
Sudah dua hari sejak hari pertama Nabil mendatangi kantor Faris, dan sampai sekarang pun dia masih melakukan hal demikian, karna sampai sekarang Faris masih melarang dirinya untuk masuk kuliah.
Selama itu, orang-orang kantor Faris juga semakin memperlihatkan ketidak sukaaa mereka pada Nabil, terlebih saat melihat bos mereka pulang dengan menggandeng tangan Nabil, Nabil merasakan hinaan dan cibiran setiap kali dia memasukkan kantor. Tapi wanita dua puluh satu tahun ini sama sekali tidak berniat melaporkan kan nya pada Faris, karna menurut nya diam akan lebih baik.
Hanya saja, dia harus menyiapkan mental setiap kali melewati para karyawan yang mulutnya bagaikan bebek kehilangan telurnya, karna para karyawan itu tidak berhenti mengatai dia bukan wanita yang baik-baik, kadang dia juga kerap mendapatkan hinaan seperti di anggap sugar baby.
Selama ini Nabil hanya bersikap bijak, tapi tidak dengan hari ini, dia sudah tidak tahan dengan seseorang yang menghardik nya, bukan hanya dirinya, tapi mereka juga menghina pakaian nya.
"Percuma tertutup, kalau hanya menjadi pemuas bos saja!" Nabil bisa mentoleransi jika dia yang di hina, tapi saat pakaian nya yang di salahkan, membuat pertahanan nya runtuh.
Mendengar itu, membuat Nabil tidak lagi bisa menahan nya, dia menghentikan langkahnya dan berbalik menatap pada wanita dengan pakaian begitu ketat.
"Maaf ya mbak, saya rasa selama saya mendatangi kantor ini, saya sama sekali tidak berurusan dengan anda. Mengapa anda terus mengatai saya!" ucap Nabil begitu lantang, hingga semua orang menatap ke arahnya, sudah beberapa hari Nabil mengunjungi kantor, baru kali ini mereka mendengar suara wanita bercadar itu.
"Saya bisa diam dan memaafkan jika kalian mengatai saya, tapi saya tidak bisa terima jika khimar dan niqab saya gunakan di bawa-bawa, apa lagi kalian menghakimi saya yang kalian sendiri tidak memahami nya. Saya datang kesini sebagai apa itu bukan urusan kalian, yang jelas saya tidak sedang melakukan perbuatan haram!" lanjut Nabil dengan begitu tegas, dia diam selama ini bukan karna takut atau lemah, hanya saja Nabil tidak ingin melayani serangga kecil seperti mereka.
Mereka semua bungkam, sedangkan Nabil kembali melanjutkan langkahnya, dan memasuki lift.
Sedangkan di dalam ruangan nya, Faris sedang meremas tangan nye begitu kuat, hingga terlihat urat-urat kebiruan di balik kulit nya yang putih.
Dia baru menyaksikan sesuatu yang membuat amarah nya memuncak pada layar besar di hadapannya, setelah Diki memberitahu kan kepada nya, perihal yang di alami sang istri.
"Berani nya kalian menghina istri ku!" geram Faris sambil mengeratkan giginya.
"Diki, suruh ke empat wanita itu ke ruangan ku!" tukas Faris, dia terlihat begitu marah.
"Baik" langsung saja asistennya itu menelpon seseorang.
__ADS_1
Di dalam, Nabil menangis sejadi-jadinya, dia menikah dengan orang terkaya, tapi nasibnya hanya menjadi bahan gunjingan orang lain, terlebih mengingat jika Faris terkesan cuek, jadi dia pasti tidak akan mau mengurus hal-hal seperti itu.
Dia sengaja tidak mengatakan jika dia istrinya Faris, karna takut Faris tidak menganggap nya sebagai istri, karna sudah beberapa hari dia mendatangi kantor, tapi suaminya itu tidak pernah memperkenalkan dirinya sebagai seorang istri.
Saat pintu lift terbuka, Nabil terlebih dahulu menghapus air mata di balik cadarnya, untungnya tidak ada orang lain, karna sekarang Faris sudah menyuruh Nabil menggunakan lift khusus Presdir, hingga dengan mudah dia langsung sampai di ruangan Faris.
Setelah merasa sedikit tenang, dia langsung mengetuk pintu ruangan sang suami.
Tak berapa lama, pintu ruangan itu langsung terbuka, dan terlihat Faris yang membukanya, Nabil merasa heran, karna belum pernah Faris sendiri yang menyambut nya, terlebih yang membuat nya shock, saat Faris memeluk nya dengan begitu erat.
Dan yang paling membuat Nabil tidak percaya, saat mendengar sesuatu yang belum pernah di dengar dari muka Faris.
"Maafkan aku!" pinta Faris dengan lirih.
"Maafkan karna aku, kamu mengalami banyak hal!" lanjut nya lagi. Diki sudah keluar, karna dia paham, jika Nabil sudah datang, dia pasti sudah tidak di perlukan lagi.
Faris melepaskan pelukan nya, lalu menyuruh orang di balik pintu masuk.
Dengan pelan Faris menarik Nabil duduk di sofa, dan dia mendudukkan istri nya di atas pangkuan nya.
Pintu terbuka, terlihat lah empat wanita yang tadi menyombongkan diri dan mengatai Nabil masuk dengan kepala menunduk.
Nabil kaget melihat mereka, jantung nya berdetak tidak karuan, ntah kenapa dia merasa ada sesuatu yang akan terjadi.
"Angkat wajah kalian!" tukas Faris dengan tegas namun terserat nada kemarahan.
Ke empat wanita itu langsung mendongak, dan mereka terkejut melihat pemandangan di hadapan mereka, dimana Faris sedang memangku wanita yang mereka hardik sedari tadi, seketika mereka langsung merasakan suasana dingin yang menusuk, bulu mereka terasa semua nya ikut bangun saat melihat tatapan tajam atasan mereka.
__ADS_1
Nabil merasa tidak nyaman karna tatapan mereka, dia ingin turun dari pangkuan Faris, tapi sang suami melarang nya.
"Apa kalian tau kenapa saya memanggil kalian kemari?" tanya Faris dengan nada dingin.
Mereka hanya diam, tidak berani menjawab.
"Jawab, kenapa kalian hanya diam di hadapan ku, tapi mencibir saat di belakang ku, hah!" ucap Faris lagi dengan berteriak.
"Maaf tuan, tapi kami rasa kami tidak melakukan kesalahan!" jawab seorang wanita yang berdiri di tengah.
Faris berdecih, bahkan mereka tidak sadar telah melakukan kesalahan besar dengan menghina wanita nya.
Akhirnya Faris menurunkan Nabil, dan melangkah mendekati ke empat wanita yang sudah gemeteran itu, mereka tau bagaimana kejamnya atasan mereka, bahkan tidak ada ampun jika sudah melakukan kesalahan.
"Lihat dia" tukas Faris menyuruh mereka melihat pada Nabil.
"Dia wanita yang kalian hina setiap harinya, yang kalian katakan wanita simpanan, sugar baby, bahkan kalian mengatakan dia buruk rupa, apa kalian tau dia siapa?" tanya Faris, mereka berempat saling tatap setelah melihat pada Nabil yang juga sudah menunduk.
"Kalian tau dia siapa, hah? Dia adalah istri ku, Zaiyan Nabil Bagaskara, dia yang selalu kalian hina adalah wanita ku, yang sudah kalian buat menangis adalah kesayangan ku!"
.
.
.
.
__ADS_1
~Bersambung.