
Sudah beberapa hari berlalu, Nabil begitu setia mengurus sang suami, meski Faris mengatakan sudah sembuh, akan tetapi Nabil tetap memperlakukan Faris layaknya orang sakit. Dia bahkan tidak mengizinkan Faris untuk ke kantor dua hari ini.
"Sayang bangun, kamu sarapan dan minum obat," ujar Nabil yang sudah duduk di tepi ranjang, satu piring makan di tangan nya, dia mengguncang tubuh sang suami.
Dua hari ini Faris selalu di suruh tidur kembali setelah solat subuh oleh Nabil, dan di bangunkan saat Nabil selesai membuat sarapan.
Faris menggeliat, perlahan dia membuka matanya melihat wajah cantik Nabil, dengan rambut di sanggul ke atas, sementara anak rambut masih banyak di wajah Nabil, membuat wanitanya tampak begitu cantik.
"Morning kiss nya mana?" tanya Faris merengek.
Cup....
Cup...
Cup....
Tanpa membantah Nabil langsung mencium seluruh wajah tampan milik Faris.
"Sekarang kamu sarapan ya" gumam Nabil ingin menyuapi sang suami.
"Tapi, sayang! Harus kah kamu menyuapi ku selalu? Aku bisa makan sendiri, aku tidak ingin selalu merepotkan kamu, lebih baik kita makan di meja makan saja, ya!" ajak Faris supaya makan di meja dalam kamar Faris.
Nabil menggeleng "Aku tidak merasa di repotkan, lagian ini pagi terakhir aku menyuapi mu di atas kasur, karna keadaan mu sudah membaik," sergah Nabil, dan akhirnya Faris menurut.
"Sayang..." panggil Faris.
"Iya, katakan Mas!"
"Hari ini aku dan Diki ingin ke markas melihat Robert,"
Nabil menghentikan aktivitas menyuapi Faris, dia menatap dalam kedua manik sang suami, hatinya tentu saja tidak merasa tenang, bagaimana jika nanti Faris shock kembali di sana, bagaimana jika trauma suaminya kembali.
"Aku tidak apa-apa, sayang! Aku sungguh tidak apa-apa," ucap Faris lagi meyakinkan Nabil, dia tau jika istri nya sangat mengkhawatirkannya.
"Habiskan sarapan mu dulu, Mas!" usul Nabil kembali menyodorkan sendok di depan mulut Faris.
"Apa kamu tidak mengizinkan ku ke sana?" tanya Faris dengan wajah yang tampak cemberut.
"Jika mau ke sana, maka kamu harus menghabiskan sarapan ini dulu, jika ingin cepat, maka cepat habiskan lah," cecap Nabil membuat Faris menatap nya kembali.
"Kamu serius mengizinkan aku? Bukan karena terpaksa kan?"
Nabil mengangguk "Apa aku boleh ikut?" tanya Nabil.
Faris mulai bingung, dia yakin istri nya pasti akan meminta ikut, akan tetapi dia tidak ingin melibatkan sang istri, Faris takut jika Nabil kenapa-kenapa karna itu tempat penyiksaan yang mungkin banyak darah dan benda-benda tajam dan senjata api.
"Bukan aku tidak mau mengajak mu, sayang! Tapi di sana adalah tempat yang berbahaya, aku tidak ingin kamu dan anak-anak kita kenapa-kenapa, lebih baik kamu tunggu aku di rumah saja ya, aku janji tidak akan membunuh nya," elak Faris, berbicara sebaik mungkin agar sang istri bisa mengerti.
Sesuai keinginan nya, Nabil mengangguk mengiyakan "Baiklah, Mas! Aku mengerti. Tapi kamu harus berjanji, kamu harus pulang dengan selamat dan dalam keadaan baik-baik saja, jangan sampai terluka walaupun itu hanya goresan kecil." cecap Nabil memperingati Faris, seolah dia bersikap seperti memperingati anak nya yang masih kecil.
__ADS_1
"Baiklah sayang ku, aku janji, dan aku juga janji akan pulang secepatnya."
Setelah menghabiskan sarapan, Faris juga sudah siap dengan jas di tubuh atletis nya, saat ini mereka sedang berada di pintu utama, Nabil menyalami dan mencium tangan sang suami.
"Aku pergi dulu ya, Anak-anak Abi, jagain Ummi ya, Abi pergi sebentar," celetuk Faris pada kedua calon anaknya.
"Baik, Abi! Hati-hati." jawab Nabil meniru suara anak kecil.
Faris terkekeh melihat tingkah sang istri, setelah mencium kening Nabil, Faris langsung masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah di buka oleh Diki.
"Hati-hati ya, Kak!" ujar Nabil, Diki hanya tersenyum dan mengangguk. Setelah itu mereka langsung meninggalkan kediaman Bagaskara.
"Ya Allah ... Lindungi lah suami hamba," Nabil pun masuk ke dalan rumah, dan menutup pintunya kembali.
...****************...
Satu jam di perjalanan, Faris dan Diki sudah sampai di markas tempat mereka menyekap Robert, Diki turun dan membuka pintu mobil untuk Tuan nya.
"Apa kamu siap, Ris?" tanya Diki yang juga mengkhawatirkan Faris.
Faris mengangguk, sedikit merapikan jas nya dan memakai kacamata hitam nya, kemudian dia melangkah masuk ke dalam dengan begitu pasti. jika ada wanita yang melihat Faris sekarang, mereka pasti akan mengagumi ketampanan yang di miliki Faris.
Sudah ada Max yang mengikuti langkah Diki dan juga Faris, dia tidak berani menanyakan apapun, melainkan memilih diam, karna dia juga tau tentang informasi Robert, karna dia dan Diki lah yang mengumpulkan bukti-bukti tersebut.
Akan tetapi Max tidak pernah tau tentang keadaan Faris dua hari ini, karna Diki menyembunyikan nya. Dia tidak ingin seseorang mengambil keuntungan dari kelemahan Faris, meskipun itu orang kepercayaan Faris.
Mereka bertiga kini sampai di dalam ruangan penyekapan, Robert.
Anak buah Max langsung mengeluarkan Robert dari dalam penjara kecil itu. Robert langsung meronta ingin di lepaskan, akan tetapi tenaganya tidak lah sekuat dulu, apalagi dia di tahan oleh beberapa orang dengan berbadan tegap.
Robert di ikat pada kursi tepat di hadapan Faris.
"Halo, Tuan, bagaimana keadaan mu selama di sini? Apa mereka melayani mu dengan baik?" tanya Faris pada lelaki paruh baya tersebut.
"Lepaskan aku, bedeb*h, aku tidak akan mengampuni kalian semua," teriak Robert begitu lantang mengancam orang yang ada di dalam ruangan tersebut.
Faris mengangkat alisnya, membuat mimik wajah seolah terkejut "Aku jadi takut. Tapi ku akui kesadisan mu memang patut di takutkan, sehingga membuat anak berusia delapan tahun harus kehilangan orang tua nya, dan juga hampir membuat anak itu gila," ucap Faris ambigu.
Robert terdiam, dia masih mencerna kata-kata yang keluar dari mulut Faris.
"Apa maksudmu?" tanya nya penasaran.
"Oh ... Kau begitu tertarik dengan cerita itu, hingga membuat mu begitu penasaran?" tanya Faris bertele-tele, senyuman sinis dia perlihatkan di bibirnya.
"Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kamu katakan," elak Robert.
Faris tersenyum sinis kemudian raut wajahnya berubah menjadi dingin, dan itu terlihat sangat menakutkan "Apa harus ku ceritakan sekarang juga, Tuan Herman Prananto?"
Deg....
__ADS_1
Jantung Robert seketika berdegup sangat kencang, dia bahkan sangat susah menelan ludahnya, apa lagi melihat aura mematikan di wajah Faris, rasanya urat-urat di tubuhnya putus saat melihat tatapan tajam yang Faris berikan.
"Apa yang kamu katakan, aku tidak mengerti," teriak Robert masih berusaha mengelak.
Faris Bangkinang berjalan mendekati Robert, ingin melayangkan satu tamparan untuk lelaki itu, akan tetapi dia tahan.
"Aku tidak akan mengotori tangan ku untuk memukul mu, biarkan karma yang membalas nya. Buktinya kita di pertemukan kembali karna anak mu yang tergila-gila pada ku," cerca Faris dengan senyuman menyeringai ke Robert.
"Jangan apa-apakan putri saya, saya mohon!"
Mendengar Robert memohon, ingin rasanya Faris mencekik leher pria tua itu, dan mengatakan betapa dia sakit nya saat di tinggal oleh orang yang paling dia sayangi, akan tetapi dia kembali mengingat pesan Mama dan Papa dalam mimpi nya, jika mereka tidak ingin kematian mereka di ungkit lagi.
"Aku tidak akan melakukan apapun, kamu hanya perlu menjalani hukuman apa yang telah kamu perbuat, setelah semua bukti sampai di tangan polisi, maka itu menjadi urusan mereka. Dan anak mu, tanpa aku lakukan apapun pasti juga akan bertambah depresi, karna mengetahui jika ayah nya seorang pembunuh, penyiksa dan koruptor,"
"Tahan kembali dia,"
Setelah memberikan perintah, Faris langsung melangkah keluar, sesuai janji yang Faris ucapan, dia tidak akan menyentuh Robert. Bahkan Max merasa sangat heran karna tidak biasanya Faria melepaskan musuh yang telah mencari masalah dengan dirinya. Apa lagi Robert adalah pelaku pembunuhan orang tuanya. Akan tetapi nasib Max hanya diam dengan penasaran nya, karna dia tidak berani untuk bertanya.
Faris dan Diki kembali menaiki mobil menunju jalan pulang "Apa kamu merasa lega?" tanya Diki.
Faris mengangguk, memang benar yang di ucapkan Nabil, ternyata dia lebih merasa tenang jika telah memaafkan dan menyerahkan semuanya pada pihak yang berwajib.
"Diki, berhenti sebentar di restoran biasa kita kumpul, aku ingin membeli makanan untuk istriku," perintah Faris yang langsung mendapatkan anggukan.
...****************...
Mobil Lamborghini keluaran terbaru berhenti di sebuah restoran, Diki ingin turun membeli nya, akan tetapi Faris langsung mencegah, karna dia ingin membeli sendiri makanan untuk istrinya yang tengah hamil.
Saat melangkah masuk, tiba-tiba seseorang memanggil namanya.
"Faris,"
.
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Salut deh sama babang Faris, dia memang teguh dengan janjinya.
__ADS_1
Jangan lupa Like komen dan juga Vote kakak ku sayang.