
...Di saat kamu mengatakan mencintai seseorang, maka cinta mu akan di uji, dengan rasa bosan, masalah yang bertubi-tubi, bahkan orang ketiga....
...Maka saat itulah kita lihat, siapa yang sanggup menahan ujian cinta, dialah yang harus kita perjuangkan....
...****************...
Jam terus menunjukkan angka yang berbeda, seiring suara dentingan nya di tengah malam yang sunyi sepi, tanpa cahaya, tiada bintang, hanya ada awan mendung tanpa menurunkan hujan.
Keadaan hati dua anak manusia yang sama-sama terluka kini sedang menyalurkan rasa sakit nya yang berbeda.
Nabil mengutarakan kesedihan nya dengan cara menengadahkan kedua telapak tangan nya di atas sajadah, meski sudah larut, namun tidak membuat dirinya bosan berharap kepada sang pencipta, agar di berikan pilihan yang tepat, terlebih saat mengingat jawaban yang di berikan oleh sang suami semakin membuat dirinya ragu, dan berakhir dia menghamba dengan melaksanakan solat sunnah istikharah dua rakaat.
"Ya Allah ... hamba mohon ampunan mu jika hamba menjadi istri yang nusyuz dan tidak patuh perkataan suami, sungguh hamba hanya manusia biasa, saat ini hati hamba benar-benar hancur, rasanya sakit tak bisa diumpamakan, hanya engkau yang mengetahui segalanya, hanya kepada mu aku berserah diri. Hamba mohon ya Allah, berikanlah pilihan terbaik bagi hamba, hamba mengharap petunjuk mu ya Allah, apa hamba harus bertahan dengan pernikahan ini, atau hamba harus pergi, meninggalkan dirinya, sebagaimana dia telah melupakan mu! Aaaminnnn"
Dengan isak tangis Nabil meraup wajahnya, waktu yang dia minta kepada Faris memang dia pergunakan untuk mencari jawaban, mengingat jika sang suami tidak bisa memenuhi keinginan nya.
"Katakan padaku, sayang! Apa yang harus aku lakukan, agar kamu mau memaafkan diriku dan memberiku kesempatan untuk membuktikan jika aku benar-benar mencintai mu, aku akan membuat mu bahagia.
Nabil melihat ke pada Faris, lalu berkata "Cinta Allah terlebih dahulu, baru setelah itu kamu boleh mencintai ku, dan tinggalkan semua dunia gelap mu, membatalkan pembuatan pabrik dan menanam bahan pengolahan minuman, dan yang terakhir, tutup Bar milik mu sekarang juga!" ucap Nabil begitu lantang, dapat dia lihat jika Faris begitu terkejut dengan permintaan diri nya.
"Kenapa Mas hanya diam saja, apa Mas keberatan?" tanya Nabil, karna tidak mendapatkan jawaban apapun dari mulut suaminya.
Faris menunduk, tangan nya masih di atas paha Nabil dengan menggenggam tangan sang istri, dia beneran tidak menyangka akan di hadapkan dengan situasi seperti ini.
"Dengar, sudah sangat lama aku mendirikan Bar dan sekarang menjadi Bar terbesar di kota ini, menutup nya bukan hal yang mudah, sayang! Dan masalah perkebunan dan juga pabriknya, itu sudah selesai hampir lima puluh persen, tolong sayang, jangan hadapkan aku dengan pilihan yang sulit!" lirih Faris, dia masih tetap ingin Nabil mengerti, jika usahanya di mulai dari nol, sedikit tidak memikirkan perasaan Nabil yang merasa semakin kecewa dengan jawaban nya.
__ADS_1
"Tapi itu salah, Mas! Itu hal yang di murkai Allah. Kamu sudah menjadi pimpinan perusahaan terbesar di dunia, uang mu bahkan tidak terhitung, kurang apalagi Allah memberimu kenikmatan, tapi Mas masih mencari jalan yang haram!" pekik Nabil, dia sudah tidak bisa menahan sesuatu yang semakin membuat dadanya sesak.
Semua kata-kata Nabil di dengar baik oleh Faris, akan tetapi tidak di serap oleh nya, dia masih tetap kekeh mempertahankan apa yang telah dia bangun dari dulu.
"Maafkan aku, sayang! Tapi aku butuh waktu untuk memikirkan semua ini, jika aku boleh jujur, ini adalah pilihan yang berat untuk ku, tolong berikan aku waktu!" pinta Faris, dia tidak tau jika Nabil semakin merasa sedih, apa sesulit itu meninggalkan pekerjaan nya itu, pikiran yang semakin membuat dada Nabil tambah sesak.
Terlalu sakit dengan kenyataan, Nabil menarik tangan nya dari genggaman sang suami "Kalau begitu aku juga butuh waktu, Mas! Aku butuh waktu untuk siap menerima kenyataan ini, waktu untuk berfikir, apa aku harus bertahan atau menyerah dengan semua ini!" timpal Nabil, sambil dia bangun hendak melangkah.
Faris mendongak, dengan cepat dia meraih tangan sang istri "Satu langkah pun tak ku izinkan kamu keluar dari kamar ini!" tukas Faris, tangan nya mencekat kuat pergelangan tangan sang istri, hatinya bergemuruh saat mendengar ucapan Nabil.
Sedangkan Nabil kembali terduduk lemah, meski hatinya sakit, tapi dia tidak mungkin membantah apa yang di ucapkan oleh lelaki yang berstatus suaminya.
"Jika memang itu yang Mas mau, aku ingin meminta sesuatu lain darimu!" pinta Nabil, dengan kepala menunduk, enggan melihat pada suaminya.
"Katakan sayang, selain itu, semua akan aku turuti, asalkan kamu tidak pergi dari hidup ku!" tukas Faris menjawab dengan begitu cepat.
"Tapi-"
"Jika Mas tidak mau, maka aku yang akan keluar dari kamar ini!" sergah Nabil memotong ucapan sang suami, saat ini dia tidak memikirkan apapun lagi, yang jelas untuk sekarang dia ingin menjauh dari Faris.
"Baik, aku akan pergi, tapi aku mohon, kamu jangan pernah berpikir untuk keluar dari rumah ini. Jangan pernah melakukan sesuatu hal yang bisa membuat ku menyakiti mu!" hardik Faris, meski saat ini dia ingin memeluk erat tubuh sang istri, akan tetapi dia juga tidak ingin karna keegoisan nya membuat Nabil pergi dari hidup nya.
Dengan berat hati Faris melangkah keluar, tidak ingi terlalu jauh dengan sang istri, Faris memilih masuk dalam ruangan kerja nya yang hanya bersebelahan dengan kamar nya.
Dan di dalam tempat ini, Faris menyalurkan kekesalan dirinya dengan memecahkan semua barang-barang.
__ADS_1
Berteriak, meninju, membanting, hingga ruangan yang mulanya rapi kini hancur bagaikan kapal pecah, saat ini Faris benar-benar merasa kesal, marah dengan ketidak berdayaan nya saat ini, dulu dia seorang pemaksa, jika sesuatu yang dia inginkan, maka itu yang harus terjadi.
Akan tetapi, Faris yang dulu sudah hilang jika berhadapan dengan Nabil, sebenarnya dia bisa saja memaksa Nabil agar tetap satu kamar dengan dirinya, akan tetapi sekarang ada Nabil di hatinya, ada cinta untuk sang istri, yang membuat dirinya tidak bisa menyakiti Nabil.
"Akkkhhhhhhh!" teriak Faris, untung saja dia sudah mengaktifkan kedap suara dalam ruangan tersebut, sehingga Nabil tidak mendengar apa yang terjadi dalam ruangan di sebelah kamar yang dia tempati.
"Aku harus bagaimana, apa yang harus aku lakukan ... Tidak bisakah kamu menerima ku dan juga usahaku!" lirih Faris, tubuh nya dia sandarkan pada pintu masuk, lalu perlahan merosot ke lantai, dia bagai kehilangan tenaga walaupun hanya untuk berdiri.
Faris sudah mencoba menenangkan dirinya, dia juga sudah menggenggam satu botol Wine, tapi saat ingin meneguk nya, bayangan wajah Nabil terlintas di ingatan nya, membuat dia membuang botol tersebut dengan perasaan marah.
Sambil menghapus air mata yang sedang keluar tanpa izin, menuruti hati nya yang sedang terluka. Dia sudah tidak memikirkan jika dia terlihat seperti lelaki lemah, karna dia juga manusia yang mempunyai hati, tentu saja rasa sakit sama yang di rasakan Nabil, tepatnya rasa takut, jika Nabil benar-benar meninggalkan dirinya.
"Aku sungguh gila sekarang karna mu, dan setelah ini, kau malah ingin meninggalkan ku? Heuh, tidak akan aku biarkan, lihat saja apa yang bisa aku lakukan jika kamu benar-benar pergi dari ku!"
.
.
.
.
~Bersambung.
Jangan lupa like, komentar dan juga Vote ya kakak ku sayang.
__ADS_1
Jika kalian suka, tolong tinggalkan dukungan ya kakak semua❤️.