itu.


"Iya, Ummi! sekarang Ummi istirahat ya!" ujar Nabil lagi, dan ummi mengangguk, Nabil langsung menyelimuti wanita paling dia sayangi.


Setelah melihat sang Ummi terlelap, Nabil keluar dan melangkah masuk ke dalam kamarnya.


Nabil langsung mendudukkan tubuhnya merosot di atas lantai, tubuhnya dia sandarkan pada ranjang miliknya, air mata langsung saja keluar begitu saja.


Nabil bukan lah wanita yang kuat, dia seorang wanita perasa, berhati lembut, mudah saja bagi Nabil untuk menangis di saat dia di hadapan dengan situasi saat ini.


"Ya Allah ... hamba mohon, sembuh kan lah Ummi hamba, hamba benar-benar takut kehilangan Ummi!" lirih Nabil, rasanya saat ini dia benar-benar tertekan, permintaan sang ummi, pernyataan Faris, rindu akan pondok pesantren yang sudah lama dia tinggalkan.


Cukup lama Nabil terdiam di atas lantai yang tak di rasa dingin sedikit pun, pikiran nya kembali berkelana pada kejadian di kampus siang tadi.


Ingatan tentang Faris yang meminta jawaban atas lamaran yang lelaki itu  tanyakan terus berputar mengitari kepala Nabil, dia bingung harus memberikan jawaban.

__ADS_1


Satu sisi dia teringat akan permintaan sang ummi, satu sisi dia juga belum siap dan tidak yakin jika Faris benar-benar ingin menikahi dirinya.


Apa lagi belum ada rasa cinta sama sekali untuk lelaki yang telah mengakui perasaan untuk dirinya, rasanya dia tidak yakin jika Faris benar-benar mencintai nya, terlebih mereka baru beberapa kali bertemu.


Lelah dengan pikirannya, Nabil akhirnya terlelap, terlihat masih tersisa air mata di kedua sudut matanya.


...----------------...


Malam hari di sebuah Bar, Faris sedang berusaha membangunkan burung nya yang selalu tertidur dalam sangkarnya. Seperti biasa, dia tidak perlu repot-repot menyewa wanita untuk memberi servis untuk dirinya, cukup dengan mengedipkan mata, maka para kaum hawa akan dengan senang hati memberikan diri mereka kepada Faris.


Tapi bukan berarti Faris juga tidak memberikan mereka uang, dia berjanji jika perempuan yang bisa menghidupkan burung nya yang sudah lama pingsan, dia akan memberikan uang sejumlah 1 triliun rupiah.


Saat ini, seorang wanita sudah sangat lama mencoba membangkitkan gairah Faris, padahal perempuan itu sendiri sudah sangat terangsang, tapi Faris masih terlihat santai, dia hanya melihat wanita yang sedang bekerja keras di atas dirinya.


"Dasar tidak becus!" Hardik Faris, rasa marah, dan juga kecewa, karna musibah di masa lalunya hingga menghancurkan masa depannya.


"Bukan aku yang tidak becus, emang punya kamu nya saja yang lemah, tidak berfungsi!" Balas wanita itu mencibir Faris, wanita itu sudah sangat frustasi karna dia harus menahan hasrat nya uang sudah memuncak.


Faris yang mendengar itu langsung melempari tatapan membunuh kepada wanita yang berpakaian seksi tersebut.


Bukan nya takut, wanita itu malah berdecak pinggang, dan tersenyum sinis "Kasihan! percuma wajahnya tampan dan juga kaya, tapi bercinta saja tidak mampu. Jadi, kamu tidak pantas bersikap sombong. Memuaskan seorang wanita saja kamu tidak becus!" Lanjut wanita itu mencibir Faris semakin membuat amarah pria bermata kebiruan itu semkin memuncak.


Dengan begitu cepat Faris bangun, langsung mencekik leher wanita yang telah berani mencerca kekurangan dirinya, lalu mendorong dengan kasar, hingga punggung wanita tersebut terhantam kuat pada dinding di dalam ruangan bernuansa hitam abu-abu itu. Sorot matanya begitu tajam, wajah nya juga terlihat merah padam.

__ADS_1


"Beraninya kamu mengatai diriku seperti itu, maka rasakan akibatnya!" tukas Faris dengan nada dingin, tapi mengandung ancaman yang sangat mematikan.


Wanita yang tadinya terus mengatai Faris kini hanya mencoba melepaskan diri dari cengkraman tangan kekar yang sudah terlihat urat-urat tangan yang menonjol.


Tangan nya terus memukul-mukul lengan Faris, dia juga menghentak-hentakkan kakinya, menandakan kalau dia sudah sangat kesakitan dan kehabisan nafas.


Namun, bukan nya merasa kasihan atau melepaskan, melainkan Faris tambah mengeratkan cekikan nya di leher putih milik wanita tersebut.


Wanita yang tadinya di sewa Faris untuk memuaskan dirinya, malah berakhir dengan begitu tragis. Terlihat jika wajah wanita tersebut sudah pucat pasi, menandakan jika nafasnya sudah tidak sampai lagi untuk dia hirup.


Brakkk.....


.


.


.


.


.


~Bersambung

__ADS_1


__ADS_2