
...Di saat hati kita sudah sangat mencintai orang lain, sengaja Allah membuatkan dirinya kecewa, supaya kita sadar, bahwa tidak ada tempat untuk menggantung kan harapan selain kepadanya....
...****************...
Faris dan Diki kembali masuk ke dalam ruangan nya, setelah mereka keluar dari ruangan rapat.
Sedari tadi Diki memperhatikan sikap Faris yang sudah berubah delapan puluh derajat, karna Faris yang sekarang bukan Faris yang sikapnya dingin, cuek, kejam, melainkan sekarang dia menjadi lelaki yang sering tersenyum, walaupun hanya saat bersama dirinya saja.
"Apa kamu sangat mencintai dirinya?" tanya Diki membuat Faris yang sedang melihat berkas di mejanya melihat ke arahnya.
"Mengapa pertanyaan mu seperti itu? Apa hubungannya dengan istri ku?" tanya Faris yang tidak ingin langsung menjawab.
"Hanya orang yang telah menaklukkan hati mu yang mampu mengubah sikap mu, aku mengenal mu sudah sangat lama, seberapapun usahamu menyembunyikan nya, namun aku tetap bisa menilai, jika dirimu sudah sangat mencintai istri mu itu!" ucap Diki membuat Faris bungkam, karna apa yang di katakan asisten nya itu memang benar adanya.
"Hem ... Untuk apa aku sembunyikan, sekarang aku memang sudah mencintai nya, dia sudah mengubah kehidupan ku, memberi warna dan membawa kembali senyuman yang sudah sangat lama telah hilang!" ujar Faris yang akhirnya mengakui di depan Diki.
Mendengar itu, membuat Diki tersenyum, akhirnya bos kakunya itu bisa normal juga.
"Berarti kamu tidak ingin kehilangan dirinya bukan?" tanya Diki lagi, Faris langsung menatap tajam ke arah Diki.
"Apa maksudmu, Diki? Tentu aku tidak ingin kehilangan dirinya, dan sampai kapanpun aku tetap tidak akan membiarkan dia pergi dari kehidupan ku!" cerocos Faris dengan begitu yakin.
"Kalau seperti itu, apa kamu tidak ingin mengatakan yang sebenarnya kepada istri mu, tentang pernikahan mu yang semula hanya karna sebuah taruhan?" tanya Diki lagi, dia hanya khawatir jika nanti Nabil mengetahui dengan sendirinya, malah membuat wanita itu tidak bisa memaafkan atasan nya itu.
"Mengapa kamu harus membahas tentang itu, Diki? Bahkan aku sudah menyembunyikan nya sebaik mungkin agar tidak melukai hati nya!" sergah Faris, tidak setuju dengan apa yang di ucapkan oleh Asisten nya.
"Aku hanya menduga yang mungkin terjadi, karna menurut ku lebih baik kamu berkata jujur, daripada nanti dia lebih kecewa saat mengetahui nya dari orang lain!" celetuk Diki lagi, namun saat ini Faris diam, dia tampak menimang ucapan Diki, meski dia berusaha menyembunyikan nya, tapi itu malah membuat dirinya tidak tenang.
Faris menarik nafas panjang, lalu menghembuskan nya dengan sedikit kasar "Akan aku pertimbangkan!" tukas Faris, dan Diki hanya mengangguk, sebagai bawahan sekaligus orang paling dekat dengan Faris, Diki hanya bisa memberikan saran.
Setelah itu keduanya pun kembali mengerjakan pekerjaan nya masing-masing.
__ADS_1
...****************...
Sedangkan di sebuah kamar, seorang wanita sedang duduk di atas lantai dengan badannya bertumpu pada tempat tidur, tubuhnya terlihat gemetar, dengan sesekali isak tangis yang membuat badannya semakin terguncang.
Bagai teriris dengan pisau, bak tertusuk dengan beribu panah di hatinya yang tidak bisa diumpamakan lagi rasa sakit nya itu.
Ucapan Abiyan kembali berputar seraya air mata nya yang terus mengalir.
"Yakin kamu masih bisa bertahan meski tau, jika dia menikahi dirimu bukan karna cinta, melainkan karna pertaruhan konyol agar dia bisa mendapatkan apa yang dia inginkan, bukan kah dulu dia mendekati mu sebagai seorang yang sangat alim, tapi setelah menikah, tidak kah kamu melihat perubahan dalam sikap nya?" tanya Abiyan meyakinkan Nabil.
Sebisa mungkin Nabil menahan sesuatu yang ingin tumpah, apa benar suami itu tega memperlakukan dirinya sebagai barang hanya untuk kepentingan dirinya saja? Pemikiran itu terus berputar.
Akan tetapi, Nabil tidak ingin mempercayai nya, karna bisa saja lelaki di hadapannya ini hanya sekedar membual dan ingin membuat salah paham di antara dirinya dan juga sang suami.
"Terimakasih informasinya, akan tetapi saya lebih mempercayai suami saya, saya yakin apa yang anda katakan tidak mungkin suami saya melakukan nya!" sergah Nabil menyangkal nya, meski hatinya sudah bergemuruh.
"Dengan mengatakan nya saja memang tidak membuat mu percaya, maka dari itu, aku akan menunjukkan bukti nya kepada mu!" imbuh Abiyan, seraya mengeluarkan benda pipih dari saku celananya, kemudian dia memberikan nya kepada wanita tertutup di hadapannya.
Mata Nabil memanas, air matanya pun sudah tidak sanggup lagi dia bendung, tumpah sudah apa yang sedari tadi dia tahan, tatkala melihat vidio berupa rekaman CCTV pembicaraan Faris dengan ke empat sahabatnya, Nabil bisa mendengar dengan sangat jelas, ketika Faris meminta Rangga memberikan tanahnya, karna telah berhasil mendapatkan Nabil, sekarang dia paham, kemana perginya Faris saat malam pertama mereka, ternyata suaminya itu pergi ke clubs, hanya untuk meminta hadiahnya. Terutama yang membuat dada nya sesak, saat mendengar jika Faris meminta tanah tersebut untuk membuat minuman beralkohol, yang sangat di haramkan dalam agama nya.
Nabil yang sudah tidak sanggup menhan rasa sakit nya langsung menyerahkan ponsel pada Abiyan, sedangkan dirinya langsung berlari lalu mengajak supir untuk pulang.
Dan sekarang di sini lah, Nabil sedang menumpahkan segalanya, menangis, sambil meremas seprei dengan begitu kuat, menyalurkan rasa sakit yang teramat sangat dia rasakan.
"Ya Allah ... Siapa lelaki yang menjadi suamiku, mengapa dia begitu mengerikan, cobaan apa ini ya Allah, mengapa engkau hadirkan jodoh untuk hamba lelaki yang kesehariannya hanya ingkar kepada mu!" batin Nabil, rasanya Nabil sudah tidak sanggup melihat kenyataan yang hadir satu persatu, terlebih mengetahui jika Faris mempunyai bar terbesar dan mendirikan pabrik pengolahan minuman haram.
Cukup lama Nabil duduk dan menangis di atas lantai, hingga suara adzan zuhur berkumandang, membuat dirinya sadar, jika semua masalah hanya satu solusinya, yaitu meminta petunjuk kepada Allah Subhana wa taala.
Dengan begitu kasar dia menyeka air matanya, lalu bangkit dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi, setiap langkahnya begitu gontai, tatapan nya juga lurus tanpa arah.
Tidak terlalu lama, Nabil membersihkan dirinya terlebih dahulu dan selanjutnya diapun berwudhu yang membuat hatinya sedikit tenang.
__ADS_1
Selesai berpakaian dan menggunakan mukena nya, Nabil langsung solat, terlebih dahulu dua melakukan solat sunnah sebelum zuhur dua rakaat, baru setelah itu dia melaksanakan solat zuhur, dan di tutup nya dengan solat Sunnah setelah zuhur.
Tidak lupa Nabil memanjatkan doa setelah melaksanakan sholatnya, berharap Allah akan memberikan dirinya pilihan yang tepat.
"Ya Allah ... Hamba hanya manusia biasa yang hanya bisa pasrah kepada kehendak mu, hamba ingin mengadu ya Allah, sungguh hati hamba saat ini sangat hancur, maafkan hamba jika selama ini hamba telah sangat mencintai nya! Hamba mohon kepada mu ya Allah ... Berikan petunjuk kepada hamba, arahkan kepada jalan yang benar, berikan lah pilihan yang tepat untuk hamba, jika memang dia bukan jodoh yang tepat dan jauh dari keridhoan mu, maka hamba rela berpisah meski hamba sudah mencintai nya, tapi jika dia memang jodoh yang engkau tetapkan untuk hamba, maka kuatkan diri hamba ya Allah! Aaaminnnn Ya Robbal'alamin!"
Selesai berdoa, Nabil langsung mengaji, melantunkan ayat-ayat suci Al Quran yang akan membuat hatinya semakin tenang. Nabil mengaji dengan posisi nya masih di atas sajadah hingga sampai waktu ashar, dia bahkan tidak ingin makan, saat bi Mila membawakan makanan siang untuk dirinya.
Bukan karna bertingkah, akan tetapi rasa sakit di hatinya membuat Nabil kehilangan nafsu makan, dia hanya ingin menenangkan hatinya saat ini, agar nanti tidak sampai melawan atau mengeluarkan kata-kata yang akan menyakiti suami nya.
Pukul lima sore, Faris keluar dari dalam mobil, kaki nya langsung melangkah masuk ke dalam rumah, baru saja melewati pintu utama, dia sudah melihat bi Mila berjalan menghampiri dirinya.
"Kenapa?" tanya Faris dengan wajah terlihat capek.
"A-anu Tuan!" bi Mila gelagapan, bingung bagaimana dia mengatakan nya.
"Katakan dengan jelas ada apa?" tanya Faris lagi dengan nada sudah mulai dingin.
"I-itu, Tuan! Nona Nabil sedari tadi belum makan, dia hanya mengurung diri di dalam kamar semenjak pulang dari kampus!"
"Apa!"
.
.
.
.
.
__ADS_1
~Bersambung